
“Bunda, bukankah aku tinggal di kampung ini? Lantas apa yang kulakukan di Jakarta?” Tanya Azlan ingin mengingat-ingat.
“Kamu merantau dan bekerja di sana. Kamu menafkahi kami semua. Kamu adalah tulang punggung kami, kamu membiayai sekolah adik-adikmu, kamu selalu mengirimi uang untuk bunda. Juga untuk biaya perawatan Sasha yang membutuhkan banyak uang. Shasa, adikmu yang bungsu sakit kanker. Dia butuh banyak uang,” jelas Dinda dengan mata berkaca. “Kalau sudah begini, apa mungkin kamu akan kembali ke Jakarta lagi untuk mencari lembaran rupiah sementara kamu aja nggak ingat dimana tempat kerjamu, siapa bosmu, dan apa pekerjaanmu.”
“Ya Tuhan…” Azlan mengusap wajah berusaha mengingat-ingat. Tapi Ya Allah… ia sama sekali tidak bis amengingat apapun, justru ia merasakan sakit di kepalanya berdenyut-denyut. Kemudian ia menggelengkan kepala untuk menghentikan usaha kerasnya itu.
“Tapi aku harus tetap ke Jakarta, Bunda. Aku harus menyelesaikan tugasku di sana. Bagaimana kalau ternyata aku masih memiliki tugas banyak yang belum kuselesaikan? Tentu itu akan menjadi hutang yang akan kubawa sampai mati,” jawab Azlan.
“Kamu benar Azlan, sebab sampai sekarang Bunda belum tahu, mobil yang kamu pakai dan sekarang menjadi bangkai reot di belakang rumah itu milik siapa? Bunda lihat di STNK namanya Alexa Lian. Mungkin itu mobil milik bosmu. Dan kamu dipercayai untuk membawanya. Kamu harus mempertanggung jawabkan. Tapi dalam situasi sekarang, kondisimu nggak memungkinkan, Azlan. Kamu harus menunggu hingga kondisimu pulih.”
“Ya, Bunda.” Azlan mengeluarkan STNK mobil dari dompetnya. Ia melihat nama Alexa Lian tertera di sana.
“Apa kamu yakin akan bisa menemukan bosmu? Pemilik mobil itu?”
__ADS_1
“Mudah-mudahan. Atas bantuan dan seijin yang Kuasa, semoga aku akan bisa menemukannya.” Azlan melipat STNK dan kembali memasukkannya ke dompet.
“Satu hal lagi, kamu harus menikah terlebih dahulu dan membawa Mekka turut serta bersamamu sebelum kamu pergi ke Jakarta. Sehingga Bunda tenang di sini, Bunda nggak akan resah memikirkan pergaulanmu di kota besar.”
Azlan masih diam.
“Azlan, kami selaku orang tua Mekka, merestui hubunganmu dengan Mekka,” sahut Veti. “Kami sudah sangat mengenal bundamu. Kami berteman sudah lama, dan hubungan kami baik. Ibarat pepatah mengatakan, buah tak akan jauh jatuh dari batangnya. Pepatah itu bibi yakin tepat untukmu. Sifat, kepribadian dan semua tentangmu nggak akan jauh dari bundamu. Kami sangat tahu dengan kehidupan dan perilaku baik bundamu, kami sangat menginginkanmu menjadi menantu kami.”
“Mudah-mudahan aku amanah, Bi,” jawab Azlan sembari mengangguk.
***
Seisi ruangan tampak tegang menatap Azlan dan Mekka yang duduk bersisian mengenakan pakaian berwarna serba gold. Entah apa yang membuat para hadirin merasa tegang, mungkin karena di rumah Mekka, akan melepas gadis cantik dan pria tampan idola kampung menjadi pasangan suami istri.
__ADS_1
Azlan sudah duduk di hadapan penghulu dan kemudian dengan lancar ia mengucap qobul sesaat setelah Anjas melafazkan ijabnya.
Seluruh hadirin kian tegang saat penghulu bertanya, “Bagaimana saki? Sah?”
“Saah…” jawab ebberapa saksi membuat ketegangan di wajah para hadirin memudar dan berganti dnegan wajah ceria.
Kalimat hamdallah menggaung, mengubah acara sederhana itu menjadi terasa ramai, kemudian lafaz doa disertai serentaknya hadirin mengucap aamiin mengubah situasi berbalik menjadi khidmat.
Kilatan kamera ponsel bertubi-tubi mengabadikan posisi saat punggung tangan Azlan berada di pucuk hidung Mekka.
Semua yang hadir mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin baru.
TBC
__ADS_1
Kabuuur.... 💃💃