Suami Sensasional

Suami Sensasional
Sembilan Puluh Enam


__ADS_3

Maap telat update.


Banyak banget yang mesti diurusin, ya ampun. Hu hu huuuu…


Ramein yaaa…


And than… aku udah bikin cerita ini di dalam plot yang rapiiii banget jadi ceritanya tuh nggak bisa diubah, kalo diubah mesti ngerombak ide cerita banyak loh. Jadi jangan protes kalo ada yang nggak sesuai sama harapan kalian. Oke cintah?


Aku crazy up loh demi kalian, so bantu dukung cerita ini dengan poin dan vote yaaaa


***


Detik berikutnya, Azlan mendengar Alexa memanggil namanya.


“Azlaaan!”


Azlan menoleh dan ia melihat Alexa sudah berada satu meter di dekatnya. Wanita itu menubruk dan memeluknya erat. Tangisnya pecah. Azlan membalas pelukan itu. Entah kenapa Alexa bersikap seakan-akan mereka akan berpisah sangat lama. Entah kenapa perasaan Azlan tidak tenang dan bersedih saat itu. Ditambah lagi dengan tangisan Alexa, sempurnalah rasa resah yang menyelimutinya.


“Aku pasti akan sangat kangen sama kamu,” bisik Alexa di telinga Azlan dengan suara serak. Ia akan jauh dari Azlan dan itu pasti akan membuat hidupnya merasa tidak lengkap. Azlan telah mengisi hidupnya dengan berbagai macam hal baru, hal yang membuat hidupnya terasa lebih sempurna.

__ADS_1


“Jaga diri baik-baik, sayang!” Kalimat itu kembali diucapkan oleh Azlan. “Aku mencintaimu.” Azlan mendaratkan kecupan di pucuk kepala Azlan.


Jantung Alexa berdebar mendengar kalimat itu. Baru kali ini ia mendengar kata-kata cinta meluncur dari mulut suaminya. Rasanya menyejukkan hati. Ternyata Azlan benar-benar mencintainya. Oh My God, kenapa sesdih ini saat harus berpisah dari Azlan? Ia tidak menyangka jika batinnya akan sepilu ini. Ia baru sadar ternyata Azlan memiliki peranan besar dalam hidupnya.


Alexa melepas pelukannya. “Jangan pergi dulu, Azlan. Tunggu aku pergi dan menghilang dari pandanganmu, baru setelah itu kamu pergi dari sini. Aku nggak mau ngeliat kamu pergi memunggungiku. Biar kamu aja yang ngeliat punggungku ninggalin kamu.”


Azlan mengangguk.


Alexa kemudian balik badan dan melenggang pergi.


Setelah Alexa hilang dari pandangan, Azlan melangkah pergi. Ia segera menuju ke mobil yang berada di parkiran. Mobil membawanya melesat meninggalkan panti.


Hari itu, Azlan dan beberapa orang yang ditugaskan untuk mengurus proyek segera berangkat menuju ke bandara. Arul yang menjadi asistennya pun turut serta.


Azlan buru-buru menjawab telepon. “Halo, Bunda!”


“Mas Azlan, ini Lala.” Suara Lala, adik paling besar Azlan terdengar bergetar dan terisak.


“Lala.. Lala, ada apa?” Azlan mendadak cemas. Ia sampai menegakkan posisi duduknya.

__ADS_1


“Bunda, Mas.”


“Bunda kenapa?”


“Bbbbzzzth…” Suara Lala putus-putus. Jaringan di kampung sangat buruk.


“Ya Tuhan, suaramu nggak jelas, Lala. Ada apa, Lala?”


“Bunda sakit keras. Bunda nggak sadarkan diri.”


Thut… Thut… Terputus.


“Ya Tuhan, ada apa dengan Bunda?” Azlan mengusap wajah kasar. Kecemasannya kian memuncak. “Sunil, berhenti di sini!”


Sunil mematuhi perintah Tuannya. Ia menepikan mobil dan berhenti.


Azlan yang duduk di jok belakang pun turun dan memutari mobil, dia memerintah Sunil agar turun dan memberikan uang pada supirnya itu. Dia mengatakan supaya Sunil pulang dengan naik taksi saja.


Azlan terburu-buru menyetir mobil menuju kampung halamannya. Ia menelepon general manager supaya menghandle proyek selama dirinya belum sampai ke lokasi. Dan ia juga mengatakan kalau ia membatalkan penerbangan dan akan terlambat hadir di lokasi.

__ADS_1


Azlan menyetir mobil dengan kecemasan yang memuncak serta dipenuhi rasa gelisah.


***


__ADS_2