
“Jangan biarkan aku menjadi suami jahat karena nggak memperdulikanmu. Aku sangat perduli padamu,” bisik Azlan.
Sunyi.
Hanya terdengar isakan tangis Alexa yang sesekali memenuhi ruangan.
Azlan kemudian melepas pelukannya, menatap wajah sembab di depannya. Ia mengusap rambut di wajah Alexa dan membawanya ke belakang telinga wanita itu. “Aku mohon, kamu juga berusaha untuk meninggalkannya. Plis!”
Alexa tidak menjawab. Ia memundurkan tubuhnya menjauhi Azlan. Kemudian menyambar tas di meja. Ia ingin keluar dari rumah itu. Entah kemana, atau lebih baik ke diskotik untuk menenangkan diri. Namun langkahnya terhenti saat melihat Azlan menghadang di depannya. Pria itu berdiri menyandar di pintu dengan tangan memegangi kunci.
“Shit!” Alexa melempar tas ke lantai hingga benda itu teronggok di bawah meja. Entah kapan Azlan mengunci pintu dan bahkan kunci sudah berada di tangan pria itu. Gesit sekali dia.
Rencana kabur dari rumah untuk mencari angin segar di club pun batal sudah.
***
__ADS_1
Pagi itu, Alexa terjaga. Manik matanya menatap jam dinding, menunjuk angka 04.35. Ia melihat Azlan berdiri di atas sajadah dan mengangkat takbir. Pria itu shalat dengan khusyu. Alexa ingat, beberapa menit sebelumnya, Azlan membangunkannya dengan cara mengelus lengan polosnya, menciumi lehernya, berbisik supaya ia bangun, namun ia hanya menggeliat dan mendorong dada Azlan supaya pria itu menjauh darinya. Azlan mengajaknya shalat subuh, namun ia hanya mengerang malas tanpa membuka mata.
Alexa kembali menatap Azlan, memperhatikan saat pria itu ruku’, sujud, dan berakhir dengan salam. Kemudian Azlan kini dalam posisi duduk bersila di atas sajadah sambil menggerakkan tasbih di tangannya dan mulutnya membisikkan kalimat indah tahlil. Usai berzikir, Azlan berdoa. Sederet kata-kata dia ucapkan dengan suara berbisik, namun karena situasi yang hening, telinga Alexa mampu menangkap diantara bisikan yang diucapkan.
“Ya Allah, berikanlah petunjuk dan hidayah-Mu kepada istri hamba, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan yang Engkau murkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Jauhkanlah dia dari segala marabahaya, jauhkanlah dia dari narkoba dan sejenisnya, berikanlah ampunan-Mu kepadanya. Bantulah Hamba untuk membimbingnya. Tiada lain yang bisa Hamba lakukan untuk istri yang Hamba cintai melainkan meminta petunjuk pada-Mu. Tiada lain yang Hamba harapka melainkan kerihaan-Mu. Engkaulah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, Engkaulah yang Maha Kuasa dalam segala hal, Engkaulah yang Maha mendengar dan Maha mengasihi. Aamiin.”
Alexa memejamkan matanya begitu Azlan bangkit bangun dan melipat sajadah. Ia pura-pura tidur. Dia mendengar ponselnya bordering, namun ia tidak mau menjawab karena posisinya saat itu sedang pura-pura tertidur pulas.
Azlan menghampiri ponsel Alexa dan melihat nama Jesy tertera di layar. Ia menjawab telepon.
“Aku Azlan.”
“Ups.” Jesy terkejut.
Azlan menjauh dari ranjang dan menuju balkon supaya pembicraaannya tidak terdengar oleh Alexa. “Barang apa maksudmu? Barang terlarang?”
__ADS_1
“Oh ya ampun, aku kebablasan ngomong. Iya, Alexa pesan barang dan dia pernah pesan pakai nomerku, jadi mereka menghubungiku. Alexa sudah terlanjur mengenal barang yang membuatnya ketergantungan.”
Azlan menghela nafas.
“Tapi kamu jangan vonus Alexa begitu buruk. Ada banyak hal yang menjadi penyebabnya. Hidup Alexa begitu rumit, banyak hal yang membuatya merasa terjebak di dunianya. Dia sempurna di mata banyak orang, tapi sayangnya nggak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi padanya,” lanjut Jesy seperti sedang membela dan memperbaiki nama baik Alexa di mata Azlan.
Azlan mengerutkan dahi, ada banyak sisi kehidupan yang Azlan belum ketahui dari diri Alexa. Ia benar-benar tertarik pada kehidupan wanita itu.
“Ibunya dibunuh di hadapannya, dan itu membuatnya sangat trauma. Dalam keadaan demikian pun, satu-satunya orang terdekatya nggak perduli padanya. Lihatlah, Pak Joan sibuk mikirin kerjaan, juga bersenang-senang dengan wanitanya. Ah, ya sudahlah, kututup teleponnya.” Jessy memutus sambungan telepon.
Azlan kembali menghela nafas panjang. Ia kemudian masuk ke kamar dan meletakkan ponsel ke sisi tidur Alexa.
Alexa mencium aroma wangi tubuh Azlan saat pria itu mendekat ke arahnya. Ia bahkan sadar sepenuhnya saat Azlan membenahi selimutnya dan mencium keningnya, lalu pria itu meninggalkan kamar.
TBC
__ADS_1