
“Kenapa marah, Beby? Ini tempatnya perempuan yang doyan laki-laki, minum, dan ngisap.” Leo tidak sedikitpun merasa bersalah telah menyentuh tubuh Alexa. Matanya malah melirik nakal ke tubuh Alexa yang terekspos meski sedikit merasa terancam melihat botol yang bisa saja membuat dadanya berlumuran darah.
“Aku bisa membuatmu disunat untuk yang kedua kalinya, mau?!” Alexa menyorong botol di tangannya ke arah Leo.
Merasa terancam, Leo memiringkan badan untuk menghindari.
“Kau yang membuat nafsuku naik, Baby! Bukan salahku jika aku menyentuhmu,” balas Leo masih dnegan seringaiannya.
“Diam kau!” Alexa kembali menyorongkan botol membuat Leo memundurkan tubuh. Meski dalam keadaan setengah marah, Alexa masih bisa menahan emosinya hingga ia tidak berbuat nekat. Ia melempar botol dan keluar club sembari menelepon Azlan. Berkali-kali ia menelepon pria itu namun Azlan tidak menjawabnya.
“Ya ampun, Azlan, kamu dimana? Ngeselin banget sih? Pas sedang dalam kondisi begini, bisa-bisanya kamu ngilang kayak jin kendi.” Alexa mematikan panggilannya saat menyadari ada dua pria mengikutinya. Ia melangkah cepat untuk segera meninggalkan area club. Sayangnya dua pria itu berlari mengejar. Alexa yakin mereka adalah kawanan Leo.
Sadar berada di tengaha ancaman, Alexa pun berlari menghindari. Sial! Sendal high heel di kakinya membuatnya kesulitan berlari. Dua pria yang mengejarnya semakin mendekat.
Ya Tuhan, ****** aku! Alexa membatin panik.
Bruk!
__ADS_1
Sial!
Alexa terkejut melihat sosok yang baru saja dia tabrak. Tak lain Leo. Huh, bukankah pria itu baru saja dia tinggalkan di club? Dia seperti tuyul saja, bisa muncul dimana-mana.
“Apa yang kamu inginkan, Leo?” kesal Alexa.
“Tanpa bertanya, kamu pasti tahu jawabannya. Kamu yang aku inginkan, Baby.”
Alexa menoleh ke belakang, dua pria yang mengejarnya sudah berada tepat di belakangnya. Sial, dia terperangkap.
***
Tubuh Alexa terlempar ke kasur dengan kedua tangan diikat ke belakang. akibat tubuhnya yang melayang dan kemudian terhempas, roknya pun sedikit tersingkap.
Leo tersenyum menatap Alexa yang tidak berdaya. Pria yang baru saja menggendong Alexa dan melemparkan tubuh itu ke kasur pun berjalan hilir mudik di depan ranjang sembari menyulut rokok.
“Aku nggak pernah minta banyak darimu, Lexa. Aku hanya ingin menikah denganmu, dan kau dengan enaknya menolak lamaranku. Apa kamu tahu seberapa besar rasa maluku akibat perlakuanmu itu? Nggak mudah menjadi orang ditolak.”
__ADS_1
“Ngaca lo! Kenapa aku menolakmu? Seharusnya kamu berkaca diri, dimana letak kesalahanmu, bukan kayak gini. Mana ada gadis yang mau diduain. Kamu udah pacaran sama cewek lain di belakangku, dan sekarang kamu menuntut agar aku menerima lamaranmu, cih. Aku nggak sudi.”
“Aku nggak perduli, Lexa. Kamu udah membuatku sakit hati.” Leo membuang punting rokoknya yang amsih panjang dan emnginjaknya dengan sepatu. Ia kemudian menoleh ke arah Alexa yang terbaring di ranjang. “Inilah satu-satunya jalan supaya kamu tahu bagaimana sakitnya disakiti laki-laki. Setelah ini, kamu boleh pulang dan menangislah. Carilah laki-laki mana yang akan rela menikahi wanita yang sudah ditiduri laki-laki lain.” Leo membuka kancing kemejanya satu per satu.
“Gila kamu! Azlan akan menghabisimu.” Alexa menggerak-gerakkan tangannya ingin melepaskan diri, namun ikatan di tangannya sangat kuat.
Leo malah terkekeh. “Azlan? Siapa dia?"
"Kau akan kencing di celana jika mengenalnya."
"Ooh.. Apakah dia adalah pria yang kudengar selalu mendampingimu?"
"Ya."
"Siapa pun dia, dia nggak akan tahu keberadaanmu. Fauzan, mantan securitymu itu udah mengkondisikan situasi supaya dia terlambat kembali ke club.” Leo naik ke ranjang. “Tenang saja Baby, aku akan melakukannya dengan pelan. Nikmati saja. Aku hanya minta satu darimu, keperawananmu.”
TBC
__ADS_1