Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Empat Puluh


__ADS_3

Di saat sendiri, Alexa kerap kali terkenang dengan masa silam yang membuatnya sampai kini takut dengan gelap. Ibunya meninggal dunia dibunuh tepat di hadapannya di kamar yang gelap. Itulah kali pertamanya Alexa melihat darah segar bersimbah di tubuh manusia. Ia hanya bisa bersembunyi di kolong tempat tidur sambil membekap mulut supaya tangisan dan jeritannya tidak terdengar oleh si pelaku sadis tersebut. Usianya masih terlalu kecil untuk memikul beban sedemikian berat. Ia tidak pernah berpikir kejadian seperti itu akan dialami dalam hidupnya. Ia menjadi saksi mata langsung yang melihat kekejian aksi penembakan itu. Dan kejadian itu memberikan bekas tekanan psikis sampai saat ini, yang memerlukan beberapa waktu lamanya untuk bisa pulih.


Trauma? Jelas. Alexa merasa hidupnya sangat mengerikan setelah kejadian itu. Dan ia selalu menangis setiap kali mengenangnya.


Ditengah penderitaannya menahan tekanan psikis, Alexa masih bisa mengantongi juara kelas. Tapi adakah yang merasa bangga dengan prestasinya tersebut? Tidak ada. Bertambahlah tekanan yang harus dia rasakan.


Setelah Alexa lulus SMA dan ia dikirim ke Jerman untuk melanjutkan pendidikan, ia mulai memberanikan diri, mencoba untuk melupakan dan berbaur dengan normal pada semua orang agar tekanan psikis yang ia alami berangsur pulih. Betapa berat perjuangannya supaya bisa bertahan hidup di tengah keadaan yang tidak normal. Tapi Alexa mampu menjalaninya meski harus memilih jalan keliru, berkenalan dengan barang haram. Ya, demi melenyapkan perasaan takut dan tekanan psikis yang kian menyiksa, Alexa memilih untuk menenangkan diri dengan cara mengenal narkoba. Tapi siapa yang tahu tentang itu? Hanya Azlan.


“Kenapa kamu menangis?” pertanyaan wanita paruh baya membuyarkan lamunan Alexa.


Alexa mengalihkan pandangannya dari anak-anak yang berlarian di kejauhan sana, kini matanya bertemu pandang dengan mata tua itu.

__ADS_1


“Aku kangen Ayah dan Ibu,” ucap Alexa menutupi segala yang ia rasakan. Ia selalu merasa cemas dan sedih setiap kali orang-orang yang ia sayangi menjauhinya. Baik itu bersikap cuek dan tidak perduli atau sekedar ditinggalkan oleh orang yang dia anggap penting ke luar kota, seperti sikap cuek Papanya selama ini yang menambah tekanan dalam dirinya kian memburuk, atau kepergian Papanya ke luar negeri saat jalan-jalan bersama Mama barunya. Dan sekarang, Azlan yang pergi entah kemana tanpa kabar hingga prasangka buruk pun hinggap.


Hari ini, entah kenapa ia merasa begitu cemas dan ingin menangis. Entahlah. Dia juga tidak bisa mengerti dengan apa yang ia rasakan.


“Wualaaah... Kangen aja kok ya sampai nangis to Nduk Nduk. Nah, sekarang kan sudah ketemu. Ayo, sekarang Ibu antar ketemu sama Ayah di dalam.”


“Nanti aja, Bu. Lexa beratnya kangen ke Ibu, kok.”


“Rasanya sudah lama kamu nggak main ke sini. Terakhir kamu main pas pertama kali kamu pulang dari Jerman bawa oleh-oleh makanan aneh dan mengabarkan kalau kamu udah lulus kuliah.”


“Kangen Kak Lexa,” seru mereka berebut menggapai pinggang ramping Alexa.

__ADS_1


Hati Alexa terasa damai mendapat pelukan dan rengekan anak-anak itu. Ia merasa penting dan dianggap di sana.


Alexa mengeluarkan uang seratus ribuan dari tas dan membagikan masing-masing selembar pada setiap anak.


“Yeeey...” sorak anak-anak.


“Buat beli alat tulis, yah! Nggak boleh buat beli yang aneh-aneh,” celetuk Alexa dengan gayanya yang tiba-tiba ceria dan penuh tawa, orang tidak ada yang menyangka jika dibalik tawa yang tampil, ada tekanan dan luka yang sulit untuk menuju sembuh.


Alexa terenyuh mendengar ucapan terima kasih dan kecupan singkat yang anak-anak berikan di pipinya. Hatinya sedikit terobati dengan semua ini.


***

__ADS_1


TBC


Bantu poin yaak. 😘😘


__ADS_2