
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Mekka, Azlan berpikir tentang Alexa. Ia ingat berbagai macam kejadian buruk yang menimpa istrinya itu, bahkan jauh sebelum pernikahannya dengan Alexa, wanita itu sudah diserbu dengan berbagai macam marabahaya hingga Pak Joan sampai harus menyewa bodyguard demi menjaga keselamatan putrinya. Bukan hanya itu, bahkan Pak Joan juga pernah diserang oleh perampok. Tentang Pak Joan yang pernah menarik tunai uang dan dirampok. Tentang Alexa yang pernah dikejar pria tak dikenal di club. Tentang Alexa yang hampir kerampokan saat pulang dari kantor malam hari. Tentang perampokan dua pria bertopeng di rumah Alexa. Tentang pria asing yang mengikuti Alexa di jalan sepi. Azlan berpikir, apakah kejadian-kejadian yang menimpa Alexa itu berkaitan?
Tak lama kemudian mobil sampai di depan rumah kontrakan. Ia bergegas turun dari mobil dan memasuki rumah sambil mengucap salam. Jawaban salam terdengar lembut menyahut dari dalam rumah.
Azlan mengernyit heran melihat Mekka tidak sendiri, ada banyak orang yang duduk menyertainya. Tak lain bunda Dinda, Tante Veti, dan Om Anjas. Azlan sudah tahu apa yang terjadi saat ia mendapati wajah-wajah tak bersahabat di sekeliling Mekka.
Om Anjas yang awalnya ramah dan bersahabat, kini tampak tidak enak dipandang mata. Tatapannya tajam, rahangnya menegang, urat-urat di wajahnya pun mencuat. Sama halnya dengan Tante Veti yang ekspresinya kini tampak tegang dan kulit wajahnya memerah. Dan Bunda Dinda, wanita yang selalu tersenyum di setiap saat, kini senyumnya pun tak terlihat lagi.
“Bunda!” Azlan mendekati bundanya, berlutut, mengambil tangan bunda Dinda dan menyalaminya lalu mencium punggung tangan bundanya itu cukup lama.
__ADS_1
Hening.
Bahkan suara dentang jarum jam dinding pun sampai terdengar begitu keras akibat keheningan yang tercipta.
“Apa kamu sudah ingat semuanya? Apa kamu sudah ingat masa lalumu?” tanya Bunda Dinda dengan sorot penuh pengawasan.
“Iya, Bunda. Aku ingat semuanya sejak saat beberapa hari sampai ke Jakarta.”
“Istriku.”
__ADS_1
“Bunda kecewa padamu, Azlan!” ujar Bunda Dinda tanpa menatap puteranya. Dia palingkan wajahnya ke arah dinding karena tak kuasa menatap wajah putera sulungnya.
“Bunda masih mempercayaiku, bukan? Tolong dengarkan aku dulu sebelum Bunda mengambil kesimpulan.” Azlan mengangkat wajahnya, menatap wajah bundanya dengan intens.
“Kenapa kamu menikahi wanita selain Mekka disaat kamu sudah menyanggupi untuk menikahi Mekka?” Bunda Dinda masih memalingkan wajah.
“Bunda, ada banyak hal yang nggak bisa aku kendalikan. Dan aku akui aku memang lemah, aku nggak sebaik yang Bunda pikirkan. Imanku bahkan nggak sekuat yang Bunda bayangkan. Aku terikat dan nggak bisa keluar dari ruang hidup Alexa, situasi dan waktu membuatku selalu bersama dengan Alexa. Sampai akhirnya kondisi memaksaku untuk menikahi wanita yang juga sebagai bosku. Disaat aku ingin membatalkan pernikahanku dengan Mekka, Tuhan justru membuatku dalam kondisi kecelakaan hingga membuatku sempat lupa dengan kejadian sebelumnya. Aku mengakui telah menjadi pria munafik karena harus mengingkari ucapanku sendiri. Aku mengakui kalau aku ini adalah pria yang lemah imannya, aku hanyalah lumpur yang kotor dan hitam. Aku bahkan nggak memiliki kuasa untuk dapat mengubah situasi. Maafkan aku, Bunda.”
“Azlan, kamu telah membuang kepercayaan Bunda. Ya, kepercayaan Bunda terhadapmu udah terkikis habis. Inikah balasanmu pada bundamu?”
__ADS_1
TBC