Suami Sensasional

Suami Sensasional
Empat Puluh Delapan


__ADS_3

Sesaat sebelum takbir, Azlan sempat bermunajat memohon taufik agar Allah mengaruniakan kekhusyukan saat mengerjakan shalat, karena khusyu adalah tanda orang beriman, calon penghuni surga. Itulah dambaannya sebagai insan mukmin. Mengharapkan kekhusyukan, yang tentunya akan memancarkan kedamaian jiwa dan ketenangan hati. Mengharapkan pintu-pintu kebahagiaan dan kesejahteraan yang dibukakan lebar-lebar.


“Allahu Akbar!” Imam mengangkat takbir.


Makmum mengikuti.


Azlan berusaha menghadirkan perasaan, bahwa saat ia sedang berdiri di hadapan Allah, Tuhan seluruh alam, yang mengetahui segala yang tersembunyi, Yang mengetahui bisikan-bisikan dalam jiwanya. Ia meyakini saat itu sedang bermunajat pada Rabbnya. Dan Azlan merasakan kedamaian seketika itu juga. Dia Yang Maha Menyayangi, terasa dekat, lebih dekat dari urat leher.


“Bismillahirrohmanirrohiim.”


Memasuki Imam membaca Al Fatihah, Azlan menghadirkan keyakinan bahwa saat itu dia sedang berdialog dengan Allah.


“Alhamdulillahirobbil’aalamiin.” (Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam).

__ADS_1


Azlan meyakini kalau Tuhan dari atas langit ke tujuh menjawab, “Hamba-Ku memuji-Ku.”


“Arrohmaanirrohiim.” (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”


Azlan meyakini kalau Allah menjawab, “Hamba-Ku memuji-Ku lagi.”


“Maaliki yaumiddiin.” (Penguasa di hari pembalasan).


Azlan kembali meyakini kalau Allah menjawab, “Hamba-Ku menyanjung-Ku.”


Azlan meyakini Allah menjawab, “Inilah batas antara Aku dan hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta…).


“Ihdinas Shirootol mustaqiim. Shirootol ladziina an’amta ‘alaihim ghoiril mafhdhuubi’alaihim waladh dhoolliiin.” (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Kau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat).

__ADS_1


Azlan kembali meyakini, Allah menjawab, “Inilah bagian hamba-Ku dan baginya apa yang dia minta.” (HR. Muslim no. 598)


Shalat usai.


Azlan mengambil mushaf dari dalam lemari masjid, mushaf berukuran kecil yang dibalut dengan tas seukuran mushaf. Azlan membuka resleting dan mulai melantunkan ayat-ayat suci. Mata Azlan tanpa sadar berkaca-kaca menatap huruf-huruf yang terangkai di sana, huruf-huruf yang tak lain adalah rumus-rumus Tuhan yang dahsyat maknanya, dan hanya Tuhan yang tahu persis maknanya.


Lantunan ayat-ayat yang keluar dari mulutnya membuat waktu berjalan terasa begitu cepat. Hingga tanpa sadar, atas rasa cintanya terhadap ayat-ayat suci Al Qur’an, Azlan telah menghabiskan setengah jamdi sana. Tak lama dia menyudahi bacaan dan memasukkan mushaf ke tempat semula setelah menciuminya penuh takzim.


Azlan meninggalkan masjid. Dia menyetir mobil keluar area masjid, melintasi portal yang otomatis terbuka sesaat setelah dia menekan tombol mini di dekat gerbang.


Mobil bergerak membelah kesunyian malam, situasi disaat begini terasa lengang, tidak seperti saat pagi hari, yang begitu padat dengan kendaraan bahkan sering kali terjadi kemacetan. Dalam situasi selengang itu, Azlan tidak perlu berpikir dua kali untuk mempercepat laju mobilnya.


Namun disaat tingkat kelajuan mobilnya berada di kecepatan tinggi, tiba-tiba dari arah samping muncul seseorang menyeberangi jalan. Seperti tuyul saja, muncul secara mendadak, membuat Azlan gugup untuk menghindari. Untung saja refleks ia langsung ngerem dan banting setir ke samping demi menghindari gadis itu, sayangnya mobilnya tidak sempurna berbelok, hanya belok sedikit saja. Hingga sesuatu yang mungkin buruk terjadi di depan sana.

__ADS_1


Azlan menunduk, masih memegangi bundaran setiran. Pelan-pelan ia mengangkat kepala dengan ekspresi penuh kekhawatiran. Apakah dia sudah menabrak seseorang? Tapi sepertinya mobilnya tidak menyentuh sesuatu apapun.


Tbc


__ADS_2