Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Sepuluh


__ADS_3

Kemudian Azlan memasuki kamar dan ia meletakkan tubuh Alexa ke kasur. “Beristirahatlah!”


“Kamu menyuruhku beristirahat? Aku nggak sedang mengantuk.”


“Beristirahat bukan berarti harus tidur. Kakimu sakit, lebih baik banyak istirahat biar cepat sembuh. Aku pergi.” Azlan balik badan.


“Tunggu!” Alexa menahan tangan Azlan, membuat pria itu menoleh.


Sesaat Azlan menatap tangannya yang digenggam Alexa, kemudian ia menatap Alexa. “Ada apa?”


“Kamu mau kemana?”


“Menjemput motor yang kutinggal di kantor.”


“Halah, telpon aja Arul dan suruh dia mengantar motor itu ke asalnya. Memangnya itu motor milik siapa? Kamu sebutin aja nama dan alamat lengkapnya, biar Arul yang antar ke alamatnya.”


“Gimana bisa? Kuncinya ada bersamaku.”


“Oh.. ya sudah, suruh aja Sunil nganterin kuncinya kepada Arul. Apanya yang sulit?”

__ADS_1


Azlan mengulumm senyum. Ia kembali menatap tangannya yang masih berada dalam genggaman Alexa. Kemudian ia mendekati wanita itu, merapatkan lututnya ke lutut Alexa. “Jadi ini artinya kamu nggak merelakanku melangkah jauh darimu? Kamu masih merindukanku?”


Alexa terkekeh. Ia kemudian bangkit berdiri. “Jangan ke pe de-an! Sok ganteng banget, sih?” Alexa mengalungkan kedua lengannya ke leher Azlan. Menempelkan ujung hidungnya ke hidung Azlan. Menyatukan kening mereka. Nafas keduanya bertukar. Untung saja saat itu Alexa mengenakan high heels, sehingga tidak sulit baginya mensejajarkan pandangan. Ukuran tubuh Azlan lebih tinggi dibanding Alexa, dan sendal high heels yang dia kenakan cukup membantu.


Azlan tersenyum tipis. Telapak tangannya dia letakkan di pinggang Alexa, kemudian bergerak sampai ke punggung.


“Beberapa bulan aku nggak ketemu kamu. Kamu jahat!” bisik Alexa dengan mata melebar.


Azlan diam saja, cukup membalas ucapan Alexa dengan tatapan teduh.


“Kamu tahu kenapa aku selalu kesal padamu? Kenapa aku selalu marah-marah padamu?” bisik Alexa lagi. telapak tangannya mengusap caruk leher Azlan.


“Karena kita memang sering nggak sependapat. Itu yang terjadi sejak awal.”


“Lalu?”


“Karena kamu diciptakan untuk membuatku jadi sependapat padamu. Dan kamu belum lakukan itu.”


Azlan mengangkat dagunya saat merasakan sentuhan lembut bibir Alexa di lehernya. Azlan merebahkan tubuh Alexa ke kasur. Ia menyusul.

__ADS_1


***


Azlan keluar kamar sembari melipat ujung kemeja lengan tangannya. Ia melintasi Weni yang melongo di ruangan depan. “Kenapa kamu, Wen? Jangan bengong, nanti kesambet,” ucap Azlan sambil terus emlenggang.


“Tuan Muda ganteng banget! Ups, kalau ketauan Non Alexa bilang begini bisa digantung di pohon cabe gue nih.” Weni menabok mulutnya sendiri. “Tuan, Nona Alexa di mana?”


Azlan yang sudah sampai di pintu hendak keluar pun menoleh. “Di kamar, kenapa?”


“Weeeh... Di kamar?” Weni mengamati penampilan Azlan, rambut masih basah, pasti baru saja keramas, serta kemeja yang baru saja diganti. Pria itu jelas sudah tidak mengenakan kaos kurir.


Azlan mengangkat dagu.


“Eheheee... Nanya aja, kok.” Weni balik badan sambil bicara sendiri. “Tuan Muda mentang-mentang pengantin baru siang-siang begini ajep-ajepan. Astaga. Kapan nikah?”


Azlan yang mendengar komentar Weni pun berlalu tanpa menanggapi. Mulut Weni kan memang bocor, jadi nggak heran kalau omongannya nyablak. Azlan menelepon Sunil, mengajak supirnya tu untuk keluar.


Sunil menyembul keluar dari dalam rumah. “Tuan Muda mengajak aku keluar?”


“Iya.”

__ADS_1


“Baik.” Sunil memasuki mobil yang sudah terparkir di depan rumah, kemudian menghampiri Azlan di teras. Azlan menyusul masuk ke mobil.


TBC


__ADS_2