Suami Sensasional

Suami Sensasional
Dua Ratus Sebelas


__ADS_3

Lala muncul dan memasuki kamar, gadis cantik yang kini sudah tumbuh dewasa, kuliahnya juga sudah hampir selesai.


“Lala, kamu juga ikut kemari?” Tanya Mekka.


“Iya, Kak. Aku ke sini bersama Bunda dan Kak Azlan juga. Kami mengantar Kak Azlan pulang ke rumah ini,” sebut Lala sekilas mengamati dinding rumah milik Alexa. “O ya Kak Mekka, bisakah Lala minta tolong?” Lala menghampiri Mekka.


Mekka mengangkat wajah menatap Lala. “Apa? Bilang aja!”


“Tolong bawa bayi-bayinya turun ke bawah, pertemukan bayinya sama Kak Azlan! Kasian Kak Azlan belum bisa ngeliat bayinya sejak si kembar lahir.”


“Jadi kamu bawa Azlan kemari?” Yakub menyahuti sambil meletakkan bayi ke box tempat tidur..


Lala mengangguk.

__ADS_1


Yakub mendekati Lala. “Lala, kita bawa Azlan ke tempat Alexa dulu, setelah itu barulah bertemu dengan bayi-bayinya.”


Lala terdiam.


Yakub kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Lala, ia membisikkan sesuatu dan Lala langsung menganggukinya.


“Lalu dimana Azlan sekarang?” Tanya Yakub.


“Tadi masih di mobil.”


Yakub pun langsung menuju ke luar, tampak Bunda Dinda dan Idris sedang membantu Azlan keluar dari mobil, kursi roda sudah menunggu di dekat pintu mobil untuk Azlan. Ya, untuk sementara waktu Azlan mesti harus memakai kursi roda selama beberapa bulan ke depan sampai kakinya benar-benar sembuh dan bisa kembali berjalan seperti sedia kala.


“Tunggu tunggu!” Yakub menghentikan gerakan Idris dan Bunda sehingga Azlan masih tertahan di dalam mobil. “Jangan turunkan Azlan dari mobil. lebih baik kita bawa Azlan ke tempat suatu tempat, baru pulang ke rumah.”

__ADS_1


Bunda Dinda dan Idris hanya diam sampai akhirnya Yakub menutup pintu mobil. Idris pun bergegas duduk di kursi kemudi bersiap memenuhi perintah Yakub.


Yakub dan Bunda Dinda turut serta mengantar.


Bingung, Azlan tidak mau banyak Tanya. Entah kemana Yakub akan membawnya, hanya untuk menemui Alexa pun harus pergi meninggalkan rumah.


Hanya ada tetes air mata yang berlinangan di pipi Azlan saat ia menghadap gundukan tanah yang masih basah. Di atas kursi roda, Azlan duduk menangis. Baru kali inilah ia menangis sesenggukan. Tertulis nama Alexa Lian di batu nisan, yang membuat Azlan kini terdiam dan meyakini bahwa istrinya benar-benar sudah tiada. Sejak kursi rodanya diturunkan di pemakaman umum dan didorong memasuki area kuburan, perasaan Azlan sudah kalang kabut. Setengah hati menduga-duga kalau bayinya meninggal dunia, namun setengah hati lainnya menduga kalau salah satu keluarganya ada yang pergi, entah siapa. Ia pun tidak berani bertanya karena takut mendengar jawabannya.


Kini, dia sudah dihadapkan pada nisan yang memberinya keyakinan bahwa istrinya sudah kembali kepada yang Maha Kuasa. Dia merasa shock sekali. Dia tidak mengira jika ternyata justru Alexa-lah yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


“Ya Allah… Kenapa Alexa? kenapa harus Alexa?” Isak tangis Azlan pecah. Azlan tidak peduli pada semua orang yang melihatnya menangis, tidak peduli dia akan terlihat lemah, tapi hatinya kini benar-benar merasa kehilangan, sedih dan sakit.


Bunda Dinda membungkukkan badan, melingkarkan lengan ke tubuh Azlan dan memeluk putranya itu erat-erat.

__ADS_1


Air mata Lala menganak sungai melihat kakak sulungnya tampak terpukul. Sungguh banjir air mata membasahi wajahnya. Bunda Dinda pun tak kuasa menahan air matanya, ia ikut menangis. Padahal awalnya ia hanya ingin menguatkan Azlan dengan memeluk putranya itu, tapi tangisnya benar-benar tidak bisa dielak lagi, sehingga kata-katanya hanya tertelan dalam hati.


TBC


__ADS_2