Suami Sensasional

Suami Sensasional
Delapan Puluh Delapan


__ADS_3

“Mulai sekarang, direktur operasional di perusahaan ini adalah Azlan, menantuku. Berikan sambutan baik kepadanya,” ucap Pak Joan disambut dengan gemuruh meriah tepuk tangan seisi ruangan.


Pak Joan bangkit berdiri dan mendekati Azlan, kemudian ia menjabat tangan Azlan dan memeluk sebentar. Setelah itu pak Joan meninggalkan ruangan.


Sungguh Azlan salut pada sikap Pak Joan yang tetap tampak professional meski sesungguhnya Pak Joan sedang dalam keadaan marah terhadap Azlan. Dia tidak menunjukkan kemarahannya, dia tetap bersikap baik di hadapan umum seakan-akan tidak ada masalah. Dia juga tetap mengangkat Azlan menjadi direktur opresional sesuai dengan keinginannya untuk dapat membuat Azlan memiliki pendapatan yang baik di keluarganya. Sungguh professional.


Usai pertemuan yang dilangsungkan dengan singkat serta diisi dengan ucapan selamat, Alexa mengajak Azlan menuju ke ruangan tempat Azlan akan memulai bekerja, ruangan itu sangat nyaman dan menenangkan.


“Ini ruanganmu. Kamu bisa bekerja dengan tenang di sini,” ucap Alexa dengan kedua tangan menyilang di dada.


“Alexa, kamu yakin memberikan semua ini padaku?” Azlan mendekati Alexa.


“Kenapa enggak? Kamu suamiku. Kamu layak mendapatkannya dan bahkan mengelola semua ini. Oke, aku pergi dulu untuk menemui papa.”


“Tunggu!”


“Kenapa?” Alexa kembali menatap Azlan.


Manik mata Azlan menatap wajah cantik Alexa dengan intens. “Aku masih nggak tau kenapa kamu melakukan semua ini untukku.”

__ADS_1


“Ini bukan atas kehendakku, tapi papa. Papa tahu apa yang terbaik untuk kita.” Alexa tersenyum kemudian memajukan wajahnya dan mendaratkan ciuman di bibir Azlan.


Beberapa menit berlalu dan ciuman itu belum berakhir. Alexa mengalungkan kedua lengannya ke leher Azlan.


Azlan memundurkan wajah saat sadar tiga menit telah berlalu.


“Aku pergi.” Alexa melenggang keluar ruangan. Ia menuju ke ruangan Pak Joan.


Alexa terbiasa tidak mengetuk pintu setiap kali memasuki ruangan. Dan ia langsung nyelonong memasuki ruangan papanya tanpa permisi terlebih dahulu. Tatapannya tertuju ke arah Kikan yang saat itu berdiri di samping meja Pak Joan. Ternyata pak Joan tidak sedang sendiri.


“Apa ada hal penting yang sedang dibicarakan di sini?” Tanya Alexa sambil mengarahkan pandangannya kepada pak Joan.


“Saya permisi, pak.” Kikan melewati Alexa dengan manik mata melirik ke arah Alexa kemudian melenggang menuju pintu.


Sepeninggalan Kikan, tatapan Alexa langsung teruju ke arah papanya.


“Kenapa wanita tadi masih bertahan di sini, Pa? kenapa papa nggak memecatnya?” Alexa melepas nafas kesal.


“Kenapa kamu ingin dia hengkang dari perusahaan ini?” Pak Joan terlihat santai, ia meneguk kopi dan kembali meletakkan gelas kopi ke meja.

__ADS_1


“Apa papa lupa dengan kejadian kemarin? Wanita itu mempermalukanku.” Suara Alexa meninggi.


“Bedakan urusan pribadimu dengan urusan pekerjaan. Kamu harus professional. Itu bukan kesalahan dalam pekerjaan, itu masalah pribadi.”


Astaga, Alexa sampai lupa kalau manusia di hadapannya itu memang manusia paling professional.


“Papa yakin wanita itu masih bisa dipakai di perusahaan ini? Apa kelebihan dan loyalitas yang dia miliki? Dia bahkan nggak memiliki kelebihan apa pun.” Alexa mengusap wajahnya kasar.


“Alexa, jangan limpahkan kemarahanmu pada urusan pekerjaan.”


“Seharusnya papa membelaku, bukan malah membela wanita itu. Kalau Papa nggak mau mengeluarkan surat pemecatan untuk Kikan, biar aku yang mengeluarkan surat itu dan memecat wanita itu.”


“Jangan sekali-kali memecat Kikan, kita bisa dipolisikan jika Kikan menuntut karena tidak ada alasan yang membuat Kikan harus dipecat. Papa tahu kamu sedang kesal pada Kikan karena masalah waktu itu, tapi tidak sepatutnya kamu bawa ke dalam pekerjaan. Harus berapa kali papa katakan ini?”


“Jadi Papa nggak mempermasalahkan soal ini? Jadi papa membiarkan wanita itu bersenang-senang di sini setelah dia melakukan hal menjijikkan itu?”


“Sudahlah Alexa, jangan bahas masalah ini lagi.”


Alexa melepas nafas panjan. Entah apa yang membuat papanya bersikeras mempertahankan Kikan di perusahaan itu. “Sampai kapan papa selalu membuatku kecewa?” Alexa balik badan kemudian meninggalkan ruangan pak Joan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2