Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Dua Puluh Tiga


__ADS_3

“Kenapa Sunil menyinggung soal topeng milikku? Justru yang membuatku merasa aneh, kenapa perampokan itu terjadi di saat Tuan Azlan sedang pergi bersama Sunil. Atau jangan-jangan semua ini adalah skenario Sunil. Orang dalam yang menjadi pengkhianat di rumah ini sebenarnya adalah Sunil,” ujar Arga membalikkan keadaan.


“Tidak. Semua itu fitnah,” sergah Sunil.


“Sudah, cukup! Aku nggak menuduh siapapun di sini. aku hanya ingin tahu apakah ada yang melihat sesuatu yang mencurigakan atau enggak, itu aja,” ucap Alexa membuat semuanya terdiam. “Idris, lain kali kuminta kerjamu lebih becus lagi, jangan kebanyakan ngelamun sampai-sampai keamanan di rumah ini nggak terjamin.”


“Baik, Nona,” jawab Idris patuh.


“Ya sudah, semuanya bubar. Kembali pada tugas masing-masing!” titah Azlan membuat seluruh asisten rumah tangga membubarkan diri. Pandangan Azlan kini tertuju ke arah Alexa. “Aku pergi ke kantor. Kamu tahu tugasmu apa kan?”


“Iya. Baca buku. Ya ampun.” Alexa menepuk keningnya dengan telapak tangan.


Azlan tersenyum.


“Eh, tunggu! Gimana kalau aku baca bukunya di kantor aja? Aku akan suntuk kalau berdiam di rumah.”


“Mmm...”

__ADS_1


“Jangan kebanyakan mikir!” Alexa menepuk lengan Azlan sembari mengalungkan kedua lengannya di leher Azlan.


Kalau sudah menatap ekspresi wajah Alexa yang begini, mana mungkin Azlan sanggup menolak permintaan istrinya. Azlan lemah saat menatap senyuman manis Alexa. Kepalanya pun mengangguk.


“Yess, kalau begitu, kita pergi ke kantor barengan. Tunggu aku ambil tas.”


Azlan mengangguk.


***


Sekarang giliran Arul yang merasa sedang diledek. Terlebih Azlan sambil senyum-senyum saat mengucapkan kata-kata tadi.


Arul yang tadinya kebetulan melintas di depan resepsionis, kini terlihat sibuk menanyai identitas gadis berambut sebahu itu dengan kalimat-kalimat bernuansa merayu. Gadis yang tak lain bernama Jesy itu mengaku ingin menemui Alexa.


Arul dengan ringannya mengatakan kalau Jesy diperbolehkan bertemu dengan Alexa. Bahkan dengan girangnya Arul menemani Jesy selama gadis itu menunggu Alexa datang di ruang tamu.


Proses perkenalan berjalan lancar. Jesy seperti memberikan sinyal untuk Arul, lelaki yang sama tampannya seperti Azlan. Penampilan juga oke. Hanya kalah di dompet. Kemudian terjadilah saling tukar nomor ponsel antara Arul dan Jesy.

__ADS_1


Arul meninggalkan Jesy ketika ponselnya berdering.


“Bosku nelepon, nih! Aku tinggal dulu, ya!” tukasnya seraya menatap nama Azlan di ponselnya.


Jesy mengangguk malu-malu.


Arul berpapasan dengan Alexa yang akan masuk ruang tamu saat dia berjalan keluar.


“Halo!” jawab Arul saat sudah keluar ruangan sambil menempelkan ponsel ke telinga. Namun anehnya, Azlan memutus sambungan telepon membuat Arul enjadi bingung. Detik berikutnya Arul baru tersadar kalau dia sedang dikerjain ketika ia menoleh dan menemukan Azlan sudah berdiri menyandarkan punggung di dekat pintu ruang tamu. Sahabatnya itu bahkan terbahak menertawakan ekspresi Arul yang memerah menahan malu.


Arul sadar kalau Azlan sengaja meneleponnya supaya dia meninggalkan Jesy. Tentu saja itu Azlan lakukan hanya untuk membuat proses pendekatan antara Arul ke Jesy menjadi kacau.


“Kena lo!” ucap Azlan kemudian melenggang pergi.


“Diih.. Ngeganggu aja!” protes Arul masih dengan wajah memerah, menahan malu. Dia kemudian tersenyum mengingat kejahilannya selama ini, ia sering menertawakan penderitaan Azlan. Dan sekarang giliran Azlan yang mengerjainnya, dan kemudian menertawakannya. Ternyata begini rasanya diketawain. Arul geleng-geleng kepala.


TBC

__ADS_1


__ADS_2