Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Enam Puluh Tujuh


__ADS_3

“Bunda mana?” tanya Alexa.


“Ke masjid sama Kak Rara, masjid yang nggak jauh dari sini, katanya Bunda mengikuti acara siraman rohani gitu, deh. Ada penceramahnya yang lagi tenar di TV itu,” jawab Lala.


“Loh, kenapa kamu di rumah? Kamu nggak ikut?” tanya Alexa lagi.


“Aku ngejagain Sasha di rumah, jadi nggak ikutan.” Pandangan Lala beralih ke tangan Azlan. “Kak Azlan, mana oleh-oleh buat kami?” ceplos Lalaenteng sekali.


Azlan tersenyum tipis. Dasar Lala, suka banget malakin. Belum lagi kalau Sasha yang muncul, pasti nyerocos minta dibawain oleh-oleh. Azlan sampai lupa membeli makanan untuk adik-adiknya gara-gara mengobrol banyak hal di sepanjang jalan bersama Alexa.


“Kakak nggak bawa oleh-oleh, mentahnya aja ya.” Azlan mengambil dompet dari kantong celananya kemudian menarik tiga lembar uang kertas dan memberikannya ke tangan Lala. “Itu untuk kalian bertiga. Harus dibagi-bagi, oke?”


“Asiiik... Yeey. Untuk bunda mana?”


“Bunda biar jadi urusan kakak.”


“Oke deh.” Lala berbinar menatap uang di tangannya. Kemudian ia berlari ke kamar sambil berteriak memanggil Sasha. “Sashaaa... Sashaaa... Liat deh Kakak dapet duit, Kak Azlan yang kasih duit buat kita.”

__ADS_1


Hanya beberapa detik saja Lala menghilang dari pandangan, berikutnya Lala kembali menyembul keluar. tapi tidak sendiri, ia bersama Sasha. Keduanya berlari menghambur mendekati Azlan. Sasha menggelayut di lengan Azlan.


“Kak, makanannya nggak ada? Atau boneka, kek. Atau bakso gitu,” rengek Sasha. “Sasha kepingin makanan enak-enak. Mana lagi laper-lapernya lagi.”


“Waduh, kami lupa beli makanan. He heee...” Bukan Azlan yang menjawab, melainkan Alexa. Wanita itu kemudian berkata, “Sasha, kamu yang namanya Sasha, kan?”


Sasha mengalihkan pandangan ke arah Alexa. Ia mengernyit kemudian mengangguk. “Iya, aku Sasha.”


“Dan ini Kak Alexa, Kakak ipar kamu, cantik nggak?” sahut Azlan.


Sasha mengangguk lagi. “Cantik banget. Kayak bintang film. Mm... Siapa ya? kayaknya Sasha pernah ngeliat, tapi dimana?” Sasha mengingat-ingat. Ia lupa jika pernah melihat wajah cantik Alexa di sosial media. Wajah itu sering muncul dan menjadi pemberitaan di media masa.


“Serius? Mau banget.” Sasha menjingkrak kegirangan.


“Kamu sukanya makanan apa?”


“Banyak. Banyak banget. Bakso, ayam penyet, kentaki, keripik ubi pedas, dan kue cincin.”

__ADS_1


Alexa dan Azlan bertukar pandang setelah mendengar sederet makanan yang disebutkan oleh Sasha.


“Semuanya dibeliin?” tanya Alexa kepada Sasha.


“Iya, dong,” jawab Sasha tanpa beban. “Kak Alexa kan banyak duitnya. Kalau beli makanan segitu aja nggak bakalan sulit. Iya kan? Liat deh, baju Kak Alexa aja bagus banget.”


“Oke, deh.” Alexa tertawa.


“Makasih ya Kak Alexa, kakak baik deh. Sama kayak Kak Mekka. Kak Mekka juga baik.”


Azlan terkejut mendengar ucapan Sasha. Ya ampun, padahal ia sudah berpesan pada ketiga adiknya supaya tidak menyebut nama Mekka di hadapan Alexa, tapi Sasha keceplosan menyebut nama itu. mungkin bocah itu lupa saking senangnya menerima tawaran Alexa.


Tuhan, bagaimana ini? Azlan kebingungan. Ia memalingkan wajahnya yang memanas ke arah samping sehingga tidak terlihat oleh Alexa. Semoga saja Alexa tidak memahami maksud ucapan Sasha.


“Lala, bawa Sasha ke kamar,” sahut Azlan.


Namun belum smepat Lala bergerak meraih tangan Sasha untuk membawa Sasha ke kamar, Alexa berujar, “Memangnya Mekka itu siapa?”

__ADS_1


“Kakak iparku juga dulu. Kenapa kakak iparku mesti diganti? Kenapa Kak Azlan mesti mengganti kak Mekka dengan Kak Alexa?” polos Sasha membuat Alexa terkejut seperti tersambar petir mendengarnya.


TBC


__ADS_2