
Mekka duduk di ruang tunggu dengan kaki menyilang, pandangannya fokus ke layar laptop, tangannya mengetik. Saat itu ia sedang menunggu Pak Syarif yang sedang meeting dengan Yakub. Ia tidak ikut meeting karena harus menyelesaikan pekerjaan yang tidak bisa ditunda atas perintah Pak Syarif.
Beberapa bulan terakhir, Mekka memang sering menginjak gedung kantor perusahaan milik Pak Joan, yang sekarang dipimpin oleh putrinya, Alexa Lian dan dikelola oleh Azlan, suaminya. Pak Joan lepas tangan atas perusahaannya itu dan memberikan kesempatan pada Alexa untuk mandiri, sebab penerus perusahaan tersebut adalah putri semata wayangnya. Dan pak Joan hanya akan menerima hasilnya saja dari saham yang dia miliki. Namun ia puas dengan hasil kinerja yang dijalankan oleh Azlan, sebab grafik perkembangan pendapatan meningkat setelah perusahaan dikelola oleh Azlan.
Akibat dari urusan bisnis yang Mekka jalankan, ia pun jadi terlalu sering berhubungan dengan perusahaan itu, berinteraksi dengan Azlan, Yakub dan Arul. Dari hubungan baik yang terjalin, Mekka menyadari satu hal, hubungannya dengan Azlan kini terjalin seperti rekan bisnis.
Mekka mengangkat wajah saat melihat sepasang sepatu di hadapannya. Ia tersenyum melihat Azlan yang berdiri di sana.
“Bagaimana? Apakah urusan Pak Syarif dan Yakub sudah selesai?” Tanya Azlan.
“Sepertinya belum. Mereka masih membicarakan banyak hal di dalam,” jawab Mekka sambil berdiri menyambut kedatangan Azlan.
“Ooh… O ya, kamu bisa makan atau minum di tempat makan yang sudah disediakan. Jangan sampai kelaparan karena ini.”
“Jangan khawatir, aku akan atasi untuk urusan itu.”
“Atau perlu kupanggilin OB untuk membawakan air minum untukmu?”
“Nggak usah. Aku juga udah selesai dan sebentar lagi akan turun ke bawah.”
“Luar biasa, kamu bener-bener mandiri.”
Mekka tersenyum tipis. Ya, tentu ia harus mandiri. Dia sudah hidup sendiri sekarang dan dia membiayai hidupnya sendiri, tanpa seorang suami.
“Apa kabar Alexa sekarang? Lama aku nggak ketemu dia,” Tanya Mekka.
“Baik. Kehamilannya sudah semakin membesar. Dia sedang menunggu masa-masa lahirnya buah hati.” Azlan enggan menyebut kata ’kami’ saat mengatakan kalau keluarga kecilnya sedang menanti sang buah hati. Ia lebih memilih kata ‘dia’ saja tanpa mengikut sertakan dirinya yang sedang menunggu buah hati. “Dan dalam masa cuti ini, Alexa melakukan kegiatan-kegiatan ringan yang mungkin bisa memperlancar proses persalinan.”
“Kamu harus sering-sering menemaninya, wanita saat hamil pasti lebih membutuhkan kehadiran suami.”
Kehadiran Yakub dan Pak Syarif mengalihkan perhatian Mekka.
“Nona Mekka, maaf jika terlalu lama menunggu,” celetuk Yakub.
“Nggak apa-apa. Cewek memang terbiasa menunggu,” seloroh Mekka yang langsung ditanggapi dengan gemuruh tawa oleh tiga pria itu.
“Bukannya cowok ya yang biasanya punya tugas menunggu? Dan cewek tuh sukanya bikin cowok nunggu, bener nngak?” Yakub mulai bisa mengajak bergurau.
__ADS_1
Sontak saja Azlan terkekeh.
“Saya kok tidak mengerti ya dengan pokok pembahasan anak muda? Ha ha haaa…” Pak Syarif sok kuper.
“Masa muda Pak Syarif pasti lebih berkesan dari kami.” Azlan berkomentar. “Ya sudah, sekarang saya duluan. Saya harus segera pulang.” Azlan melenggang pergi.
Mekka dan Yakub bertukar pandang.
“Bagaimana kalau kita makan bersama? Ini memang masih sore, tapi itung-itung saya ingin menraktir.” Yakub menawarkan.
“Setuju. Saya memang sudah lama tidak ditraktir anak muda.” Pak Syarif menyahut sambil terkekeh.
“Bagaimana, Nona Mekka?” Yakub menatap Mekka.
“Ya ya. Boleh.” Mekka tersenyum sambil mengangguk.
Mereka bertiga melangkah menuju lift.
***
Suara musik slow terdengar merdu memenuhi mobil. Azlan menghentak-hentakkan jarinya di bundaran setiran seiring irama yang melantun. Sebentar lagi ia sampai di rumah, ia sudah rindu dengan suara manja Alexa, yang sering minta dipijitin saat malam tiba, yang sering minta gendong saat akan naik ke ranjang, yang sering minta cium saat akan tidur, dan masih banyak lagi.
“Sayang, jemput aku di mol,” sebut Alexa di seberang.
“Mol? Kamu ke mol kok nggak ngomong sama aku?”
“Memangnya kalau ngomong mau diapain? Apa kamu mau nemenin aku?”
“Seenggaknya aku tahu dimana keberadaanmu. Ya udah, kamu dimana biar aku jemput?”
“Di mol biasa, tempat kita sering belanja.”
“Oke, oke.” Azlan memutar arah mobilnya meski sebenarnya mobilnya itu sudah hampir sampai ke rumah.
Sesampainya di mall, Azlan menghampiri tempat dimana Alexa sedang berbelanja. Pertama-tama, Azlan mengelus singkat permukaan perut Alexa yang sudah membesar, usia kandungan sudah memasuki Sembilan bulan.
Azlan kaget melihat setumpuk perbelanjaan yang dibeli oleh Alexa. mulai dari keranjang pakaian bayi, selimut bayi, pakaian bayi dan lain sebagainya.
__ADS_1
“Sayang, ini kamu belanja segini banyaknya?” Azlan menunjuk setumpuk belanjaan.
“Iya. Untuk persiapan baby kita.”
“Sebanyak ini?”
“Hm.” Alexa mengangguk ringan.
“Kenapa nggak mengajakku aja kalau mau belanja segini banyaknya?”
“Aku suntuk di rumah. Aku nggak perlu menunggumu saat akan berbelanja bukan?”
Azlan tidak bisa menggurui lagi. “Weni mana?” Azlan celingukan mencari sosok yang ditugaskan sebagai pengawal Alexa.
“Tuh!” Alexa menunjuk Weni dengan dagunya.
Weni cengengesan makan es krim, duduk di balik manekin.
“Mulutmu belepotan!” ucap Azlan membuat Weni langsung mengusap sekeliling mulut dengan tangan.
Azlan kembali menatap setumpuk belanjaan. Bagaimana caranya ia membawa barang-barang itu ke mobil? Azlan meminta jasa pegawai untuk mengantar belanjaan ke mobil, namun pegawai toko menolak mengingat pengunjung sedang ramai. Terpaksa Azlan mengangkati barang-barang tersebut ke mobil, bolak-balik karena barang beralanjaan tidak bisa dikerjakan dalam sekali angkut.
“Ada lagi yang perlu dibeli?” Tanya Azlan saat sudah berada di mobil. “kalau ada yang mau dibeli lagi, biar aku carikan. Kamu tunggu di mobil aja.”
Alexa berpikir, kemudian menggeleng. “Kita jalan pulang aja.”
“Mau berhenti makan di restoran nggak?”
“Makan di rumah aja. Aku kangen masakan di rumah,” jawab Alexa ringan.
“Oke.”
“Aku kesulitan pasang sealtbelt.” Alexa menatap perutnya yang sudah besar. “Khusus untuk bumil, diperbolehkan nggak pakai selatbelt,” tukasnya sambil terkekeh.
Azlan mengusap singkat permukaan perut Alexa, kemudian menjalankan mobil. Kegiatan usap perut seperti sudah menjadi hal wajib bagi Azlan, sehingga setiap pertemuannya dengan Alexa, entah berapa kali ia mengusap perut istrinya itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Cerita ini akan menuju ending alias akan tamat.
Silahkan berimajinasi ria, seperti apa endingnya. He heee….😁😁