
Tak lama kemudian Alexa muncul dari arah dapur. Dia membawa dua gelas kopi.
“Taraaaa... Kita minum bareng, yuk! Ini kopinya aku sendiri yang buat. Kamu harus cicipi kopi buatanku. Setelah itu kamu baru boleh tidur.” Alexa menyorong satu gelas kopi ke arah Azlan sementara satunya dia letakkan di meja dekatnya berdiri.
Azlan menjulurkan tangan hendak mengambil kopi yang diberikan. Naas, saat kopi sudah di tangannya, kopi panas malah tersenggol dan tanpa sengaja menumpahi kemeja Azlan.
“Arrgh...” Azlan spontan mengibas-ngibaskan kemejanya. Seketika itu rasa panas merayap di kulitnya.
“Ya ampun!” Alexa merasa bersalah atas insiden itu. Kedua tangan kecilnya buru-buru membuka kancing kemeja Azlan untuk melakukan aksi pertolongan pertama pada kecelakaan itu.
Azlan yang panik dan kepanasan, hanya bisa terus mengibaskan kemejanya dengan tubuh agak membungkuk supaya kemeja tidak melekat di kulitnya. Andai ia sadar sepenuhnya dengan apa yang dilakukan Alexa, tentu dia akan menolak saat tangan-tangan lentik itu membantunya membuka kemeja.
Kemeja sudah terlepas.
Alexa terkejut melihat kulit perut six pack Azlan yang ruam bekas siraman kopi. Bagaimana kulit Azlan tidak langsung memerah? Alexa menyiram kopi dengan air mendidih yang langsung disajikan ke hadapan Azlan. Tentu saja panasnya jos. Untung tidak melepuh.
Azlan menatap kulit perutnya yang ruam. Dan ia mengernyit saat sadar jari lentik Alexa tengah mengolesi salep ke kulit perutnya.
“Aku bisa melakukannya sendiri.” Azlan menjulurkan tangan hendak merampas salep dari tangan Alexa.
Alexa menjauhkan salep, membuat tangan Azlan tidak bisa menjangkaunya. Alexa mendorong dada Azlan hingga pria itu berjalan mundur dan tumitnya membentur sofa lalu terduduk dengan pasrah di sana. Alexa duduk di sisi Azlan dan melanjutkan pekerjaannya, mengolesi kulit keras dan berotot yang ruam.
“Sudah!” Azlan menyingkirkan tangan Alexa dari perutnya. Kemudian kepala Azlan celingukan mencari sesuatu.
“Nyariin apa?” kepala Alexa ikut-ikutan celingukan.
__ADS_1
“Kemejaku mana?”
Alexa meraba sofa di belakangnya lalu memperlihatkan kemeja yang Azlan pakai tadi. Azlan terbelalak melihat bahu kemeja yang robek. Saking fokus dengan rasa panas di perut, Azlan sampai tidak sadar kalau tadi Alexa menarik kemejanya sangat kuat hingga akhirnya robek saat melepasnya dari tubuh Azlan akibat panik.
Alexa tersenyum menatap Azlan yang bertelanjang dada tanpa kemeja.
“Aku ke atas.” Azlan bangkit berdiri sembari menjinjing kemejanya yang robek. Naas, insiden kedua pun terjadi. Azlan tersandung kaki Alexa yang melintang di bawah meja hingga tak terlihat olehnya, tubuh besar Azlan terjatuh menimpa Alexa di bawahnya.
“Azlan!”
Azlan terkejut dan menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Pak Joan berdiri di tengah-tengah ruangan.
Azlan terkejut, namun ia berusaha menampilkan ekspresi biasa saja. Ia buru-buru bangkit dan berdiri, menainggalkan Alexa yang masih berdiam duduk di sofa. Kenapa kejadiannya selalu begini? Kenapa Pak Joan selalu saja memergokinya saat dalam kondisi salah paham begini?
Pak Joan menatap Azlan yang bertelanjang dada, manik matanya kemudian bergerak menatap kemeja Azlan yang robek.
“Pak, jangan salah paham. Lihatlah kulit perutku ruam. Akibat tersiram kopi panas. Dan aku menanggalkannya. Baru saja aku tersandung dan terjatuh, inilah yang sebenarnya terjadi.” Azlan menjelaskan.
“Ini sudah tiba waktumu untuk bicara. Tidak ada alasan lagi, kau harus menikahinya! Titik!” Pak Joan melenggang pergi tanpa memberi waktu lagi pada Azlan untuk menjelaskan.
Nah, giliran ngebahas masalah nikah putrinya, Pak Joan ingat. Giliran ngerayain ulang tahun putrinya, dia lupa. Ya ampun.
Azlan menatap Alexa yang hanya diam dan mengedikkan bahu membalas tatapan pria itu. Wanita itu seakan tidak perduli dengan kejadian barusan. Setahu Azlan, Alexa tidak menyukainya, lantas kenapa Alexa diam saja saat papanya member maklumat agar mereka menikah. Azlan tidak tahu jika Alexa bersorak atas maklumat papanya itu.
“Nona, katakana sesuatu!” ucap Azlan meminta bantuan supaya Alexa ambil tindakan.
__ADS_1
“Halah, suruh kawin aja kok bingung. Ngucap, trus ah ih uh, udah. Nggak repot.” Alexa melenggang pergi menaiki anak tangga. Meninggalkan Azlan yang terpaku sendirian.
Alexa memasuki kamar. Ia merogoh kantongnya dan mengambil kertas pemberian Azlan.
Penuh penasaran, Alexa membuka secarik kertas di tangannya.
‘Dan mintalah ampun kepada Tuhan kamu, kemudian kembalilah taat kepada-Nya. Sesungguhya Tuhanku Maha Mengasihani, lagi Maha Pengasih.’
Alexa termenung membaca sederet kata-kata itu.
TBC
Waw waw.. ada yg mengalahkan top votter yg kemarin nih, sekarang vote teratas berubah :
Rafa Khairo
Syska Cahyani
Green Nayra
Tengkyuh untuk tiga nama teratas. kalian luar biasa... 😘😘😘😘
__ADS_1
Ada yg mau ngebut dan ngalahin nama yg kusebutkan gak?