
“Kamu tahu kalau aku juga mencintaimu, bukan?” ketus Alexa menatap Azlan sinis.
“Iya, aku sangat tahu.” Azlan tersenyum sambil menjentik pipi Alexa dengan telunjuk.
“Aku cemburu banget mengenang dan membayangkan hal-hal tentangmu dengan Mekka.”
“Jangan dibayangkan. Mekka juga memiliki kehormatan yang mesti dijaga dan aku nggak akan mungkin membuka semuanya kepadamu.”
Alexa diam.
“Kita pulang yuk!” Azlan menatap ke atas, melihat mendung yang mulai bergumpal. “Bentar lagi hujan. Kita bisa kehujanan.”
“Pulanglah!” Alexa menatap ke arah jalan tanpa ingin menatap lawan bicaranya.
“Aku akan tetap di sini kalau kamu masih bertahan di sini.”
“Ya sudah.”
Azlan geleng-geleng kepala. “Apa perlu kugendong?”
“Jangan edan!” Alexa menatap Azlan dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
“Peace! Canda!” Azlan mengangkat dua jari.
Alexa bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah jalan. Azlan terenyum kecil melihat kepergian Alexa. Ia kemudian berlari mengejar Alexa dan mengiringi langkah wanita itu.
Di jarak sekitar dua puluh meter dari gerbang rumah, hujan turun sangat deras. Azlan menarik tangan Alexa dan mengajaknya berlari untuk menghindari hujan, namun Alexa menahan tubuhnya. Azlan pun akhirnya mengalah, ia masih setia menjajari langkah Alexa di bawah guyuran hujan deras. Istrinya itu sedang merasa sangat sensitif sehingga masih belum bisa berdamai dengan Azlan.
Alexa langsung ngeloyor menaiki anak tangga begitu sampai ke rumah. Ia tidak peduli dengan keberadaan Atika yang sedang menangis tersedu di ruangan yang dilintasi. Ia sudah pusing dengan urusan hidupnya, dan tidak mau
Azlan memelankan langkahnya dan menoleh ke arah Atika yang kebetulan juga tengah menoleh ke arahnya.
“Apa kau mau menertawakanku?” ujar Atika disela isakannya.
Azlan mengernyit. “Menertawakan? Kenapa?”
Azlan tidak tahu harus bicara apa. “Kupikir kamu nggak perlu merasa terluka, disaat kamu memutuskan untuk menikah dengan pria yang usianya dua kali lipat darimu, tentu kamu udah mengetahui konsekuensinya.”
“Sudahlah, aku nggak mau malah curhat di sini. Aku udah minta pisah dari suamiku, dan setelah ini aku akan menuntut smeua harta gono gini.” Atika bangkit dari duduknya kemudian berjalan keluar.
Azlan geleng-geleng kepala heran, Atika masih begitu labil namun bersedia menikah dengan lelaki tua hanya demi materi. Dan sekarang dia mengeluh dengan penderitaan yang dia alami. Pada saat Atika mendapatkan Joan, tentu Atika sudah tahu bahwa Joan gemar dengan daun muda. Lalu, apakah dia tidak berpikir jika Joan akan kembali mencari daun muda meski sudah memiliki yang lain? Ya sudahlah, Azlan tidak ingin memikirkan hal itu lebih jauh lagi. Rasa dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya membuatnya beranjak naik ke lantai atas dan segera menukar pakaian. Ia tida menemukan Alexa di kamar. kemana wanita itu?
Azlan membaringkan tubuh di tepi ranjang. Sudut bibirnya tertarik mengingat sejarah yang tercetak di ranjang itu.
__ADS_1
“Tuan Muda! Kok, senyum-senyum sendiri?”
Azlan terkejut mendengar suara barusan. Ia menatap Weni yang netah sejak kapan sudah berada di tengah-tengah ruangan mengamati dirinya.
“Kayak lagi kasmaran gitu, Tuan? Hayooo.. ini bukan lagi kasmaran sama wanita lain, kan?” celetuk Weni.
“Kamu jangan nyeleneh. Mau ngapain?”
“Saya tadi lupa melepas sprei, Tuan. Itu spreinya mau saya cuci.”
“Ooh.” Azlan bangkit bangun. “Kamu lihat Alexa nggak?”
“Nggak tahu, Tuan Ganteng, eh maksudnya Tuan muda. Nih lambe suka kelepasan kalau ngomong. Harap dimaklumi ya, Tuan.”
“Asal jangan begitu di hadapan Alexa, nanti mukamu bisa dicuci sama sambel.”
“He heee...” Weni terkekeh sambil melepas sprei. Seiring dengan ujung sprei yang ditarik, sesuatu terjatuh ke lantai. Tak lain sebuah kertas. Dan kertas tersebut tentunya sengaja ditaruh di bawah spring bed.
Azlan segera meraih kertas tersebut. Ia membuka lipatannya.
“Hah?” Azlan terkejut membaca kertas tersebut. Alexa hamil? Dan Alexa tidak memberitahukan kepada Azlan perihal kehamilannya itu?
__ADS_1
BERSAMBUNG