Suami Sensasional

Suami Sensasional
Empat Puluh Satu


__ADS_3

Azlan menuju ke ruangan Pak Joan dengan tenang. Ia sudah bisa menguasai diri meski ia tahu seperti apa Pak Joan. Direktur bermuka sinis yang tidak pernah tersenyum. Walaupun Azlan pernah berjasa dan menyelamatkan Pak Joan dari masalah besar, tapi apakah jasanya itu akan tetap terlihat jika sudah tertutup satu kesalahan? nila setitik, hilang susu sebelanga, pepatah itu hampir menjadi simbol tepat untuk semua orang.


Sekarang apa yang membuat Pak Joan ingin bertemu dengan Azlan? Akankah dia membicarakan masalah di lift? Atau ia sudah menyiapkan surat pemecatan? Atau saat ini Pak Joan sedang mengepalkan tangan karena ingin menonjok muka Azlan? Putrinya yang seharusnya dijaga oleh Azlan malah menjadi sasaran empuk untuk Azlan. Mungkin kalimat itu akan menjadi senjata Pak Joan untuk menghakimi Azlan.


Segudang pertanyaan melintas di pikiran Azlan. Tangan Azlan sudah menyentuh handle pintu ruangan direktur utama. Dadanya naik seiring dengan tarikan nafas. Kemudian pintu terayun dan terbuka setelah ia mengetuknya.


Pak Joan duduk di kursinya, membelakangi pintu. Hanya ujung kepala saja yang terlihat. Perasaan Azlan mulai tidak nyaman. Kakinya melangkah masuk.


Pintu di belakangnya otomatis tertutup.


“Bapak memanggil saya?” Azlan mendekati meja. Ada dua kursi di depan meja direktur, tapi ia tidak mau duduk di salah satunya. Itung-itung, jika Pak Joan memakinya, maka ia akan dengan cepat melenggang pergi. Lebih baik pergi dari pada melayani amarahnya. Ah, kenapa ia jadi suudzon? Tidak. Ia tidak mau suudzon. Ini gara-gara Arul, pikirannya jadi tidak karuan.

__ADS_1


Kursi direktur masih menghadap ke kaca yang langsung bisa menghubungkan dengan pemandangan di bawah bila duduk di sana. Lama lelaki di kursi itu diam. Jantung Azlan semakin tidak nyaman. Sikap Pak Joan yang suka angin-anginan itu membuat batok kepalanya dipenuhi dengan banyak terkaan. Terkadang sikap baik orang justru disambut marah, bahkan malah yang salah kadang didiamkan.


Kursi bergerak dan berputar, kini menghadap ke arah Azlan. Tatapan mata Pak Joan tajam mengarah ke mata Azlan.


“Ada yang perlu dibicarakan, Pak?” tanya Azlan setelah lama Pak Joan hanya terdiam dalam tatapannya yang beku.


Tidak menjawab, Pak Joan menggoyang kursinya hingga berputar ke kiri dan ke kanan. Lalu meletakkan tangan ke atas meja dan kembali menatap Azlan dengan pandangan yang sulit diartikan, tajam dan menusuk.


Azlan diam, apa yang harus ia katakan? Pekerjaan yang ia terima adalah berkat tawaran pak Joan sendiri.


“Aku membutuhkan tenagamu,” ucap Pak Joan menjawab pertanyaannya sendiri. “Jadi… Sekarang kuminta kau pelajari ini dan bantu aku mengeceknya dengan teliti. Aku percaya padamu. Aku tahu kau itu cerdas dan cekatan.”

__ADS_1


Azlan melepas napas lega. Ternyata soal pekerjaan. Ia pikir, Pak Joan akan membahas tentang Alexa.


“Segera saya kerjakan. Secepatnya akan saya serahkan ke Bapak jika sudah selesai.”


“Tidak usah terburu-buru, yang penting benar. Itu aja.”


Azlan mengangguk. Meraih setumpuk kertas di hadapannya, lalu menariknya hingga mendekat ke arahnya. Dahinya berkerut saat mendapati tulisan yang tertera di bagian depan kertas.


“Tapi Pak, ini bukan soal mengenai Alexa. Ini mengenai…”


“Yaa… Itu laporan bulanan keluar masuk uang perusahaan kecil yang dipegang istriku. Kerjakan saja. Jangan banyak tanya.” Pak Joan mengibaskan tangan ke sembarang arah dua kali.

__ADS_1


TBC


__ADS_2