Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Delapan Puluh Enam


__ADS_3

Suara ketukan pintu membuat arah pandang Azlan dan Alexa tertuju ke pintu. Alexa bangkit berdiri. Tak lama pintu didorong dari luar dan Arul masuk.


“Permisi!” Arul melangkah ke tengah-tengah ruangan.


Alexa melangkah agak menjauh dari Azlan. “Ada apa?” tanyanya pada Arul sambil membuka pola ponselnya.


“Ada tamu, Nona,” jawab Arul.


“Siapa?”


“Pak Syarif.”


Alexa langsung memusatkan perhatian ke arah Arul. Pak Syarif adalah bosnya Mekka. Apakah mungkin Pak Syarif datang bersama dengan Mekka?


“Bagaimana, Non?” tanya Arul saat Alexa terdiam cukup lama. Wanita itu hanya kembali fokus memperhatikan ponselnya.


Arul mendekati Azlan. Ia melirik temannya itu kemudian berbisik, “Gua mau keluar sebentar, ada janji sama Jesy. Gue ijin bentar ya.”


Azlan melirik Alexa kemudian balas berbisik. “Lo ijin sama atasan lo-lah.”


“Non Alexa?”


Azlan mengangguk.


“Kemarin gue udah dikasih ijin untuk jalan sama Jesy. Sekarang gue seganlah kalo mau ijin dengan alasan yang sama. Ini alasan nggak logis untuk urusan pekerjaan.” Arul memohon. “Gue nggak enak banget sama Alexa. Suer.”


“Jesy kan temennya Alexa. Suruh aja Jesy yang minta ijinin lo.” Azlan sengaja menggoda Arul. Meski sesungguhnya bukan hal sulit bagi Azlan untuk memenuhi permintaan Arul, namun ia sengaja membuat Arul kelimpungan sendiri.

__ADS_1


“Itu namanya gue kelihatan banget gak gantle di mata Jesy. Masa sih gue nyuruh cewek yang minta ijin ke bos gue. Ayolah!”


“Iya iya,” jawab Azlan akhirnya. Wajah Arul yang memelas membuatnya merasa luluh juga.


“Arul!” panggil Alexa dengan suara tinggi.


“Ya, Nona?” Arul langsung menatap Alexa.


“Sejak tadi aku menyuruhmu agar menemui tamu itu, apa kau tidak mendengar?”


“Baik, Nona. Apakah beliau bisa menemui Nona?”


“Ya. Suruh dia masuk!” titah Alexa.


Arul bergegas keluar ruangan.


Azlan bangkit berdiri dan mendekati Alexa. “Lexa, kalau kamu keberatan untuk melanjutkan kerja sama antara kita dan Pak Syarif karena terbebani adanya Mekka, lebih baik kita batalkan semua ini.”


Pandangan keduanya kemudian tertuju ke pintu saat Pak Syarif menyembul masuk bersama dengan Mekka.


Pak Syarif tersenyum dan langsung berjabatan tangan dengan Azlan. Alexa dan Mekka sempat bertukar pandang beberapa saat.


Azlan mengajak tamu tersebut duduk di sofa sudut ruangan. Alexa dan Azlan duduk bersisian, Pak Syarif serta Mekka duduk di hadapan mereka.


Mekka melirik posisi duduk antara Alexa dan Azlan yang begitu rapat. Ia berusaha mengabaikan hatinya yang nyeri.


Seorang office boy menyuguhkan minuman setelah diperintah oleh Azlan melalui via telepon.

__ADS_1


Perbincangan hangat mengenai pekerjaan berjalan dengan baik. Selama kurang lebih satu jam, mereka berbincang mengupas tuntas hal-hal yang perlu dibicarakan.


Sesaat setelah meneguk minuman, Pak Syarif berkata, “Pak Azlan, Anda sudah lama menikah dengan Nona Alexa, bukan? Apakah tidak ada niat untuk memiliki momongan?”


Azlan tersenyum tipis sambil melirik Alexa, “Istri saya sedang hamil muda.”


“O ya? selamat!” Pak Syarif turut bahagia.


Muka Mekka tampak memucat mendengar penjelasan Azlan.


“Hormon di tubuhku memiliki banyak perubahan, sehingga aku sering kali merasa sensitif. Ini mungkin juga salah satu penyebabnya kenapa aku sering merasa tidak nyaman dan emosi melulu,” ucap Alexa.


“Ha haaaa... Itu hal biasa terjadi pada wanita hamil.” Pak Syarif geleng-geleng kepala. “Istriku hamil sampai berkali-kali dan masing-masing memiliki tabiat tersendiri. Pak Azlan, kau harus bisa memahami kondisi istri saat begini. Sebab pada saat masa kehamilan, istri memikul banyak beban yang tidak akan pernah suami bisa merasakannya. Di sinilah kehebatan sosok istri. Laki-laki harus bisa mengerti dengan segala kemungkinan yang dialami wanita. Istriku bahkan tidak mau dekat denganku saat tujuh kali di kehamilan trisemester pertama. Katanya bau badanku tidak enak dan membuatnya mual. Tapi ini harus bisa kumengerti. Dia juga mual-mual terus, bahkan sampai tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Akulah yang mengerjakan pekerjaan istri selama empat bulan di masa istriku hamil muda.”


Azlan salut mendengar kisah kehidupan Pak Syarif. Pria itu kerap memberikan contoh mulia sebagai sosok seorang suami. Dan ilmu sabar yang dimiliki Pak Syarif perlu dicontoh oleh Azlan.


“Mudah-mudahan aja anakku laki-laki,” celetuk Alexa sekenanya.


“Jangan berharap begitu, laki-laki atau perempuan sama-sama memberi rejeki,” balas Azlan. “Aku takut kamu akan kecewa saat berharap anak laki-laki, tapi Tuhan menghendaki perempuan.”


Alexa tersenyum mendnegar peryataan Azlan. “Tapi aku memang kepingin anak laki-laki, jadi gimana, dong?” Alexa menepuk ringan lengan Azlan.


“Tuhan tahu mana yang lebih baik.” Azlan mengangguk ringan.


Mekka mengalihkan pandangan. Ia menatap bosnya lalu berkata, “Pak, urusan kita sudah selesai. Saya tunggu di luar.”


“Baik.”

__ADS_1


Mekka beranjak meninggalkan ruangan.


BESAMBUNG


__ADS_2