
“Waah, Mas Azlan walaupun sedang sakit tapi wajahnya tetep ganteng aja,” salah seorang tetangga yang tadinya memasak di dapur, langsung menuju ke ruang keluarga demi melihat kondisi pria yang selama ini telah meninggalkan kampung bertahun-tahun lamanya. Azlan yang dulu terlihat sedikit agak kurus, kini tampak gagah, kekar dan atletis. Wajar saja dia menjadi idola para gadis kampung.
Emak-emak yang lainnya ikutan ke ruang keluarga demi mengintip wajah si ganteng.
“Sekarang tambah keren ya.”
“Kayak bukan Azlan yang dulu.”
Yaah… emak-emak pada rempong bibirnya.
“Makasih ya Ibu-ibu, udah baik banget mau bantuin masak di rumah saya untuk menyambut kedatangan sulung saya,” ucap Dinda pada para tetangganya.
“Iya. Nggak apa-apa, kok.”
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu kami permisi.”
“Terimakasih sekali lagi.” Dinda mengangguk dan tersenyum lebar mempersilahkan para tetangganya pergi.
Tak lama kemudian, banyak para tetangga lainnya yang berdatangan menjanguk Azlan. Mereka membawa bermacam-macam buah tangan sebagai adab menjenguk orang sakit. Dinda pun mempersilahkan mereka untuk menikmati makanan yang telah tersaji di meja makan sebagai rasa hormatnya kepada para tamu yang datang untuk memuliakannya.
Dinda tersenyum lebar saat menyambut kedatangan sepasang suami istri yang membawa setumpuk buah-buahan, roti, dan lauk-pauk. Tak lain Veti dan Anjas, orang tua dari Mekka Ghifari. Dinda mengusap pucuk kepala Mekka saat gadis itu menyalaminya dan mencium punggung tangannya.
“Azlan, kenalin ini Mekka, kamu pasti belum pernah melihatnya, kan? Mekka selama ini tinggal di Yogyakarta bersama Bibinya dan beberapa tahun terakhir udah kembali ke kampung setelah menyelesaikan kuliahnya di UGM.” Dinda memperkenalkan tamu yang datang. Gadis berhijab cokelat, bermata cokelat, dan tubuh tinggi.
Azlan mengangguk dan mengulas senyum tipis.
“Mekka ini adalah calon istrimu, kami selaku orang tua telah menjodohkanmu sejak dulu dan kamu juga udah menyetujuinya,” sambung Dinda.
__ADS_1
Azlan menatap mata cokelat Mekka, gadis itu langsung menunduk mengalihkan perhatian.
“Azlan, kami kemari datang untuk menjengukmu. Kami turut berduka atas musibah yang menimpamu. Saat kamu berada di rumah sakit, kami juga telah menjengukmu beberapa kali, tapi kamu masih dalam keadaan tidak sadarkan diri,” terang Anjas ramah.
“Terimakasih, Om,” jawab Azlan.
“Itu Om Anjas, dan ini Bibi Veti. Mereka dulu pernah menolongmu mengajakmu minum teh di warung kopi seharu sebelum kamu pergi ke Jakarta. Kamu ingat?” Dinda menunjuk sepasang suami istri di hadapannya itu.
Azlan menatap Veti dan Anjas. Keningnya mengernyit, mengingat-ingat. Kemudian menggeleng.
“Ya sudah, nggak perlu diingat-ingat lagi. Insyaa Allah, ingatanmu akan kembali normal seiring berjalannya waktu. Bunda yakin kamu pasti bisa.” Dinda tersenyum samar menatap wajah putranya, yang keningnya masih dibalut perban. Ya, setelah sadar dari koma panjang, Azlan tidak bisa mengingat apapun. Ia bahkan tidak ingat dengan kejadian terakhir. Dan dokter menyatakan kalau ia ia hilang ingatan, ingatannya masih dalam masa pemulihan. Azlan juga tidak boleh mamaksakan diri untuk mengingat masa lalunya karena hal itu justru akan membuat otaknya bekerja keras dan akhirnya malah pusing dan sakit kepala.
TBC
__ADS_1