
Sesampainya di ruang operasi, perawat mulai memasangkan alat-alat, lalu dokter spesialis anastesi pun mengajak ngobrol ringan, supaya Alexa tidak tegang, meski kini kondisi Alexa terlihat sangat lemah.
Berhubung Azlan tidak bisa menemani Alexa dalam proses lahiran, Mekkalah yang berperan penting di sana. Dialah yang tersenyum manis dan mengusap-usap kepala Alexa yang kini sudah berbalut hijab. Sambil terus membantu untuk membisikkan kalimat-kalimat indah menyebut nama Allah. Tangannya masih menggenggam erat tangan Alexa. Andai tidak ada Mekka, entah siapa yang berperan di sana.
Alexa diminta supaya miring untuk suntik bius pada bagian tulang belakang. Suntikan tidak terasa sakit. Hanya seperti digigit semut saja.
Setelah itu Alexa direbahkan dan diminta untuk menggerakkan kaki, tapi rasanya ia tidak mampu. Setelah itu kedua tangannya direntangkan, alat pengukur tensi pun dipasangkan di tangan kanannya, pengukur detak jantung dipasang di dada, serta infus tambahan di tangan kiri, selang oksigen terpasang di hidung. Di dadanya sudah dipasang tirai agar ia tidak melihat proses pembedahan perut.
Tak lama, Alexa merasa seperti setengah tidak sadar. Rasanya seperti keliyengan. Dokter spesialis anak membisikkan bahwa nanti setelah baby keluar, akan dilakukan proses inisiasi menyusui dini atau yang sering dikenal dnegan istilah IMD. Rasanya Alexa seperti didongengin saat dokter membisikkan kata-kata ke telinganya. Dokter terus mengajak Alexa mengobrol supaya Alexa tidak tertidur sebelum melihat bayinya.
Dokter itu juga memijit kaki Alexa beberapa kali sambil bertanya, “Terasa?”
Alexa tidak merasakan apa pun, sehingga ia menggeleng.
__ADS_1
Kemudian dokter SPOG masuk dan mengobrol sebentar. Ia menanyakan apakah sudah siap atau belum, dalam kondisi setengah tidak sadar, Alexa masih bisa mengangguk.
Lalu proses operasi pun dimulai. Dokter yang menjadi pilihan Alexa pun bekerja dibantu oleh para perawat dan beberapa dokter lainnya. Alexa sedikit mengintip dari kaca lampu operasi yang memantulkan seluruh kegiatan dokter dalam aksi membedah, namun tidak seberapa jelas.
Lima belas menit kemudian….
“Eaaaaak…. Eaaaak…”
Suara bayi menangis memenuhi ruangan. Tak berapa lama kemudian terdengar suara tangisan bayi berikutnya. Suara itu bersahutan.
Alexa melihat bayinya digendong oleh perawat, si kecil menangis dan menggerak-gerakkan kedua tangan dan kakinya.
Mekka terlihat sibuk memberikan dua kain bedung yang dia beli di sebelah toko penebusan obat pada perawat. Di sana harga beli sehelai kain bedung memang melambung, tapi MEkka tidak memikirkan itu, yang penting bayi Alexa selamat. Bukan hanya itu saja, Mekka juga bolak-balik naik turun untuk mempersiapkan segala peralatan keperluan bayi. Membeli botol dot, susu formula dan perlengkapan lainnya. Perjalanan yang ditempuh oleh Mekka tidak dekat, sebab ia juga perlu menuruni anak tangga untuk sampai ke lantai bawah membeli berbagai perlengkapan bayi yang belum disediakan oleh Alexa. sebenarnya semua peralatan sudah ada di rumah Alexa, tapi ia tidak membawa barang-barang tersebut karena mengira kedatangannya ke rumah sakit hanyalah sebatas untuk chek saja. Sebenarnya Mekka bisa saja turun melewati lift, tapi ngantri. Jadi ia lebih memilih naik turun tangga saja supaya lebih cepat.
__ADS_1
Lanjut ke proses IMD.
Ya tuhan, rasanya sungguh luar biasa. Alexa merasa langsung semangat dan optimis untuk bisa memberi ASI pada baby, walau pun hanya beberapa menit dan entah ASI keluar atau tidak. Tapi hal itu benar-benar proses interaksi dengan bayi untuk pertama kalinya.
Saat kepala bayi menempel di dada Alexa, saat mulut si bayi bergerak-gerak, saat rengekan kecil terdengar dari mulut mungil itu, rasanya sungguh tidak bisa digantikan dengan apa pun.
Bayi diambil oleh perawat dan digantikan dengan bayi berikutnya. Kembali perasaan tadi muncul dalam hati Alexa. perasaan yang sulit dijelaskan dengan untaian kata. Amazing, sungguh indah dan sangat sangat luar biasa. Alexa kembali meneteskan air mata saat bayi kecil mungil yang beratnya hanya satu setengah kilo itu diletakkan di dadanya. Uhan, ini menunjukkan betapa besar keajaiban-Mu. Air mata Alexa tidak bisa diartikan apakah tangis bahagia atau sedih, sebab antara air mata bahagia atas kelahiran anak-anaknya berbaur dengan kesedihan atas pemikirannya akan kondisi Azlan.
TBC
.
.
__ADS_1
.