
Saat ia menangkap pemandangan mengejutkan, ia sadar telah melakukan suatu kesalahan. Ia melihat sosok tubuh menelungkup di kap depan mobilnya.
Azlan buru-buru turun dari mobil.
“Ya Allah!” Azlan terkejut melihat sosok tubuh lemas yang menelungkup di atas kap mobilnya itu tidak bergerak.
Apakah proses tabrakan tadi begitu keras hingga sosok itu pingsan? Azlan menoleh ke kiri kanan. Sepi.
Azlan mendekati pria yang menelungkup itu untuk memastikan kondisinya. Dia menyentuh nadi tangan pria itu, masih berdenyut. Azlan harus secepatnya membawa orang itu ke rumah sakit. Saat tangannya menyentuh tubuh pria itu untuk membalikkan badannya yang menelungkup, pria itu mengerang dan menggerakkan tubuhnya. Kemudian dia menyeret tubuhnya menjauhi mobil, sedikit merangkak dan terduduk di trotoar.
“Mas, ayo kuantar ke rumah sakit,” tawar Azlan. Ia kesulitan menatap wajah pria bertopi itu karena pria itu menundukkan wajahnya hingga topinya menutupi wajahnya.
“Arrgkh…”
“Mas, Ayo! Kamu bisa lebih parah kalau tetap di sini.” Azlan meraih bahu pria itu.
__ADS_1
“Enggak… Nggak usah, Mas. Aku minta tolong carikan jam tanganku aja. Tadi terlepas waktu keserempet mobil mas.” Pria itu mengelus-elus pinggangnya sambil merintih.
“Jamnya nggak penting Mas, yang penting keselamatanmu. Aku akan menggantikan jam tangan seperti milikmu setelah ini. Ayo, kita ke rumah sakit.”
“Enggak. Aku nggak apa-apa.” Pria itu bangkit bangun dan tertatih meninggalkan Azlan.
Azlan mengernyit saat menoleh dan mendapati pria itu juga tengah menoleh ke arahnya. Azlan terkejut karena ia ternyata mengenali pria itu, Fauzan. Sepintas berbagai pertanyaan menyelinap di kepalanya. Namun sebelum sempat otaknya menjawab pertanyaan yang melintas, ia menyadari Fauzan pasti memiliki niat buruk atas apa yang dia lakukan. Dan proses tabrakan itu hanyalah fiktif belaka. Azlan ingat mobilnya tadi tidak menyentuh apapun, namun tiba-tiba Fauzan seperti berpura-pura menjatuhkan diri di depan mobilnya.
Azlan balik badan kemudian mengejar Fauzan.
Sadar dalam pengejaran, Fauzan pun melarikan diri. Sampai cukup jauh Azlan berlari mengejar Fauzan, hingga akhirnya tubuh Fauzan tersungkur saat Azlan menendangnya dari arah belakang.
“Apa maksud perbuatanmu ini, hm? Katakan, apa yang udah kau lakukan?” Azlan menekan lengan Fauzan hingga pria itu mengerang.
“Alexa.”
__ADS_1
Azlan terkejut mendengar Fauzan menyebut nama Alexa.
***
Di sisi lain, Alexa yang tengah meneguk minuman pun terkejut melihat Leo yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Pria itu tersenyum, mendekati Alexa dan menatap gadis itu lekat-lekat.
“Udah lama kita nggak ketemu. Apa kabarmu, Baby?” Leo tersenyum lebar. Seringaian mesumnya dia tunjukkan dengan entengnya.
Huh, entah bagaimana Alexa dulu bisa jadian dengan pria itu. Lihatlah, dia sekarang terlihat begitu mengesalkan.
“Jangan dekati aku!” Alexa melangkah menjauhi Leo.
Namun dengan entengnya Leo mengejar dan merayapi pinggang ramping Alexa. Alexa terkejut mendapat sentuhan itu, ia kemudian menendang ************ Leo, lelaki itu membungkuk dengan kedua tangan menangkup ke pangkal paha.
Alexa kemudian memecahkan botol minuman, membuat pecahannya berserak dan isinya berceceran di lantai. Dengan kemarahan yang menyala-nyala, Alexa mengacungkan sisa botol yang ujungnya bergerigi sambil berteriak penuh ancaman.
__ADS_1
Suasana mendadak gaduh, hingga beberapa orang di sekitar sana melompat menjauh sambil menjerit.
TBC