
“Ini, di dalam sini ada audio plus visual Al Qur’an, disitu lengkap dengan penjelasan hadist serta tafsirannya. Nona bisa memindahkannya ke laptop Nona supaya nona bisa kayak aku tadi, saking khusyu’nya membaca dan mendalami bacaan serta maknanya, sampai-sampai aku nggak sadar dnegan apa yang terjadi di sekitar.” Azlan menyerahkan sebuah flashdisk ke arah Alexa yang baru saja dia ambil daris aku celananya.
Sesaat alexa terdiam menatap falshdisk yang disodorkan, namun kemudian ia menyambar flashdisk dari tangan Azlan. Azlan merasakan sapuan lembut di punggung tangannya saat tangan Alexa mengambil flashdisk darinya. Alexa melenggang dengan gerakan gemulai.
Manis sekali. Betapa repotnya hidup Azlan harus terus mengagumi Alexa dengan segudang kata-kata pujian yang mengalir dalam benaknya.
Ya Tuhan, sampai kapan ujian ini berakhir? Azlan menghela napas.
Alexa berjalan menuju ke mejanya, ia hanya memperhatikan laptopnya kemudian menatap Azlan. “Kamu nyuruh aku nusukin punyamu ini ke sini?” Ia menunjuk lubang USB laptopnya.
“Lakukanlah! Aku jamin Nona akan menikmatinya.”
Tanpa banyak Tanya, Alexa mencolokkan falshdisk ke lubang USB. Ia mengernyit menatap layar laptop. “Udah masuk. Tapi kok nggak ada reaksi apa-apa?”
Azlan mendekati meja Alexa dan menatap layar laptop, data di dalam flashdisk tidak masuk. Ia menyentuh flashdisk dan menekannya. Kini data di falashdisk terbaca.
“Ooh... Pantesan, tusukannya kurang. Ternyata mesti dibantu nyorong pake tenagamu baru berhasil.”
Gubrak!
Azlan menatap ke sumber suara. Terdengar suara gaduh di luar sana, tepat di balik pintu ruangannya yang tertutup.
Azlan buru-buru melangkah menuju pintu dan membuka pintu lebar-lebar. Tampak beberapa karyawan sedang berkumpul di sana. Dua orang terkapar di lantai, dua lainnya berdiri bengong menatap Azlan.
“Ah, elu, sih.”
“Sakit, ****!”
Dua karyawan yang terkapar saling tuduh dan buru-buru bangkit.
Sementara dua lainnya saling lirik dan berbisik.
“Kalian kenapa di sini?” tanya Azlan meski dia tahu mereka pasti sedang menguping. Kepo sekali mereka.
__ADS_1
“Maaf Pak, saya mah kebetulan lewat.”
“Saya tadi mau antar laporan tapi laporannya malah ketinggalan.”
“Saya kepleset, Pak,” jawab si rambut lepek padahal tadi dia mengping dan terjungkang akibat terdorong temannya dari belakang.
“Lain kali biasakan untuk tidak suudzon. Bersihkan pikiran kalian. Sekarang kembalilah ke ruangan masing-masing!” titah Azlan tegas lalu menutup pintu.
Sekilas Azlan mengingat perbincangannya dengan Alexa tadi, mungkin kalimat yang mereka gunakan tadi mengundang pertanyaan di pikiran para karyawan.
“Kamu nyuruh aku nusukin punyamu ini ke sini?”
“Lakukanlah! Aku jamin Nona akan menikmatinya.”
“Udah masuk. Tapi kok nggak ada reaksi apa-apa?”
“Ooh... Pantesan, tusukannya kurang. Ternyata mesti dibantu nyorong pake tenagamu baru berhasil.”
“Ah, ya ampun. Mereka bener-bener gila!” Alexa geleng-geleng kepala.
Azlan tidak mengomentari. Dia kembali mendekati meja Alexa. Ia memberi arahan pada Alexa untuk membuka folder yang disebutkan lalu mengajari gadis itu cara membuka video yang dikemas dalam aplikasi terbaru, ia menjelaskan bagaimana cara memutar audionya.
Tanpa sadar tubuh Azlan terhempas duduk di kursi milik Alexa karena betisnya terasa kebas saat posisi berdirinya tidak pas.
Alexa tampak hendak duduk ke kursi yang sedang diduduki Azlan.
Melihat Alexa yang memunggunginya itu hendak duduk di kursi, Azlan cepat-cepat bangkit dari kursi sambil berkata, “Nona, jangan! Aku...”
Kata-kata Azlan terputus akibat kakinya tergelincir saat buru-buru berdiri hingga akhirnya dia terjatuh ke lantai, tepat di balik meja dekat kursi dengan kaki selonjor.
Sial!
Tubuh Alexa ambruk di atas Azlan akibat Kaki Azlan yang ukurannya panjang, tanpa sengaja menyenggol pergelangan kaki gadis itu. Kini Alexa berada tepat di pangkuan Azlan. Di posisi begitu, Azlan menahan napas. Yassalam.
__ADS_1
Terdengar pintu dibuka. Lalu suara langkah kaki mendekat ke arah meja.
Alexa dan Azlan saling pandang mendengar suara langkah sepatu yang mendekat itu.
Jika orang itu melihat posisi Alexa yang sedang dalam pangkuan Azlan di balik meja, maka akan menjadi buruk gossip yang diperbincangkan. Untungnya kini Azlan dan Alexa berada di balik meja, hingga orang itu tidak dapat menjangkau keberadaan mereka.
“Alexa!” panggil seseorang yang kini berdiri di tengah-tengah ruangan.
Azlan sangat mengenal suara bariton itu. Pak Joan.
Azlan baru saja melakukan aksi dorong punggung Alexa yang berada di hadapannya supaya gadis itu bangkit dari posisinya, namun Alexa menahan diri sambil meletakkan jari di bibirnya.
Gadis itu memundurkan tubuhnya hingga kini punggungnya menempel di dada Azlan, membuat pandangan Azlan semakin jelas terhadap wajah cantik gadis itu.
Alexa menoleh. Gerakan kepalanya yang menoleh, membuat pipi gadis itu menyentuh hidung mancung Azlan.
“Sst... Jangan bergerak! Jangan bersuara!” bisik Alexa seraya menatap mata Azlan yang berada di jarak dua centi dari wajahnya.
Azlan diam saja. Tubuhnya yang sejak tadi kaku karena ingin mengusir Alexa dari atasnya, kini mulai lemas. Ia memejamkan mata demi menahan segala gejolak dalam hati.
Ya Allah, ini keadaan darurat. Semoga Engkau mengampuni dosa-dosaku yang sedekat ini dengan wanita yang bukan mahram, gumam Azlan. Lalu dia geli sendiri, teringat bagaimana awal pertemuannya dengan Alexa, kebanyakan mudhorotnya. Azlan bahkan kini dapat merasakan aroma tubuh Alexa yang sama wanginya seperti dirinya, juga aroma sampo gadis itu. Kenapa hidupnya harus serumit itu?
Langkah kaki Pak Joan menjauh dan terdengar suara pintu ditutup.
“Berdirilah! Papamu udah pergi,” pinta Azlan yang melihat Alexa masih terdiam.
Alexa bangkit. Azlan pun ikut berdiri. Keduanya terkejut saat melihat Pak Joan yang ternyata masih berdiri di dekat pintu yang baru saja dia tutup. Tangannya masih memegangi handle pintu.
Oh…
Ya ampun. Azlan dan Alexa salah menduga, mengira Pak Joan sudah pergi setelah menutup pintu. Tapi ternyata pria itu menutup pintu dengan posisinya yang masih berada di dalam ruangan.
TBC
__ADS_1