
Memori ingatan Azlan seperti diisi oleh kejadian-kejadian di rumah itu, ia memejamkan mata berusaha menajamkan ingatannya, dia berbaring di ranjang dan dia ingat pernah berbaring di ranjang yang sama. Aroma kasur mengingatkannya pada masa lalunya, aroma itu sangat dia kenal. Kini, berangsur ia mengingat kejadian yang tercetak di kamar itu. Ia ingat ketika berguling bebas dengan Alexa di kasur beraroma khas itu, ia ingat ketika menciumi wanitanya itu dengan penuh cinta di sana, dia ingat bagaimana nakalnya Alexa yang selalu menjahilinya untuk membangunkan hasratnya.
Azlan membuka matanya, kembali mengedarkan pandangan ke seisi kamar. Ya Tuhan, dia benar-benar telah mengingat semua kejadian di kamar itu. Tentang memori indah yang tercipta di sana. Tentang malam pertama mereka, tentang benda haram yang pernah disimpan di laci yang kini dia buka.
Ya, Azlan telah mengingat semua kenangannya bersama Alexa. Pantas saja ia merasa sangat dekat dengan Alexa saat pertama kali melihat wanita itu di kantor perusahaan, pantas saja perasaannya begitu hangat saat berada di dekat Alexa, pantas saja ia merasa sangat mencintai wanita itu bahkan meski ia tidak mengingat Alexa saat itu.
“Alexa….” desah Azlan menyebut nama wanitanya itu. Kemudian dengan langkah lebar, Azlan keluar kamar, menuruni anak tangga. Ia tidak mendapati sosok yang dicari saat sudah berada di lantai bawah.
Kemana Alexa?
Azlan menoleh ke arah gadis yang melintasi ruangan. Gadis itu tersenyum centil.
__ADS_1
Azlan menunjuk gadis itu dan berkata pelan, “We.. Weni?”
“Iya, aku kenapa, MasAzlan? Eh, maksudnya kenapa, Tuan Muda?” Weni bersemangat mendekati Tuan Mudanya. Sudah sangat lama ia tidak menatap wajah sang idola, sehingga wajah itu seperti malaikat yang menampakkan diri di matanya.
“Alexa mana?”
“Loh, Tuan Muda kenapa pakai baju begini? Habis jadi kurir dimana? Ya ampun.” Weni menunjuk seragam biru yang dikenakan Azlan.
“Oh eh… Nona Alexa tadi ke belakang, kayaknya ke ruang makan,” jawab Weni. Kemudian dengan lirih ia berkata, “Kok, Non Alexa sih yang dicari, nggak nyariin aku gitu?”
Azlan tidak menanggapi kata-kata Weni meski ia mendengarnya. Dengan langkah lebar, Azlan menuju ke ruangan lain. Ia melihat Alexa berjalan menuju ke arahnya. Wanita berparas cantik itu melangkah gontai dengan pandangan ke arah lantai.
__ADS_1
“Alexa!” Tanpa basa-basi, Azlan langsung memeluk wanitanya itu erat-erat hingga segelas tah hangat di tangan Alexa terlepas begitu saja, gelas keramik terjatuh ke lantai dan pecah. Kedua tangan Azlan mengusap punggung Alexa dan bibirnya mendarat di caruk leher wanita itu memberikan ciuman bertubi-tubi. Azlan kembali menemukan perasaannya yang dulu, ia melepaskan perasaan cintanya melalui pelukan itu.
Alexa yang kaget pun hanya bisa terbengong. Ia heran dengan sikap Azlan yang tiba-tiba seaneh itu setelah tadi mereka bertemu. Azlan tadi kelihatan biasa saja dan bahkan malah tampak bingung saat pertama kali bertemu. Dan sekarang pria itu memeluknya, bertingkah seperti sudah berbulan-bulan tidak bertemu.
Weni yang tanpa sengaja memergoki adegan mesra itu pun melanjutkan tontonannya sambil mengelus dada. “Kapan nikah?” lirihnya nelangsa.
“Hei… kamu kenapa baru sekarang kamu peluk aku begini? Dari tadi ngapain aja?” Alexa membiarkan kedua tangannya melayang di udara, tanpa membalas pelukan Azlan. Tingkah Azlan benar-benar kelihatana neh di matanya.
Azlan memejamkan mata, menghirup aroma wangi tubuh Alexa yang sangat familier, ia ingat pernah memeluk Alexa saat terakhir kali ia meninggalkan Jakarta seperti yang dia lakukan sekarang. Dia ingat pernah mengucapkan kata-kata cinta pada Alexa di saat terakhir pertemuannya waktu itu, dan kalimat itu tanpa sadar kembali dia ucapkan. “Aku mencintaimu.”
TBC
__ADS_1