Suami Sensasional

Suami Sensasional
Lima Puluh Delapan


__ADS_3

Azlan mengambil botol minuman dari atas nakas hendak memukul sosok di dalam selimut. Sialnya, saat tangannya menjulur akan membuka selimut, bertepatan saat itu juga Alexa menyingkap selimut dan bergerak bangun.


Alhasil, yang terpegang oleh tangan Azlan adalah dada Alexa.


Alamak, dosa apa Azlan? Sampai-sampai dia harus memegang benda keramat!


“Astaghfirullah!” pekik Azlan cepat-cepat melepas sesuatu yang baru saja dipegang. Kulit tubuhnya langsung meremang dan rasanya seperti orang demam. Ya Allah Ya Allah, ujian apa lagi ini? Azlan kembali frustasi. Dia baru ingat kalau Alexa ada di rumahnya.


Astaga, seharusnya Azlan mengunci pintu kamar. Dia tidak menyangka jika kejadiannya bisa seperti sekarang.


“Kau pegang apa tadi?” Alexa menundukkan kepala melihat dadanya, membuat Azlan membuang muka dan memilih menatap ke arah lain. “Modus kamu, ya! Kenapa pegang-pegang, huh?”


“Aku nggak sengaja, nona.”


Sebenarnya Alexa mengerti dengan situasi yang baru saja terjadi, peristiwa tadi murni tanpa disengaja. Apa lagi ia melihat wajah Azlan yang kini memerah seperti kepiting rebus, Alexa semakin yakin Azlan kini sedang gugup.

__ADS_1


Seharusnya Alexa yang gugup, bukan? Kenapa sekarang malah Azlan yang seperti baru saja diintimidasi?


“Nona, plis keluar dari kamarku sekarang!” tegas Azlan sembari menunjuk pintu kamar.


“Tapi aku takut! Aku takut gelap. Aku juga takut sendirian.” Muka Alexa mulai memelas. Mungkin dia beranggapan bahwa apa yang dia lakukan sekarang adalah hal biasa, karena sejak SMA hingga kuliah, dia terbiasa berbaur dengan laki-laki. Dan tidur di pangkuan lelaki bukanlah hal aneh bagi Alexa, karena dia juga sering tidur di pangkuan temannya laki-lakinya, atau sebaliknya.


“Nona udah gede, masih bisa bilang takut sendirian? Jangan kalah sama anak kecil umur tujuh tahun.” Azlan mengingat Sasha, adiknya yang sudah berani tidur sendirian sejak usianya tujuh tahun.


“Pokoknya aku nggak mau sendirian. Paginya masih agak lama lagi. Aku bisa kencing di atas kasur kalau ketakutan.”


“Tapi tadi lampu di kamarku mati,” protes Alexa.


“Kamu jangan lupa, kamu yang membawaku ke sini. Kenapa kamu mengusirku?” ketus Alexa. “Ini rumah siapa? Tempat apa ini?”


“Ini rumah kontrakanku, nona. Di sinilah tempat tinggalku.”

__ADS_1


Alexa mengedarkan pandangan ke seisi kamar yang sekarang terang benderang. Kamar itu sederhana dan tidak luas.


“Trus itu kenapa kamu bawa-bawa botol? Mau mukul aku?” Alexa menunjuk botol di tangan Azlan dengan dagunya.


“Tadinya.” Azlan spontan meletakkan botol kembali ke asalnya. “Nona, keluarlah! Ini kamarku.” Azlan terpaksa menarik lengan Alexa supaya turun dari ranjang.


“Jangan seret aku!” sergah Alexa.


Azlan melepas lengan Alexa dan menjauh dari gadis itu.


Alexa yang sudah berjalan beberapa langkah, membalikkan badan dan menatap Azlan smbil berkata, “Aku takut gelap. Tadi lampunya mati. Mungkin lampunya putus.” Alexa merasakan bulu halus di sekujur tubuhnya kembali meremang mengingat kejadian di kamarnya tadi. Itu sangat mengerikan. Jika ia tidak melihat video hantu dan kemudian lampu mati, kemungkinan rasa takutnya tidak separah sekarang.


“Ya udah biarkan aku tidur di sini, dan kamu yang keluar!” Alexa berjalan menuju ranjang dengan santainya. Dia menghempaskan tubuhnya di kasur itu dengan posisi menelungkup.


“Astaghfirullah…” Azlan mengesah. Tadinya ia berniat agar dia saja yang keluar dan membiarkan Alexa tidur di sana, tapi niatnya urung mengingat dia akan melakukan banyak hal di kamar itu, dan semua keperluannya ada di kamarnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2