Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Tiga


__ADS_3

Alexa memasuki gedung perkantoran. Ia mengehntikan langkah saat melihat keributan di depan.


Beberapa karyawan berseragam biru tampak marah-marah hendak menyerbu masuk pintu kantor, mereka dihadang security. Dua mandor yang berdiri paling depan tampak terlibat adu mulut dengan tiga security yang menghadang. Alexa kemudian mendekati kerumunan.


Lima orang yang membuat keributan pun terdiam saat melihat kedatangan Alexa.


“Ada apa ini?” pandangan Alexa tertuju ke salah satu mandor, Fatih namanya.


“Karyawan meminta naik gaji, Nona,” jawab Fatih.


Pandangan Alexa mengedar ke wajah-wajah beberapa karyawan yang berdiri di belakang mandor.


“Kalian ingin naik gaji?” tegas Alexa.


Mereka saling pandang, kemudian mengangguk.


“Kalian ikut aku!” titah Alexa menunjuk dua orang karyawan kemudian ia masuk melintasi pintu utama dan naik lift.


Sepuluh menit menunggu di ruangannya, dua karyawan yang ditunjuk belum juga masuk. Tak lama kemudian Fatih memasuki ruangan. Alexa mengerutkan dahi melihat kedatangan Fatih.


“Kenapa kamu yang masuk? Kemana karyawan yang kuminta menghadap?” tanya Alexa saat Fatih sudah duduk di kursi depannya.


“Maaf, mereka enggan masuk, mereka meminta saya saja yang menghadap.”

__ADS_1


“Panggil mereka!”


“Maaf, rasanya kurang pas jika karyawan langsung menghadap pada Anda. Ada jenjang dan prosedur untuk menghadap bos, sayalah yang mewakili mereka.”


“Aku ingin mendengar langsung keluhan mereka.”


“Mereka ingin naik gaji.”


“Ini sudah yang kedua kalinya permintaan kenaikan gaji. Mustahil aku penuhi.”


“Saya hanya memikirkan kesejahteraan karyawan. Saya menyampaikan harapan mereka.”


“Aku jauh lebih memikirkan kesejahteraan mereka dengan menaikkan gaji lebih besar dari tahun kemarin. Bahkan aku tambah harga lembur. Ini udah jauh dari kata sejahtera.”


“Kalkulatorku nggak pernah salah.”


“Kalau Nona tidak mau menaikkan gaji, saya akan kumpulkan karyawan untuk melakukan aksi demonstrasi. Besar kemungkinan kerugian yang akan diterima perusahaan semakin parah jika mereka mogok kerja.”


“Bagus itu. Silahkan, aku ingin mendengar aspirasi mereka secara langsung. Justru itu tadi aku minta mereka yang menemuiku, bukan kamu.”


Muka Fatih memerah. Kini ia menunduk.


“Kembali ke tempat kerja. Katakan pada karyawan bahwa aku nggak akan menaikkan gaji. Kenaikan gaji yang mereka terima beberapa bulan yang lalu udah cukup untuk kesejahteraan.”

__ADS_1


“Nona...”


“Udah! Kembalilah!” potong Alexa dan menunjuk pintu.


Fatih bangkit dari kursi dan pergi.


Setelah keputusan yang Alexa ambil, gedung perkantoran tetap aman terkendali, tidak ada keributan apapun. Ia mengira karyawan akan benar-benar melakukan aksi demo atas keputusannya tersebut, tapi dugaannya salah. Semuanya baik-baik saja.


Pintu kembali terbuka sesaat setelah Fatih pergi. Yakub memasuki ruangan.


“Selamat pagi, Nona Alexa!” Yakub duduk di kursi depan Alexa.


“Pagi!”


“Ini hasil laporan selama beberapa bulan terakhir, Tuan Azlan sedang tidak ada di perusahaan karena tugas ke Riau, jadi aku laporkan pembukuan kepad Nona.”


Alexa membuka map yang diserahkan Yakub. “Good. Kerja yang bagus. Kamu memang bisa diandalkan. Apa Azlan pernah menghubungimu untuk menanyakan masalah pekerjaan?”


“Tidak, Nona. Jaringan di sana sangat buruk, dan bahkan tidak terjangkau sinyal sama sekali.”


“Ya, aku tau itu. Siapa tahu Azlan sempat memanjat pohon atau apa gitu.”


Yakub hampir tertawa namun dia tahan. Ya kali tupai, pake manjat pohon segala.

__ADS_1


TBC


__ADS_2