
Alexa mengunyah buah apel di meja makan. Kemudian ia meneguk jus yang sudah disediakan di depannya. Ia mengangkat wajah saat melihat kursi di depannya ditarik. Ia menatap Azlan. Pria itu menarik piring berisi sandwich yang masih hangat kemudian menyantapnya.
Alexa masih menatap pria itu beberapa menit lamanya. Azlan bahkan tidak meliriknya walau hanya sekilas. Pandangan pria itu fokus ke piringnya. Seakan tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Setelah kejadian itu, hubungan mereka mendadak kaku dan seperti ada dinding pembatas yang begitu tebal. Alexa yang biasanya bersikap leluasa, kini juga terlihat seperti risih. Alexa ingat saat tangannya menyentuh bagian sensitif milik Azlan, bayangan itu terkilas balik di memori kepalanya.
“Hari ini aku kerja, kamu ikut aku ke kantor bukan?” tanya Alexa kemudian kembali meneguk jusnya.
“Ya,” singkat Azlan.
“Selesaikan sarapanmu. Kita berangkat setelah ini.” Alexa bangkit bangun dan meninggalkan meja makan. Manik matanya sedikit melirik posisi Azlan yang dia tinggalkan. Ia dapat melihat kalau pandangan Azlan mengikutinya.
Sembari menunggu Azlan, Alexa berdiri di teras berteleponan dengan Jesy. Suara renyah sahabatnya itu terdengar nyaring dan sesaat mampu membuat Alexa melupakan sentuhan Azlan yang sempat membuatnya mabuk kepayang.
“Hei, ondel-ondel pagi-pagi gini udah nelepon aja. Ngapain?” tanya Jesy di seberang.
“Mau ngeliat pant*t kuali,” jawab Alexa kemudian terkekeh.
“He heee… cantik-cantik gii dikatain pan*at kuali sih? Lo udah siap belum? Jam segini kantor udah buka.”
“Lo liat gue udah cakepan gini kan, ya udah siaplah.”
__ADS_1
“Tumben lo sendirian, Azlan mana?” tanya Jesy.
“Ngapain nanyain Azlan?”
“Kangen. Cieee…”
Alexa mengangkat alis. “Jangan nanyain Azlan lagi.”
“Lah, napa? Apa gara-gara masalah yang kemarin? Yang soal Kikan itu?”
Mendengar nama Kikan disebut, perasaan Alexa jadi tak menentu. Halah, Jesy pake nyebut-nyebut nama Kikan segala. Membuat Alexa jadi teringat adegan di club yang nyaris menjadikannya spot jantung.
“Stop mikirin Azlan,” sergah Alexa.
“Kenapa?”
“Jadi lo mau saingan sama Kikan?”
“Jelas aja gue kalah. Kikan kan yahut. Bodinya gitar spanyol gitu, semua punya dia gede.”
__ADS_1
“He heee…” Alexa melirik ke samping saat melihat Azlan melintas di sisinya. Pria itu baru saja keluar dan sekarang emmasuki mobil yang sudah bertengger di depan rumah. “Ya udah, gue berangkat ke kantor dulu.”
“Buruan. Gue mah udah nyampe, nih.”
Alexa menggeser tombol merah di ponselnya kemudian melangkah memasuki mobil. Ia duduk di sisi kemudi.
“Apa kamu nggak mau pakai supir setiap kali bepergian?” tanya Alexa sembari memasukkan ponselnya ke tas yang menyelempang di bahunya.
“Enggak. Aku lebih nyaman menyetir sendiri. Apa ini masalah untuk nona?” Azlan menyetir mobil keluar gerbang. “Kalau nona merasa nggak nyaman, besok kita akan pakai supir saat bepergian.”
“Nggak masalah. Aku hanya ingin tahu. Aku menggaji buta supirku jadinya.”
Azlan tersenyum tipis mendengar kalimat bernada lelucon dari nonanya.
“Apa perlu kupecat aja supirku itu? Dia nggak ada gunanya lagi sekarang.”
“Jangan, nona. Kasihan dia. Nona telah memberi lapangan kerja untuknya, dan dia akan kesulitan mencari poekerjaan jika nona memecatnya.”
“Itu bukan urusanku.” Alexa tidak mau ambil tahu.
__ADS_1
TBC