
Azlan melenggang memasuki rumah diiringi oleh Alexa. keduanya langsung menaiki anak tangga menuju ke kamar. Weni yang tengah melintas di ruangan yang sama pun terkesima menatap majikannya berduaan. Entah ia harus merasa senang atau sedih, ada rasa iri dan juga kagum melihat kedekatan majikannya. Mereka serasi.
Azlan memasuki kamar sambil membuka pesan masuk. Ia melihat nama pengirim. Mekka. Manik mata Azlan sedikit melirik ke arah Alexa saat membuka pesan. Alexa berjalan menuju dinding dan menyangkutkan jaket ke gantungan dinding.
Mekka
Pulang dan temui aku
Aku ingin bicara
Azlan membalas dengan gerakan mengetik secepat mungkin.
Azlan
Oke
Azlan melempar ponselnya ke atas kasur dan membuka kancing ujung lengan kemejanya.
__ADS_1
“Kamu keliatan pucat, Azlan. Kamu kedinginan?” Alexa menatap wajah Azlan dengan kedua tangan menyilang di dada.
“Enggak.” Meski sesungguhnya rasa dingin menjalar di sekujur tubuh Azlan, namun dia bukanlah pria lemah yang mudah tumbang hanya karena suhu tubuh. Lihatlah, meski telapak kaki dan tangannya memutih seperti kapas akibat kedinginan, kulitnya memucat, namun dia terlihat biasa saja. Sikap dan tingkahnya tidak menunjukkan kalau dia kedinginan.
“Aku tahu kamu kedinginan. Kenapa kamu nggak matiin Ac saat di mobil tadi?” Alexa membantu melepaskan kancing kemeja satu demi satu. Sesekali Alexa mengusap dada pria itu. “Lihatlah, kemejamu yang tadinya basah kuyup akhirnya kering begini. Aku tahu kenapa kamu nggak mau matiin Ac. Kamu lakukan demi aku bukan? Kamu nggak mau aku kepanasan kalau AC dimatikan.”
“Aku tahu kamu paling nggak suka naik mobil dalam keadaan AC-nya mati.”
“Luar biasa. Aku nggak akan protes kok kalau kamu mematikannya untuk alasan ini.” Alexa membantu membuka ikat pinggang Azlan. Kemudian ia membuka kancing celana pria itu.
“Aku bisa lakukan sendiri.” Azlan tersenyum. Ia menyambar celana dan baju, lalu memasuki kamar mandi.
Azlan segera menghampiri Alexa, ia membaringkan tubuh di sisi kasur membuat Alexa menggeser tubuhnya untuk memberi ruang tidur pada suaminya. Alexa melirik Azlan yang menangkupkan wajahnya ke perut Alexa. pria itu berbaring dengan kaki menjuntai ke bawah.
“Jangan letakkan wajahmu di perutku!” seru Alexa.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Geli.”
“Aku hanya ingin mendengar detakan yang ada di tubuhmu saat kamu membaca buku pemberianku.”
Alexa menjewer telinga Azlan. “Kamu mau ngetawain aku? Kamu bakalan bilang kalau detakan di tubuhku berpacu cepat saat membaca buku bernuansa horror ini?”
Azlan meringis merasakan jeweran yang dahsyat itu. Kepalanya mengikuti arah tangan Alexa yang menariknya ke atas. “Horor katamu?”
“Gimana nggak horror? Ini aku bolak-balik isinya dikit-dikit ngebahas neraka. Ya ampun. Bukannya kamu sering bilang ingin masuk surga? Kenapa ini malah buku neraka yang kamu beli?”
Azlan terkekeh pelan. “Kita akan tahu bagaimana manisnya kehidupan saat penderitaan pernah kita alami, kita juga akan merasakan nikmat sehat saat sakit sudah kita jalani. Begitu juga dengan kehidupan kelak, akan kita kejar indahnya surga saat tahu sepedih apa azab di neraka.”
“Azlan, jangan menakut-nakutiku.”
“Oke oke, tapi lepasin tanganmu, telinga suamimu bisa putus.” Azlan tidak tahan merasakan jeweran tangan mungil Alexa. jemari wanita itu lentik, tapi jewerannya benar-benar dahsyat.
Alexa segera melepaskan jewerannya melihat kulit wajah Azlan yang memerah.
__ADS_1
TBC