Suami Sensasional

Suami Sensasional
Dua Puluh Dua


__ADS_3

Alexa memasuki club dengan langkah lebar.


Azlan hanya mengamati gadis itu dari kejauhan. Ia masih perlu menarik nafas untuk dapat menenangkan diri atas kejadian di perjalanan tadi. Alexa telah berhasil membuat jantungnya berpacu tiga kali lebih cepat dari detakan normal. Azlan berharap semoga kejadian itu tidakterulang kembali, meski sisi hati kecilnya menikmati keadaan itu. astaga.


Azlan turun dari mobil. Ia tentu tidak mau membiarkan nonanya tanpa pengamatannya karena takut terjadi hal buruk pada nonanya itu. ia memasuki club dengan langkah enggan.


Dentuman keras suara musik ditambah aroma rokok dan minuman yang berbaur menjadi satu membuat kepala Azlan terasa pusing. Jantungnya serasa hampir pecah merasakan betapa kerasnya hentakan musik di ruangan itu. seumur hidup, baru kali ini ia memasuki club. Dunia malam yang dipenuhi dengan khas pria dan wanita berjoget dibawah kelap-kelip lampu disko.


Astaghfirrullah... Azlan memalingkan wajah saat mendapati pemandangan berbeda, seorang wanita berpakaian minim sibuk mendekati pria kelimis dan menggelayut manja, bahkan tanpa sungkan wanita itu menyentuh bagian-bagian terlarang milik sang pria.


Tuhan, inikah tempat yang harus ia pijak? Ruangan yang penuh dengan dosa. Ia berada di sana semata-mata hanyalah untuk tuntutan pekerjaan. Jika begini caranya, ia seharusnya memang sudah sejak awal memutar balik arah mobilnya.


Azlan berhenti saat mendapati Alexa dan Jesy tengah berdiri di meja bartender sembari meneguk minuman melalui gelas. Seorang pria tampak mengobrol dengan kedua wanita itu dengan akrab. Sepertinya pria itu adalah teman Alexa. Azlan mengamati Alexa dari kejauhan. Seorang gadis mendekatinya dan mengajaknya minum. Azlan menolak.

__ADS_1


Lama-lama, Azlan merasa sangat gerah dengan ruangan itu. ia mendekati Alexa dan sedikit memajukan kepalanya ke arah Alexa untuk mengatakan sesuatu. “Bisakah kita pulang sekarang?”


Alexa menatap Azlan tajam. “Aku bosan mendengar kata-katamu. Bisa nggak sih kamu nggak selempeng ini? nggak betahan banget di tempat beginian?”


Jesy menyenggol lengan Alexa sebagai isyarat supaya Alexa tidak mengucapkan kata-kata yang dapat menyinggung Azlan.


“Udah deh, kamu tunggu aja di sana, duduk manis dan jangan ganggu aku,” ujar Alexa sembari menunjuk kursi tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Apakah kamu mencium hawa membahayakan untukku?”


“Ya.”


Menurut Azlan, bukan hanya Leo atau perampok saja yang berbahaya untuk Alexa, melainkan pergaulan bebas juga menjadi prioritas utama sebagai ancaman hidup Alexa.

__ADS_1


“O ya? kalau begitu lindungi aku saat bahaya itu mnegancamku. Sekarang kamu duduk manis aja.” Alexa melewati Azlan.


Bahu Azlan tersenggol dan sedikit mundur saat Alexa melintasinya.


Jesy tersenyum melintasi Azlan dan gadis itu mengikuti Alexa ke lantai bawah untuk berjoget.


Azlan tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali mengikuti kata-kata Alexa, ia duduk di kursi dengan kedua manik mata yang mengawasi Alexa. Sedikit saja Alexa terluka, itu akan menjadi tanggung jawabnya. Minimal ia memiliki beban di hadapan Pak Joan, yang dulu sempat menjadi atasannya saat di kantor.


“Azlan!”


Sontak Azlan menoleh ke arah suara yang emmanggil namanya. Selain Alexa dan Jesy, adakah orang lain yang mengenali namanya? Sepertinya tidak. Azlan mendapati sesosok gadis cantik berdiri di sisinya. Gadis berambut sepanjang punggung itu tersenyum sembari membungkukkan badan untuk menyetarakan pandangannya dengan Azlan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2