
Alexa memutar-mutar pena yang terselip di sela jari-jarinya, kemudian menekan pena tersebut ke kertas, hanya untuk membubuhkan tanda tangan saja ia membutuhkan waktu beberapa lamanya. Bukan karena isi surat yang membuatnya merasa harus berpikir panjang untuk membubuhkan tanda tangan, melainkan isi kepalanya sekarang sedang disumpal dengan satu nama, Azlan.
Satu pertanyaan di kepala Alexa, kenapa ia memiliki sebegitu besar cinta untuk Azlan? Jika dipikir-pikir, Azlan hanyalah pria biasa, yang hanya memiliki kelebihan fisik saja, tapi entah kenapa perasaannya tumbuh begitu subur. Bahkan ia juga bisa menjelma menjadi seperti orang bodoh saat Azlan emmerintahnya untuk melakukan tujuh tugas yang sampai saat ini ia belum ketahui apa saja enam tuga sberikutnya setelah satu tugas sudah ia selesaikan, yaitu membaca buku yang isinya lumayan membuat hatinya tergerak untuk wajib taat pada suami. Ia tersenyum mengenang bahwa janji untuk seorang istri yang taat pada suami dalam perkara baik adalah jannah. Si istri berhak memilih pintu surga mana yang dia mau. Sepele bukan?
“Hah?” Alexa terkejut melihat namanya yang tertera di kertas hilang dua huruf. Ya, dua huruf bagian depan hilang akibat tinta penanya yang meleleh dan melebar setelah dia menekan ujung pena ke kertas dan lupa mengangkatnya. Ya ampun. Teledor banget.
Alexa menekan intercom dan memanggil Arul yang baru saja diangkat menjadi asistennya. “Rul, ke ruanganku sebentar!”
“Baik, Nona!” jawab Arul bersemangat. Bagaimnaa tidak? Alexa adalah sosok yang dia kagumi. Melihat Alexa adalah bagian paling menarik dalam hidupnya. Entah sampai kapan ia terus mengagumi Alexa sementara wanita yang dia kagumi adalah istri orang. Halah, sekedar mengagumi mah nggak apa-apa, asal tidak mengganggu hubungan Alexa dan Azlan. Begitu pikirnya.
Alexa mengangkat wajah saat Arul muncul dan berdiri di hadapannya.
“Ada apa, Nona?” tanya Arul dengan tubuh setengah menunduk sebagai tanda hormat.
“Ini suratnya kamu ganti deh dengan yang baru!” titah Alexa sambil mengambil lembaran paling atas dan menyerahkannya kepada Arul.
Arul terkejut menatap kertas yang seperti diberi tembong itu. “Maksudnya, saya disuruh bikin ulang surat kesepakatan ini?”
“Iya. Kenapa? Kamu keberatan?” hardik Alexa melihat muka Arul yang tidak bisa dibohongi kalau dia memang keberatan.
“Bukan begitu maksudnya, tapi ini kan sudah ditanda tangani oleh banyak pihak. hanya tinggal Nona Alexa dan Pak Joan saja yang belum menandatangani. Nah, kalau saya bikin baru, artinya saya mesti maintain tanda tangan lagi ke banyak orang yang terkait.” Bukan karena harus berkeliling menghadap ke meja para petinggi perusahaan yang membuat Arul kesulitan meminta tanda tangan, melainkan mulut pedas para pejabatlah yang membuatnya keberatan melakukannya. Contohnya saja saat menghadap Kikan, staf yang mulutnya nyinyir banget, tentu saja dia akan mengomel saat Arul meminta tanda tangan dua kali pada surat yang sama.
Tatapan mata Alexa kian menajam. Ia mengubah posisi duduknya yang tadinya punggungnya menyandar di sandaran kursi, kini tegak lurus. Dia meletakkan pena ke meja dengan hentakan kuat. “Aku memerintahmu, kerjakan saja!”
Ya ampun, gini amat jadi bawahan. Suka-suka bos deh. Hancuuur hancur hatiku. Untung cantik.
“Apa kamu bilang?” hardik Alexa kemudian bangkit berdiri.
__ADS_1
“Apa memangnya, Non?” Arul tergagap bingung. Perasaan dia hanya bicara di dalam hati tadi, tapi bagaimana bisa Alexa mendengar ucapannya itu? Oh… sepertinya ia keceplosan dan mengucapkan seruan itu tanpa sadar.
“Heh, kamu di sini bekerja untuk digaji.” Alexa memutari mejanya, mendekati Arul dan berdiri di sisi pria itu. Dia sandarkan pinggangnya di meja. “Apa kamu mau gajimu kupangkas?”
“Wah, jangan, Nona! Cukup si unyil saja yang dipangkas.”
“Unyil apa maksudmu?”
“Aheee… Bukan apa-apa. Baiklah, saya akan membuat surat yang baru. Permisi.” Arul balik badan kemudian meninggalkan ruangan. Namun saat di ambang pintu, Arul kembali menoleh kemudian berkata, “Nona, salam untuk Jesy.”
Alexa geleng-geleng kepala. Dasar Arul, tergila-gila pada Jesy.
Untung saja Alexa tidak ngeh maksud ucapan Arul tentang si unyil. Memang hanya si unyil yang memerlukan pemangkasan saat khitan.
Alexa kembali duduk ke kursinya. Manik matanya bergerak ke arah pintu saat mendengar suara pintu kembali dibuka. Wah cepat sekali Arul membuat surat yang baru. Begitu pikirnya. Tapi ternyata yang muncul bukan Arul, melainkan Azlan.
Azlan tersenyum kemudian mendekati kursi Alexa. Ia berdiri di sisi kursi, satu tangannya merangkul sandaran kursi, ia setengah membungkuk dan mengecup pelipis Alexa.
“Pulang? Jam berapa ini?” Alexa melirik arloji di tangannya, kemudian ia menepuk keningnya sendiri. “Astaga, udah sore. Kenapa aku sampai nggak menyadarinya?”
“Hei… Jadi begini kalau istriku sedang disibukkan dengan pekerjaan? Sampai-sampai lupa sama waktu.” Azlan meletakkan ibu jarinya ke kening Alexa dan menariknya sampai ke ujung hidung Alexa.
Alexa tertawa.
“Planingnya jadi, kan?” Tanya Azlan.
“Planing apa?”
__ADS_1
“Ehm… Kamu melupakannya. Ketemu bundaku.”
“Ooh… Iya, jadi. Oke oke, ayo kita berangkat sekarang.” Alexa bangkit berdiri. Ia mendekati meja kecil dan meraih tasnya lalu menggantungkannya ke bahu.
Betapa senangnya Alexa diajak bertemu dengan ibunya Azlan. Hatinya gembira sekali. Ia ingin memiliki sosok seorang Ibu, ingin mendapatkan perhatian dari sosok seorang ibu, yang kemungkinan akan dia dapatkan dari bunda Dinda. Tidak terpikir di kepalanya tentang ibu mertua yang jahat seperti kata orang-orang. Sosok mertua menurut banyak orang memang mengerikan bagi wanita, tapi Alexa tidak pernah terpikir ke situ. Ia malah mengharap bisa mendapat perhatian dan kasih sayang lebih dari mertuanya.
“Ayo!” Azlan melenggang. Namun langkahnya terhenti saat lengan mungil Alexa melingkar di lengannya. Azlan tersenyum menatap lengan yang melingkar di lengannya itu.
“Tunggu!”
Azlan berhenti dan mengangkat alis. “Kenapa?”
“Aku kangen.” Alexa terkikik kecil.
Lagi, Azlan tersenyum. Ia menghadap Alexa dan membiarkan wanita itu mendekatkan wajahnya lalu menyatukan bibir mereka.
Sontak Alexa memundurkan kepalanya saat sudut matanya menangkap pemandangan seseorang yang masuk ruangan. Tak lain Arul.
“Eh, maaf. Seharusnya saya nggak masuk,” ucap Arul salah tingkah. Aneh, dia yang memergoki bosnya tapi malah dia yang kikuk. Batinnya mulai berkecamuk dan meronta ingin kawin. Astaga. Pemandangan tadi murni membuatnya ingin segera melamar Jesy supaya bisa melakukan hal seperti yang dia lihat tadi. “Saya nggak lihat apa-apa, kok.” Arul melangkah masuk melewati Azlan dan Alexa kemudian meletakkan sebuah kertas ke meja Alexa.
“Kenapa kamu nggak ketok pintu dulu, hah?” hardik Alexa.
“Loh, saya kan udah ketokin sampai tiga kali malah,” jawab Arul sekenanya. Ia ingat sudah jelas-jelas mengetuk pintu sebelum masuk ruangan tadi.
Saking asiknya, Alexa dan Azlan sampai tidak mendengar suara ketukan pintu.
“Ya sudah, keluar sana!” titah Alexa.
__ADS_1
Arul mengangguk dan pergi.
TBC