Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Sebelas


__ADS_3

“Antar aku ke kantor!” titah Azlan yang duduk di jok belakang.


“Siap, Tuan Muda!” Sunil mengacungkan jempolnya membuat Azlan tersenyum tipis.


“Sunil, apa yang terjadi selama aku nggak ada di rumah?”


“Mm... Nggak ada, Tuan. Semuanya baik-baik aja.”


“Kamu yakin?” Azlan mengamati kening Sunil yang mengernyit. Ia merasa seperti ada yang disembunyikan oleh supirnya itu.


“Ya... Yakin.”


“Jangan menyembunyikan apa pun dariku. Kamu akan menanggung resiko besar kalau sampai menyembunikan hal yang nggak baik.” Azlan bersikap seakan sedang mengancam. Ekspresi wajah Sunil membuatnya merasa ada hal yang disembunyikan supirnya itu. tapi ia tidak tahu itu apa. Entah hal itu menyangkut dirinya atau tidak.


“E enggak.. Ah, Tuan bisa banget mengancam aku. Nggak ada apa-apa, kok.”


“Sekali lagi kutanya, kamu yakin?.”


“Yakin.”


“Kok, mukamu kayak menyembunyiin sesuatu gitu?”


Sunil mengusap wajahnya. Ia melirik spion di atasnya, melirik wajah Tuan Mudanya, detik berikutnya ia memalingkan pandangan. “Anu... itu... aku nggak tahu kok kayaknya ada sesuatu yang nggak beres sama Arga.”


“Arga? Arga kenapa?” Azlan menatap wajah Sunil yang hanya tertangkap separuh dari posisinya duduk.


“Aku curiga sama Arga, kayaknya dia bukan orang baik-baik.”


“Maksudmu ini apa?”


“Sepertinya dia ada niat jahat sama keluarga Nona Alexa.”


“Niat jahat apa maksudmu?” Azlan menyelidiki.


“Justru itu yang aku nggak tahu.”

__ADS_1


“Jangan suudzon, nanti bisa fitnah.”


“Ah, lupakan, Tuan. Mungkin memang benar aku hanya sebatas prasangka.”


“Apa yang membuatmu berprasangka padanya?”


“Gerak-geriknya mencurigakan.”


“Kamu awasi aja dia kalau memang dia mencurigakan.”


Azlan sempat berhenti di konter dan membeli ponsel lengkap dengan kartunya. Kemudian mobil kembali melaju menuju kantor. Azlan menyalin omer nAlexa dan beberapa nomer orang-orang yang dia kenal melalui ponsel Sunil. Kemudian ia mengirim chat kepada Alexa.


Azlan


Ini nomerku


Azlan


Alexa


Azlan


Udah bangun?


Alexa


Udah.


Baru selesai mandi


Azlan


Oke


Mobil berbeolok memasuki area halaman perkantoran. Azlan turun dari mobil kemudian menelepon Arul.

__ADS_1


“Aku Azlan, keluarlah sebentar dari kantor. Aku ada perlu!” titah Azlan.


“Oke, bos!” sahut Arul di seberang.


Azlan kembali memasukkan ponsel ke saku kemeja. Ia berdiri di halaman kantor sembari melihat-lihat kondisi terkini kantor yang beberapa bulan terakhir dia tinggalkan. Semuanya masih sama seperti terakhir kali dia lihat. Azlan mengesah menatap sekeliling, dia benar-benar sudah bisa mengingat semuanya.


Tak lama kemudian Arul muncul, pria itu tidak sendiri, dia bersama degan Yakub.


Yakub memeluk Azlan sebentar sambil berkata, “Apa kabar lo?”


“Baik.”


Arul ikut-ikutan memeluk Azlan sebentar.


“Arul, tolong antar motor ini ke pemiliknya.” Azlan memberikan kunci motor ke tangan Arul. “Gue menyewanya tadi.”


“Ooh...” Arul mengangguk.


“Alamatnya gue kirim ke lo.” Azlan kembali meraih ponsel, mengetik sms kemudian mengirimnya kepada Arul.


Arul membaca pesan tersebut sembari mengangguk. “Uang sewanya udah lo bayar, kan?”


“Udah.”


“Oke oke.” Arul melenggang menuju motor yang sudah diparkirkan di parkiran roda dua.


Pandangan Azlan tertuju ke arah Yakub, sahabatnya itu terlihat tampan dengan rambut klimis rapi.


“Lama lo pergi dan nggak ada kabar. Kemana lo selama ini?” tanya Yakub.


Azlan menarik nafas panjang-panjang. “Inilah yang menjadi masalah sekarang. Kub, gue batalin niat ke proyek karena gue dapet kabar kalau bunda sakit keras. Gue langsung putar arah dan gue balik ke kampung. Di perjalanan saat udah hampir sampai ke kampung, gue kecelakaan. Setelah itu gue koma cukup lama. Saat siuman, gue sempet nggak inget apapun dengan apa yang terjadi sebelumnya.”


“Ya Tuhan, itu musibah. Gue nggak nyangka kejadiannya begitu,” komentar Yakub turut prihatin.


TBC

__ADS_1


__ADS_2