
Kali ini Azlan tidak lagi menjawab perkataan Pak Joan. Apa kaitannya antara bodyguard dengan pekerjaan itu? Azlan tidak mau protes. Beginilah menjadi bawahan, harus patuh. Sebenarnya bukan alasan takut dipecat yang membuat Azlan patuh, tapi murni berniat membantu. Memang, tanpa kepatuhan, priuk dapur bundanya menjadi taruhan. Yang jelas, Azlan murni ingin berbagi ilmu kepada siapapun tanpa terkecuali, itu saja.
“Baiklah, saya permisi.” Azlan berdiri membawa kertas-kertas itu. ia berbalik dan berjalan menuju ke pintu. Pintu terbuka sebelum ia menyentuhnya, Alexa masuk.
Gadis itu berjalan anggun memasuki ruangan Pak Joan berpapasan dengan Azlan.
Azlan meraih handle pintu.
“Azlan!”
Panggilan Pak Joan membuat kepala Azlan menoleh.
“Ada yang lupa, kemari kau!” Pak Joan melambaikan tangan.
Alexa sudah duduk di kursi depan Pak Joan dengan kaki menyilang. Azlan duduk di samping Alexa. Pandangannya fokus ke wajah Pak Joan.
“Ada lagi yang perlu dibicarakan?” tanya Azlan.
“Begini, soal yang tadi jangan sampai ketahuan orang ya! Kerjakan di rumah saat tidak ada siapa-siapa! Kau pasti punya waktu senggang, kan?”
“Baik, Pak,” singkat Azlan tanpa banyak bertanya lagi.
“Tentu. Ada lagi, Pak?” tanya Azlan.
__ADS_1
Pak Joan berpikir, kemudian menggeleng.
“Baik, saya permisi.” Azlan berdiri.
“Tunggu!” sergah Alexa.
Azlan berhenti dan menatap tangannya yang dipegang Alexa. Gerakan tangan Alexa yang mengagetkannya membuat selembar kertas di tangannya terjatuh. Alexa melepas pegangannya, lalu cepat-cepat mengambil kertas yang terjatuh. Ia sempat mengamati kertas itu dan dahinya mengernyit, ia kemudian menatap Papanya.
“Pa, ini... Jadi papa memberi perusahaan di Bogor ke mama?” tanya Alexa setelah membaca sekilas isi kertas.
Pak Joan mengangguk.
“Aku nggak suka papa terlalu royal ke mama,” sewot Alexa kesal.
“Lexa, berikan sedikit kepercayaan untuk mamamu, biarkan mamamu menikmati jabatan dan kesenangan.”
Pak Joan hanya diam saja menatap perbuatan putrinya. Alexa kemudian melenggang menuju pintu, ia membatalkan niatnya yang hendak memberi laporan kepada papanya. Map yang sejak tadi ada di tangannya, dia bawa keluar kembali.
“Saya permisi, pak,” ucap Azlan.
“Ya.” Pak Joan mengangguk.
Azlan keluar. Ia menoleh saat mendapati Alexa berdiri di dekat pintu luar.
__ADS_1
“Nona menungguku?” tanya Azlan.
“Ya. aku lapar dan ingin makan. Temani aku ke kantin lantai bawah.” Alexa melenggang.
Azlan mengikuti gadis itu.
Sesampainya di kantin, Alexa menuju meja pesanan, ia mengangkut makanannya menuju ke mejanya. Azlan masih berdiri di meja pesanan menunggu makanan pesanannya selesai. Tiba-tiba hidungnya mencium aroma parfum yang menyengat, ia menoleh ke samping menyadari ada orang lain selain dirinya yang berdiri di sana. Kikan. Gadis itu tersenyum menatap Azlan.
“Apa kabar?” tanya Kikan masih dengan senyum lebar.
Melihat gadis itu, Azlan teringat kejadian di club. Ya ampun, gadis itu yang kemarin berhasil melumpuhkan imannya.
“Kamu kembali bekerja di sini?” tanya Kikan lagi.
“Aku mau bicara denganmu.”
“Penting? Apa perlu kita bicara empat mata?”
“Ya.”
“Baiklah,” Kikan mengangguk dengan tenangnya.
“Mbak, pesananku kucancel dulu,” seru Azlan pada pegawai kantin. Ia kemudian melenggang pergi menuju ke arah samping kantin diikuti oleh Kikan.
__ADS_1
Alexa yang melihat Azlan pergi meninggalkan kantin bersama Kikan terkejut, ia sampai tersedak saat menelan makanannya. Sial! Kenapa lagi Azlan berduaan sama Kikan?
TBC