
“Hei, kamu sadar apa yang kamu lakukan?” Alexa menepuk punggung Azlan, berusaha membuat pria itu bangun dari angan-angannya. “Gelas di tanganku sampai pecah, lihatlah! Ya ampun.”
Azlan melepas pelukannya. Ia memundurkan tubuhnya, memberi jarak diantara mereka.
“Aw!” Alexa memekik saat ia mundur selangkah dan tumitnya mengenai serpihan kaca akibat tumitnya tergelincir dari high heels yang dia kenakan. Alexa sedikit menunduk dan merintih menatap luka di tumitnya. “Ah ya ampun, lihat ini akibat ulahmu!” “Ah ya ampun, lihat ini akibat ulahmu!”
Alexa membelalak saat menyadari kedua kakinya tiba-tiba melayang di udara da tubuhya berada dalam gendongan Azlan. Spontan tangan kanan Alexa mengalung di leher Azlan untuk berpegangan. Manik matanya terarah ke wajah Azlan yang berada sangat dekat dengan wajahnya.
“Kamu mau mencoba untuk bertanggung jawab, hm?” ketus Alexa mencibir sikap Azlan. “Ini nggak bisa membayar kesalahanmu yang main selonong seperti tadi.” Darah di kaki Alexa menetes-netes namun suara gadis itu masih saja lantang. Dia memang gadis baja.
Azlan meletakkan tubuh Alexa ke sofa. Kemudian ia menghilang sebentar dan kembali membawa kotak obat. Ia kini dalam posisi jongkok, menyentuh kaki Alexa, mengobatinya dengan obat merah dan menutupnya dengan kain kasa.
Alexa memperhatikan setiap gerakan tangan Azlan saat pria itu mengobati lukanya.
“Kamu belum menjawabku, Azlan. Kenapa tadi kamu bersikap aneh? Tiba-tiba peluk aku seteah tadi kamu seakan nggak ingin sedekat itu sama aku? Ayo, jawab!”
__ADS_1
Azlan geleng-geleng kepala. “Kamu memang nggak berubah. Masih aja menyimpan sifat emosimu.” Azlan menyentil ujung mancung hidung Alexa. “Dalam keadaan terluka pun masih aja sempet ngomel.”
“Kamu yang memulai bikin aku ngomel, kalau mau peluk itu yang wajar. Jangan main selonong aja. Gelas di tanganku jadi jatuh dan pecah, lihat sendiri akibatnya nih, kakiku jadi korban.”
Azlan bangkit berdiri. “Hanya luka kecil, nanti juga sembuh. Sori, tadi aku khilaf.”
“Whatever, deh. Males ngebahas lagi. tapi yang sekarang mesti aku tau, atas alasan apa kamu mesti memakai baju kurir begini?” Alexa mengibaskan lengan baju Azlan dengan pandangan mencemeeh. “Istri seorang Alexa Lian menjadi kurir, apa itu nggak aneh?”
Azlan tersenyum tipis melihat kekesalan Alexa. “Aku terjebak dalam situasi sulit. Aku mesti menjadi kurir untuk bisa pulang, demi rupiah.”
“Astaga, apa kamu nggak bisa menghubungiku, atau menghubungi Yakub untuk minta dikirimin uang?”
“Ya sudahlah.”
Alexa mencium aroma khas dan ia menoleh ke arah Azlan yang begitu sigap menangkap tubuhnya yang hampir terbanting di lantai.
__ADS_1
“Oh.. kamu begitu cekatan,” gumam Alexa tanpa mendapat balasan dari Azlan.
Azlan membopong tubuh berat itu menaiki anak tangga. Tatapan mata Azlan tertuju ke mata Alexa, keduanya bertukar pandang.
“Bisakah kamu ngeliat arah jalan, nanti kamu bisa kesandung,” protes Alexa.
Azlan menggeleng.
“Aku nggak masalah dengan kakimu yang kesandung. Tapi akan menjadi masalah kalau tubuhku yang terhentak di lantai. Itu sakit.” Alexa mencubit pinggang Azlan.
“Hentikan cubitanmu!” titah Azlan saat ia merasakan cubitan itu semakin menyakitkan.
“Kamu merasa kesakitan?”
“Justru cubitanmu ini yang akan bisa membuatmu terjatuh.”
__ADS_1
Alexa melepas cubitannya. Ia meletakkan kepalanya ke pundak Azlan, rasnaya nyaman.
TBC