
Alexa menjawab teleponnya yang baru saja berdering. Telepon yang bersumber dari nomer asing. Suara Mekka menyahut di seberang.
“Alexa, aku Mekka. Aku mendapat nomermu dari sekretarismu, Arul. Aku sudah di basement.” Mekka menoleh ke kanan kiri mencari keberadaan Alexa. lantai basement dipenuhi dengan berbagai jenis roda empat yang terparkir. Dan ia tidak tahu dimana keberadaan Alexa.
Alexa menyalakan lampu mobilnya, kedip-kedip. Pemandangan itu membuat Mekka fokus ke arah mobil Alexa. Melalui kaca mobil yang terbuka, ia melihat Alexa melambaikan tangan. Mekka memutus sambungan telepon dan mendekati mobil Alexa. ia menunjuk jok mobil di sisi Alexa sebagai isyarat minta ijin masuk dan langsung diangguki oleh Alexa.
“Maaf, agak lama!” ucap Mekka merasa tak enak karena takut Alexa kelamaan menunggu.
“No problem.” Alexa mulai menjalankan mobil. “Kamu nggak masalah kalau aku membawamu jalan sebentar?”
__ADS_1
“Waow… Aku malah seneng.” Mekka tersenyum. Meski sejujurnya hatinya terluka setiap kali melihat Azlan berduaan dengan Alexa, namun ia berusaha menyisihkan perasaan sakitnya itu dan menutupinya dengan senyum samar. Entah sampai kapan Mekka tidak bisa move on. Sampai kini, hatinya masih terpaut pada Azlan. Pria pertama yang membuatnya merasa jatuh cinta.
Dan situasi seperti saat ini, Mekka merasa bahagia bisa sedekat itu dengan Alexa dan bahkan bisa seakrab sekarang. Awalnya, ia tidak yakin akan bisa dekat atau bahkan berhubungan baik dengan Alexa, namun ternyata dugaannya salah. Dan hubungan baik yang terjalin sekarang, membuatnya merasa seperti memiliki saudara baru.
Mobil bergerak keluar dari lantai basement, melintasi gerbang dan melaju di jalan raya.
Sepanjang perjalanan, keduanya berbincang hangat. Dan anehnya, keduanya bisa langsung akrab bak sudah saling mengenal setahun silam. Kehangatn sikap Mekka serta hausnya Alexa akan kasih sayang, membuat keduanya seperti saling melengkapi, saling membutuhkan dan saling berbagi rasa.
Berbeda dengan Mekka yang mandiri, segala sesuatu selalu dia kerjakan sendiri mengingat dia tinggal sendirian di kontrakan. Urusan dapur pun menjadi urusan pertama baginya. Namun demikian, penampilan juga menjadi prioritas baginya, mengingat ia bekerja di perusahaan ternama.
__ADS_1
Alexa dan Mekka duduk di tepi sungai. Keduanya menatap air beriak yang jernih hingga dasar sungai pun menjadi objek pemandangan yang menyejukkan mata.
“Mekka, aku ingin menanyakan sesuatu mengenai Azlan,” ucap Alexa dengan pandangan tertuju ke air yang mengalir.
Mekka melirik Alexa. hatinya seperti tersengat mendengar nama Azlan disebut oleh Alexa. “Hm ya, kenapa? Tangain aja!”
“Kamu menikah dengannya sebelum kamu tahu kalau dia adalah suamiku. Dan sekarang dia menjadi mantan suamimu disaat dia masih menjadi suamiku. Apakah ini berat untukmu?” Tanya Alexa.
Mekka menarik nafas panjang-panjang berusaha menepikan rasa nyeri di hatinya. “Enggak. Aku nggak apa-apa. Meski aku harus sering dipertemukan dengannya dan melihatnya bersamamu, aku nggak masalah.”
__ADS_1
TBC