Suami Sensasional

Suami Sensasional
Dua Ratus Sepuluh


__ADS_3

Azlan membuka mata perlahan, manik matanya bergerak melihat ke sekeliling. Pandangannya agak buram, dan ia kembali terpejam untuk memulihkan penglihatan. Sesaat setelahnya, kelopak matanya kembali terbuka. Setelah pandangan agak terang, ia mengamati sekeliling.


Terdengar suara kecil saling bersahutan di sekitarnya. Suara-suara orang-orang yang merasa bahagia melihatnya membuka mata.


“Bunda!” lirihnya memanggil Bundanya yang berdiri di sisi ranjang tempatnya berbaring. Manik matanya bergerak dan mendapati Lala, adik terbesarnya yang tumbuh semakin dewasa. “Lala!”


“Iya, Mas!” Lala mendekati kakak sulungnya, siaga.


Azlan tersenyum. Selama dua hari, Azlan terbaring, tak sadarkan diri. Dan ini adalah hari kedua setelah ia siuman dari kecelakaan dan sudah dipindahkan ke ruang rawat. Kondisinya kini sudah sedikit membaik meski tangan dan kakinya dalam keadaan dibalut perban.


“Bunda, aku ingin bertemu dengan Alexa, bawa aku bertemu dengannya! Dia di rumah sakit ini juga kan?” Tanya Azlan.


Bunda Dinda mengusung senyum samar. “Kondisimu masih belum pulih. Kau akan kubawa bertemu dengannya setelah keadaanmu membaik. Kau pulanglah dulu ke rumah, baru kau bisa menanyakan istrimu.”

__ADS_1


“Jadi Alexa sudah lebih dulu diijinkan pulang?”


“Alexa melahirkan secara caesar karena kondisi yang tidak memungkinkan untuknya melahirkan secara normal. Tiga hari dia dirawat di rumah sakit, kemudian dibawa pulang. Sedangkan di hari ke empat, kau masih di sini. Dua hari kau tidak sadarkan diri.”


Di hari pertama setelah aku siuman, bunda tidak mengijinkanku bertemu dengan Alexa dan anak-anakku.”


“Bukan bunda yang tidak mengijinkamu, tapi dokter. Kamu masih belum diperbolehkan untuk bergerak. Sedangkan kedua anak-anakmu masih berada di dalam incubator, dan mereka belum diperbolehkan keluar dari incubator. Bersabarlah untuk bisa bertemu dengan mereka.”


Azlan mengangguk sambil mengulas senyum. Ia yakin akan bisa secepatnya sembuh dan bangkit dari ranjang yang bau obat itu. Sebab keinginannya untuk bertemu istri dan anak-anaknya menjadi motivasi kesembuhan baginya, seperti cambuk yang memaksanya untuk bangkit.


***


Mekka menggendong bayi laki-laki, sedangkan Yakub menggendong bayi perempuan. Mereka berjalan keluar kamar rumah sakit beriringan. Mekka salut melihat Yakub yang terlihat luwes menggendong bayi merah yang sangat kecil sekali. Dia seperti sudah berpengalaman saja, padahal murni lajangan. Tapi dia memang seperti sosok yang memiliki kelebihan.

__ADS_1


“Kenapa jadi kita yang seperti memiliki anak?” gurau Yakub dengan suaranya yang khas, kalem dan bijaksana. Sehingga kalimat itu terdengar seperti bukan gurauan semata.


Mekka melirik Yakub sambil tertawa ringan. Ia dan Yakub bersedia membantu Azlan, mengurus dua bayi dan membawa si bayi pulang ke rumah. Satu-satunya alasan keduanya adalah hal yang sama, yaitu membantu muslim yang lain.


“Mungkin ini adalah panggilan untuk hatimu, Mas. Supaya kamu cepat-cepat punya pendamping hidup,” sahut Mekka.


“Doakan saja supaya ada wanita solehah yang bersedia menjadi istriku.” Yakub menyahut dengan ringannya.


Mereka pulang dengan naik mobil milik Yakub. Arul yang menyetir.


Mekka dan Yakub duduk di jok belakang. Sepanjang perjalanan, mereka bertiga mengobrol dengan tema yang tidak berubah, yaitu tentang keluarga kecil Azlan.


Inilah yang dinamakan indahnya bersaudara. Hingga saat dalam membutuhkan pun, mereka bisa saling bantu membantu, seperti saudara. Weni sudah mempersiapkan sleuruh keperluan baby di kamar bayi. Lengkap tanpa ada yang terlewatkan. Mulai dari dua box tempat tidur bayi, pakaian, popok, dan segala keperluan bayi yang tersusun rapi di kamar itu. kamar bagian kiri tercetak dengan nuansa cowok dan kamar bagian kanan tercipta dengan nuansa cewek.

__ADS_1


Mekka dan Yakub mengurus dua bayi itu dengan tulus. Weni juga ada di kamar itu untuk bersiaga, siap menjalankan tugas jika dibutuhkan.


TBC


__ADS_2