
Azlan mengikuti Alexa memasuki ruangan luas, ruangan central aktifitas kantor, sekilas pandangan Azlan mengedar ke seisi ruangan. Seluruh karyawan tampak sibuk bekerja, entah pura-pura sibuk bekerja, atau memang sibuk betulan.
Ada puluhan meja yang berjajar rapi membentuk barisan seperti susunan meja anak sekolah. Hanya saja, di central room tersebut dibagi menjadi empat deret meja, dua deret di sebelah kanan, dua deret di sebelah kiri, yang masing-masing deret meja antara kiri dan kanan, berhadapan. Tengah-tengahnya diberi space lebar untuk lalu lintas.
Azlan berjalan dengan langkah lebar melintasi sederet meja karyawan yang masing-masing diberi pembatas setinggi hidung. Antara satu karyawan bisa bertatapan dengan karyawan lainnya jika melongok dan memanjangkan lehernya.
Siang itu situasi di central room terasa berbeda bagi Azlan. Jika dulu para gadis saling lirik saat melihat Azlan melintas, ada yang merapikan rambut, ada yang memperhatikan ketampanan Azlan, ada yang pura-pura berdiri dan meninggalkan meja hanya demi supaya bisa berpapasan dengan Azlan dan mendapatkan senyum aduhai pelemah jantung saat berada semeter di depan Azlan. Tapi kali ini berbeda, pandangan mereka seperti memiliki unsur yang aneh menurut Azlan.
Azlan tahu, pasti gara-gara kejadian di lift yang tentunya menjadi gosip menarik bagi mereka.
“Ehm..”
__ADS_1
Salah seorang gadis berdehem saat Azlan melintas tepat di depannya.
Alexa tidak perduli dengan deheman itu meski ia tahu deheman ditujukan untuk Azlan. Bukan hanya Alexa, Azlan bahkan mendengar bisikan para gadis yang memujinya, tapi ia mengambil sikap tenang. Sementara suara yang berunsur pergunjingan buruk, sepertinya tidak sampai ke telinganya. Namun Azlan dapat merasakan hawa kurang baik melalui sorot mata mereka yang terkesan menghakimi. Bukan sekedar prasangka, namun Arul mengatakan kalau Azlan memang menjadi buah bibir gara-gara kasus di lift bersama Alexa. Sungguh aneh, mereka malah kelihatan lebih sibuk membicarakan dirinya ketimbang mengerjakan pekerjaan mereka.
Kini Azlan mengalami bagaimana rasanya menjadi bahan pergunjingan orang.
Lantas bagaimana cara Azlan menghapus isu buruk itu? Rasanya menyedihkan dikatakan ganteng-ganteng serigala, bukan? Apa enaknya dipuji ganteng, tapi kalau ujungnya diberi embel-embel binatang?
Pasti suara Amira. Dialah satu-satunya gadis yang terang-terangan mengatakan menjadi pengagum sosok Azlan. Meski rumor buruk tentang Azlan yang beredar saat itu sedang gencar-gencarnya, namun sikap dan kecentilan Amira tidak berubah. Tidak ada yang seberani Amira, gadis itu memang suka nyablak.
Azlan menoleh ke arah gadis yang nyengir lebar itu. gadis itu sampai harus berdiri demi bisa memperlihatkan barisan giginya yang rapi kepada Azlan. Tak perduli dia adalah bawahan, yang penting dia senang.
__ADS_1
Azlan menganggukkan kepala menanggapi sapaan Amira.
Anggukan Azlan sontak disambut batuk-batukan oleh gadis lainnya. Dan Amira? Gadis itu langsung menjingkrak senang dan menjulurkan lidah pada yang lain menunjukkan kalau dia mendapat perhatian khusus.
Sementara yang pria, hanya diam dan bertukar pandang. Mereka hanya akan mendengungkan suara kasak-kusuk ketika Alexa yang melintas di depan ruangan.
Alexa bersikap pura-pura tidak perduli dengan sambutan para gadis terhadap Azlan, meski sebenarnya hatinya sebel. Tentu saja Azlan menjadi idola para gadis, dia memang memikat.
Azlan tidak lagi mendengar kasak-kusuk pembicaraan orang setelah ia berbelok. Ia menuju lift yang langsung menghubungkannya ke lantai ruangan Alexa. Begitu sampai di lantai yang dituju, Azlan langsung menekan ibu jarinya ke mesin mini yang ada di dekat pintu, yang membuat pintu otomatis bergerak dan terbuka.
TBC
__ADS_1