
Sepeninggalan Alexa, Pak Joan menatap Azlan. “Apa antara kamu dan Alexa ada hubungan?”
Azlan balas menatap bosnya. Ia meraskan ada sesuatu hal yang berebda dari pertanyaan pak Joan. Sepertinya Pak Joan menaruh curiga. Azlan tidak tahu apakah Pak Joan akan marah jika kecurigaannya benar, atau sebaliknya.
“Hubungan kami hanya sebatas bos dan bodyguard,” jelas Azlan tegas.
Pak Joan menatap Azlan intens. Ia seperti sedang menilai-nilai.
“Ingat Azlan, Alexa itu satu-satunya putriku. Kupercayakan padamu untuk menjaganya. Dengan adanya bodyguard yang menjaganya, kuharap dia akan selalu baik-baik saja. Dia pernah dilamar seorang laki-laki dan dia menolaknya. Sampai saat ini, pria itu seperti merasa sakit hati dan tidak berhenti mengejar Alexa. kamu harus menjaga Alexa dari itu.”
Azlan mengangguk. Ia mengerti, dimaksud Pak Joan adalah Leo. “Kenapa Alexa menolak pria itu?”
“Bukan hanya Alexa, aku juga menolaknya.”
“Apakah dia bukan kriteria menantu yang bapak harapkan?” Entah kenapa Azlan malah tertarik membahas hal itu.
“Dia pria tidak baik. Alexa tidak membutuhkan pendamping hidup seperti dia.”
“Lalu pendamping hidup seperti apa yang bapak inginkan untuk putri Bapak?”
__ADS_1
Ah, Azlan kepo jadinya.
Pak Joan tersenyum samar. “Yang jelas yang tidak sepertiku.” Pak Joan meneguk air mineral. “Nanti bawa Alexa ke kantor! Saya berangkat duluan!” Pak Joan bangkit setelah mengelap sekeliling mulut dengan tisu dan membuang tisu sembarangan. Lelaki berperawakan tegap dan gagah itu melenggang pergi.
Azlan masih diam terpaku, dia bahkan belum sempat menganggukkan kepala dan bosnya itu sudah pergi. Ia menyudahi sarapan dengan meneguk susu yang dihidangkan oleh Weni.
“Kamu kok masih di sini?” tanya Azlan yang melihat Weni masih berdiri di sisinya setelah meletakkan segelas susu.
Weni tersenyum sipu. “Boleh saya bicara sesuatu?”
Azlan mengernyit heran melihat Weni yang berbicara dengan malu-malu.
“Itu loh, ada yang kotor di kemeja Mas Azlan.” Weni menjulurkan tangannya mengusap pundak Azlan, berusaha membuang benda yang menempel di kemeja pria itu.
“Makasih, Wen.” Azlan segera melenggang pergi menuju ke teras. Ia menunggu nonanya di sana. Tak lama ia mencium aroma wangi dan ia menoleh ke sumber aroma, ternyata Alexa sudah muncul.
Gadis itu mengenakan baju lengan panjang dan celana jeans panjang.
Cantik.
__ADS_1
Azlan menggeleng sebentar menyadari hatinya telah memuji kecantikan wajah Alexa yang setiap incinya benar-benar tampak indah.
“Bisa aku minta tolong?” Alexa menatap Azlan.
“Ya. Apa?”
“Ikatkan tali bajuku di belakang ini.” Dengan entengnya Alexa mengumpulkan rambut panjangnya yang tergerai ke samping, pada satu pundak hingga Azlan melihat tali baju yang melambai di punggung gadis itu yang polos karena baju bagian punggung sedikit terbuka.
Azlan menarik nafas. Ya Allah, godaan lagi. Haruskan dia terus-terusan dihadapkan pada kasus beginian dengan gadis yang menguji imannya itu? Huuh, sampai dimana imannya kuat? Kalau begini terus, Azlan bisa khilaf, Ya Allah.
Azlan mendekati Alexa dan mengikat tali baju yang dimaksud.
“E eeh... ya ampun, kamu ini bagaimana? Kok leherku malah dicekik gini?” Alexa menjauh dari tangan Azlan dan menoleh, menatap pria itu dnegan tajam.
“Maaf.” Azlan yang sejak tadi mengikat tali tanpa menatap ke bagian kain yang diikat, sontak ia menatap ke arah Alexa.
“Apa makudmu? Mau bikin aku jadi pocong ya? Ini tuh talinya melingkar di leherku, jangan kenceng-kenceng ngikatnya.”
TBC
__ADS_1