Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Sembilan Puluh Tiga


__ADS_3

Setelah melalui perawatan beberapa hari di rumah sakit, kondisi Alexa sudah membaik. Ia tidak mengalami banyak keluhan di kehamilannya. Sebab Azlan menjadikan Weni sebagai perawat untuk Alexa. Kemana pun Alexa pergi, Weni harus ikut. Karena gadis itu menjadi alarm berjalan untuk Alexa. dialah yang akan mengingatkan Alexa kapan waktunya makan, minum jus, minum susu, makan vitamin, makan buah-buahan, dan lain sebagainya.


Weni juga bertugas menyiapkan makanan untuk Alexa. serta seluruh kebutuhan Alexa mulai dari A sampai Z. namun demikian, Weni merasa sangat senang sekali karena memiliki kesempatan untuk bisa jalan-jalan. Bosnya yang cantik itu hobi bepergian, tentu Weni juga kebagian enaknya, ngikutin kemana pun bosnya pergi.


Seperti hari ini, Weni yang duduk di jok paling belakang, asik berdandan. Ia tidak mau kalah dari sang bos yang selalu tampil cantik dan modis. Sesekali ia melirik Alexa yang duduk di jok tengah, mengintip make up di wajah bosnya itu dan dia pun mengikuti gaya make up Alexa. namun ia kehilangan jejak contekan make up saat Alexa menjatuhkan kepalanya ke pundak Azlan.


“Ya elah, ini bos gue romantis amat yak. Naik mobil aja sampe nyandarin pala di pundak segala, bikin kepingin cepet punya pacar aja,” celetuk Weni ngomong sendiri. Suaranya berbisik sehingga tidak kedengaran siapapun.


“Astaga!” kesal Weni saat mobil berbelok dengan gerakan cepat karena supir menghindari lubang. Ia yang sedang mengaplikasikan lipstick ke bibir pun akhirnya hasilnya malah jadi tidak karuan, lipstick tercoret memanjang sampai ke pipi. “Kalau nyetir bisa lebih hati-hati dikit nggak, ya?”


Supir menoleh, membuat Weni terbelalak melihat wajah yang menoleh ke arahnya itu, tak lain Idris. Sejak kapan Idris yang sehari-harinya bertugas menjaga pos penjagaan sebagai security di rumah, kini beralih tugas menjadi supir?


“Lah, Mas Idris? Kok, kamu yang nyetir?” heran Weni.


“Iya, mulai sekarang Idris udah alih profesi jadi supir,” sahut Azlan. “Supir baru yang kemarin itu yang jadi security, sebab dulunya dia pernah menjadi security di sebuah perusahaan besar. Tentu dia memiliki kemampuan untuk itu, dan dia mengaku kalau tangannya sakit, jadi kurang tepat jika dipekerjakan sebagai supir. Idris memiliki kemampuan menyupir, mungkin nggak ada salahnya jika pekerjaan mereka ditukar saja. Keduanya juga nggak keberatan dengan penukaran ini.”


“Ya, aku merasa diuntungkan. Sebab dengan menjadi supir, aku sekarang bisa jalan-jalan dan melihat dunia luar. He heee…” Idris menyeletuk.


“Kurasa kamu nggak cocok jadi supir, Dris,” ujar Alexa.


“Loh, kenapa, Nona?”


“Badanmu gagah dan besar, cocoknya jadi security.”


“Ooh… Tapi rasanya menjadi supir malah lebih enjoy.”


“Sebab kamu bisa leluasa cuci mata, benar begitu?” ucap Azlan.

__ADS_1


“Jangan buka kartu saya, Tuan Muda. Bikin malu aja. Kan, nggak enak kalau didengar istrinya Tuan.” Idris sok malu-malu.


Azlan tidak berkomentar lagi. Ia sudah sangat mengenal Idris, pria yang suka nyablak, suka genit dengan wanita, namun hatinya baik. Azlan menautkan ujung jari-jari kirinyanya pada jari-jari tangan Alexa. Sedangkan lengan kanannya berada di atas sandaran kursi, tepatnya di belakang leher Alexa.


“Apa kamu pusing?” tanya Azlan menatap Alexa yang menyandar di pundaknya dengan mata terpejam.


“Enggak. Cuma ngantuk,” jawab Alexa masih dnegan mata terpejam.


“Capek?”


Alexa menggeleng.


Perjalanan sudah memakan waktu satu jam, Azlan takut Alexa merasa lelah duduk terlalu lama di dalam mobil dengan posisi yang tidak berubah. Bisa saja tubuh wanita itu menjadi pegal dan letih.


Azlan mengatur jok tempat Alexa duduk dan menyetelnya menjadi setengah rebah, dengan demikian Alexa merasa agak nyaman untuk tidur. Ini adalah saatnya Azlan mengajak Alexa berlibur, bersantai dan menghabiskan waktu dengan bersenang-sneang. Jangan malah membuat Alexa menjadi kecapekan.


Sesampainya di vila, Idris langsung turun mengurus koper dan barang-barang di bagasi. Weni dengan penuh semangat turun dari mobil elit sang majikan, membawa tas dan perlengkapan milik Alexa menuju ke teras vila.


Azlan tersenyum menatap Alexa tertidur pulas. Istrinya itu masih tetap terlihat cantik meski dalam keadaan tidur.


“Lexa!” Azlan menepuk pelan pipi halus Alexa.


Wanita itu tidak bergerak. Tidurnya sangat pulas.


“Lexa! Ayo, bangun! Kita udah sampai, sayang!”


Alexa menggeliat sebentar. Matanya terbuka, ia mengangguk. Namund etik berikutnya matanya itu kembali terpejam.

__ADS_1


Azlan tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat Alexa yang iserang kantuk berat. Ia membuka pintu mobil lalu turun. Kemudian memutari mobil dan membuka pintu mobil di sisi Alexa.


“Halo, sayang! Tidurmu pulas banget.” Azlan menjepit ujung hidung Alexa dengan dua jarinya. Perbuatannya itu hanya menghasilkan respon ringan dari Alexa, wanita itu menggeleng sebentar dan kembali melanjutkan tidurnya.


Azlan menggendong tubuh Alexa, menurunkannya dari mobil dan membawanya masuk ke vila.


“Uugh… Nona Alexa enak banget ya! Hidupnya udah tajir, dapet suami perhatian, penyayang. Liat deh, tidur pun digendong. Nyess banget kalo jadi Nona,” celetuk Weni mengamati nonanya yang digendong oleh Azlan.


“Jangan ngeliat enaknya orang doang, susahnya orang juga kamu nggak tahu,” balas Idris ambil membawa koper melewati Weni.


“E eh, kamu protes aja sih, Mas?” Weni mengikuti Idris masuk ke kamar sang bos.


Idris meletakkan koper ke lantai kamar. “Ini gue tarok sini aja ya, Lan!” ucap Idris yang berbahasa gaul pada sahabatnya. Jika tanpa pengamatan Alexa, bahasa gaulnya pun keluar. Sebab hanya Alexa-lah satu-satunya alasan lidahnya memanggil tuan muda pada Azlan.


Weni juga keluar kamar setelah meletakkan tas dan keperluan Alexa ke meja rias.


Azlan menyelimuti tubuh Alexa setelah meletakkan tubuh jenjang itu ke kasur. Ia merebahkan tubuh di sisi Alexa dengan posisi setengah berbaring. Diamatinya wajah Alexa dengan seksama, hidungnya mungil dan mancung, bulu matanya lentik, alisnya rapi membentuk bulan sabit, pipinya cerah bercahaya, dan bibirnya merah sensual. Azlan tersenyum, satu tangannya mengelus rambut Alexa.


“Aku mencintaimu,” bisik Azlan lalu mengecup singkat kening Alexa. ia bangkit bangun dan berdiri. Namun sentuhan hangat di pergelangan tangannya membuat langkahnya terhenti. Ia menoleh, menatap ALexa yang memegangi tangannya dengan mata terpejam. Senyuman Azlan kembali mengembang. “Kenapa, sayang?” Azlan kembali mendekati ranjang.


“Temani aku!” lirih Alexa masih dengan mata terpejam.


“Iya.” Azlan pun kembali membaringkan tubuhnya di sisi Alexa. Melingkarkan lengan kokohnya di atas perut wanita itu. Mengecup singkat bibir wanita itu, kemudian mendaratkan bibirnya ke pipi Alexa. Meski sebenarnya Azlan sedang ingin jalan-jalan keluar, ia menuruti permintaan Alexa. Ia pun memejamkan mata, menemani istrinya.


BERSAMBUNG


🤗🤗🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2