Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Delapan Belas


__ADS_3

Azlan menyusul Alexa menuju ke meja administrasi. Ia melihat Alexa sedang berbicara dengan administrasi rumah sakit. Azlan menunggu Alexa dengan berdiri di sisi wanita itu, sementara manik matanya mengedar mencari keberadaan Mekka. Barangkali ia menemukan wanita itu di sana, namun batang hidung Mekka tak kelihatan. Sepertinya Mekka benar-benar sudah pergi.


“Azlan, ayo!”


Suara seruan Alexa membuat pandangan Azlan tertuju ke arah wanita itu. Alexa sudah berada di dekat pintu keluar.


“Aku memanggilmu sejak tadi dan kamu malah celingukan ngeliatin entah apa, ya ampun. Ayo, pulang!” ajak Alexa setengah kesal mengingat sudah berkali-kali memanggil Azlan dan sepertinya Azlan tidak menyadari panggilannya.


Azlan menyusul Alexa. “Sori, aku nggak denger kamu memanggilku.”


“Apa yang sedang kamu pikirin? Kayaknya kamu jadi kurang konsentrasi sejak terjadi insiden penembakan itu. atau jangan-jangan kamu kurang cairan? Apa perlu kita mencari air mineral?”


Azlan mengulas senyum tipis. “Jangan ngajakin berantem, kamu akan kalah.”


Alexa tidak menanggapi ucapan Azlan, ia melenggang menuju mobil diikuti oleh Azlan.


“Alexa!” panggil Azlan sambil mengetuk kaca mobil. Azlan tidak ikut masuk saat Alexa sudah duduk di dalam mobil.

__ADS_1


Alexa menurunkan kaca mobil di sisinya, ia menatap Azlan yang berada di luar. “Kenapa? Kok, masih di luar? Ayo, masuk!”


“Enggak. Aku nggak bisa ikut masuk. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan bos kurir karena ada beberapa hal yang belum kuselesaikan dengannya kemarin. Aku kemarin hanya masuk kerja sehari dan itu pun aku langsung menghilang darinya.”


“Baiklah. Selesaikan dulu urusanmu.”


“Kamu hati-hati ya, nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi aku.”


“Hm.”


Azlan memundurkan wajah dan Alexa menutup kembali kaca mobil. Azlan menatap putaran mobil hingga menghilang dari pandangan.


Usai menyelesaikan urusannya di kantor JNB, Azlan langsung menuju ke rumah kontrakan Mekka. Langkah lebar Azlan membawanya sampai ke depan rumah,tangannya menjulur membuka pintu.


“Assalamu’alaikum...” Azlan mengucap salam. Langkahnya terhenti menatap Mekka yang saat itu tengah duduk di sofa ruang depan. Wanita itu langsung berdiri dan menjawab salam.


Keduanya bertukar pandang.

__ADS_1


Azlan terdiam menatap ekspresi wajah Mekka yang masih sembab, ia mengetahui apa yang telah terjadi, demikian juga Mekka. Keduanya masih bertukar pandang hingga beberapa menit berlaku, tanpa percakapan.


Azlan bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Seolah-olah tatapan mata Mekka sedang menghakiminya saat itu. Melihat Mekka yang akhirnya menangis, Azlan pun semakin bingung.


Azlan melangkah maju. Kemudian meraih pundak Mekka dan membenamkan wajah wanita itu ke dalam pelukannya.


“Maafin aku, Mekka. Maafin aku!” Azlan berbisik lirih.


Mekka tidak menjawab. Tangisannya pecah dan wajahnya membenam di dada pria itu. tadinya ia yakin tidak akan menangis saat bertemu dengan Azlan, ia juga sudah siap dengan resiko dan apapun yang akan terjadi, tapi saat Azlan muncul dan ia bersitatap dengan pria itu, kekuatannya lenyap entah kemana hingga akhirnya ia malah menangis.


“Aku memang jahat. Aku minta maaf. Aku lelaki bre*gsek. Kamu boleh memakiku, aku pantas mendapatkannya.” Azlan mengusap pucuk kepala Mekka.


Mekka masih hanyut dalam tangisannya. Ia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk menjawab. Lehernya tercekat erat, sulit untuk mengeluarkan suara.


“Katakan, Mekka. Apa yang harus kulakukan?” Azlan menyentuh lengan Mekka dan menjauhkan tubuh wanita itu darinya hingga wajah keduanya berjarak. Azlan kini dapat menangkap wajah sembab Mekka yang memilukan. Hidung wanita itu bahkan sampai memerah.


Mekka balas menatap Azlan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2