
“Sendirian?” tanya gadis itu.
“Siapa kamu?” Azlan menatap gadis itu dengan mata menyipit.
“Kikan.” Gadis itu tersenyum. “Nih, minum.” Ia menyerahkan segelas minuman berwarna cokelat di tangan kanannya, dan tangan kirinya memegang segelas minuman lainnya.
Sebenarnya bukan maksud Azlan menanyakan siapa nama gadis itu, ia hanya ingin tahu dari mana gadis itu bisa mengenali namanya. Ah, tapi ia tidak mau menanyakan hal itu, tidak penting baginya.
Azlan menggeleng menolak pemberian gadis itu. “Aku ke sini bukan untuk minum.”
“Lalu?”
Azlan hanya tersenyum samar sebagai tanda ia merasa tidak perlu menjawab pertanyaan Kikan.
“Kamu nggak minum alkohol, ya?” tebak Kikan.
__ADS_1
“Ya,” tegas Azlan tanpa perlu menutupinya. Ia tidak pernah menyentuh minuman berbau alkohol, dan memang tidak akan pernah menyentuhnya. Tidak perlu ia merasa gengsi untuk mengakuinya. Malu kepada manusia hanya karena tidak mau meminum khimar bukanlah tipe Azlan, ia akan lebih malu pada Tuhan bila menikmati khimar hanya karena sebatas memenuhi rasa gengsi.
“Kamu salah jika menganggap ini adalah minuman beralkohol. Ini minuman biasa.”
Memangnya club ini menyediakan minuman tanpa alkohol? Pikir Azlan.
“Ini cincau, dan memang sengaja disediakan pemilik kafe untuk orang-orang sepertimu, orang yang belum mengenal minuman beralkohol,” ujar Kikan.
“Thanks. Kamu minum aja sendiri, aku nggak ingin minum.” Azlan tetap saja menolak meski mengucapkan kata thanks.
Azlan ingat dulu ia memang pernah bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh Pak Joan Ardinata, tapi waktu itu ia tidak pernah bertemu dengan Kikan. Wajar saja ia belum mengenal gadis-gadis yang bekerja di sana mengingat ia baru bekerja di sanadan bahkan ia juga bekerja hanya dalam hitungan waktu singkat saja. Termasuk Kikan, ia sama sekali belum pernah melihat gadis itu di kantor.
“Apa kamu meragukanku?” Kikan tersenyum melihat sikap Azlan yang cenderung malas bergaul dengan para penghuni club. Dia lebih suka menyendiri dan menjauh dari semua orang. “Kita sekantor dulu sebelum kamu keluar dari perusahaan.”
Azlan tersenyum tipis.
__ADS_1
“Ayolah, ini tanda pertemananku ke kamu. Apa kamu masih mau menolak?” Kikan kembali menyodorkan gelas di tangan kanannya.
Azlan akhirnya menyerah. Ia menyambut gelas itu dan meneguknya sedikit. Ya, minuman itu bukanlah minuman beralkohol, rasa cincau.
“Aku sangat mengenal Yakub, dia pria yang baik dan taat agama. Segala sesuatu yang dia bicarkan pasti akan selalu menyangkut persoalan agama. Aku yakin kamu nggak jauh beda dengannya. Lantas kenapa kamu bisa berada di sini?” Kikan meneliti wajah Azlan, seakan-akan gadis itu sedang menikmati ketampanan Azlan. Memang wajah pria itu tidak membosankan, benar-benar memikat hati para wanita.
“Aku ke sini untuk sebuah tugas.”
“Ooh... Begitu. Aku tadi melihatmu keluar sendirian dari mobil dan masuk ke sini.”
Azlan mengernyit sambil meneguk minuman di gelasnya. Sepertinya Kikan tidak melihat Alexa yang sudah lebih dulu turun dari mobil. Dan sepertinya Kikan juga tidak melihatnya tadi mendekati Alexa. Setahu Kikan, Azlan hanya seorang diri.
Azlan mulai merasakan kepalanya pusing sekali. Rasanya berat dan sakit hingga membuat kepalanya benar-benar terasa hampir pecah. Mungkin itu pengaruh dari suasan club yang hingar-bingar, ditambah bau alkohol dan dentuman musik. Azlan benar-benar merasa sangat pusing.
TBC
__ADS_1