
Azlan menghela napas bingung. Harus bagaimana ia bersikap? Dia belum menyusun kata-kata yang baik untuk berbasa-basi pada calon istrinya? Mendadak Azlan menjelma menjadi manusia kaku yang serba risih. Dia bsedang ingin menghargai supaya tidak menyakiti lawan bicaranya dalam berkata.
Setelah itu terdengar suara Dinda sibuk menyuruh Mekka berbicara di telepon. Mekka menolak, namun Dinda membujuk dan berhasil.
“Assalamu’alaikum, Mas Azlan.” Suara lembut nan merdu menyahut di seberang. Yang tentunya ponsel kini sudah berpindah tangan. Suara gadis itu terdengar bergetar.
“Wa’alaikum salam, Mekka.” Azlan menjawab dengan nada selembut mungkin, berharap tidak mengecewakan Mekka. Azlan menjaga perasaan gadis itu.
“Uhuui... Pasti calon istri. Jadi pengen nikah, nih,” celetuk Arul sembari melirik Azlan.
Yang dilirik berjalan sedikit menjauhi, tidak mau direcokin Arul.
“Mas, maaf kalau aku mengganggumu.” Mekka terdengar sangat sungkan.
__ADS_1
“Enggak ganggu, kok. Lagi pula tadi kan yang nelepon Bunda.”
“Kalau kamu sibuk, kamu boleh matiin teleponnya, Mas.”
Azlan menghela napas sesaat merasakan perutnya yang lapar, sudah agak siang, wajar saja perutnya sudah meronta minta diisi jatah. Tapi Azlan sadar, hati wanita itu sangat lembut, juga sensitif. Azlan tidak ingin melukai perasaan Mekka dengan menutup teleponnya. Biarlah dia mengorbankan sedikit waktunya, demi sepotong hati yang dia hargai.
“Aku masih punya waktu,” jawab Azlan.
Azlan pun bingung, tidak tahu harus mengatakan apa. Mereka belum saling mengenal.
“Mas, apa benar kita ini bakalan me… Me ni kah?” Mekka enggan sekali mengucapkan kata menikah hingga kata itu terucap patah-patah.
“Insyaa Allah. Jika Allah menghendaki, kita akan dipertemukan dalam ikatan halal yang suci. Doain semuanya di sini lancar. Supaya aku bisa ngumpulin uang cukup untuk melamarmu.”
__ADS_1
“Nggak perlu memikirkan materi, Mas. Aku dan keluarga nggak menuntut apapun darimu. Kami nggak ingin memberatkanmu.”
Azlan menautkan alis. Sungguh, Bundanya tidak salah memilihkan jodoh. Gadis yang dijodohkan dengannya adalah gadis baik. Mulia hatinya. Di jaman yang serba dihitung dengan uang, Mekka sama sekali tidak memanfaatkan hal itu.
Azlan sering mendengar kisah teman-temannya di kampung, yang merasa keberatan saat melamar seorang gadis karena orang tua si gadis selalu memasang jujuran tinggi dengan menyebutkan nominal rupiah yang harus diserahkan sebagai salah satu bentuk syarat untuk dapat menikahi puteri mereka. Nominal yang disebutkan juga fantastis, bagi yang tidak punya uang, bersiaplah menjadi bujang lapuk. Atau lebih baik pergi merantau untuk mendapatkan jodoh di perantauan yang jauh dari kata jujuran. Bahkan ada yang sampai rela menjadi perawan tua demi menunggu pria yang bisa meminangnya dengan jujuran yang sesuai dengan yang diharapkan. Tapi tahukah mereka? Bahwa sesungguhnya tujuan menikah dalam Islam bukanlah sarana untuk mencari mahar mahal ataupun mahar yang besar? Mahar juga bukan untuk dijadikan bahan pameran. Namun sayangnya hal itu sudah menjadi adat turun temurun yang hingga kini sulit dihapuskan. Dan bagaimana dengan Mekka? Gadis itu berbeda dari lingkungan di sekitarnya. Dia memegang teguh Al Qur’an dan sunnah.
“Sebagai calon suami, tentu aku ingin memberikan mas kawin yang terbaik untuk istriku. Aku ingin memberikan mahar yang dibutuhkan istri, terutama sesuatu yang kamu inginkan.”
“Kamu cukup memuliakanku dengan menyiapkan hafalan surat Al Kahfi.”
Subhanallah. Azlan memuji dalam hati. Wanita yang baik tidak akan menyusahkan calon suaminya dalam urusan mahar. Sebaik-baik wanita ialah yang paling murah maharnya.
TBC
__ADS_1