
“Gue curiga nih, jangan-jangan sewaktu di dalam lift itu memang udah terjadi sesuatu, lo tergoda ngeliat keindahan sosok Alexa sampai-sampai Alexa meluk lo?”
“Ngawur!”
“Gue nggak sembarangan ngomong, gue curiga kalian kebablasan saat berduaan di lift yang gelap. Saat itu, situasi bener-bener mendukung. Lift macet, gelap, berduaan, dan lo dihadapkan dengan gadis secantik Alexa. Di sana pasti ada setan yang terus berbisik. Hadeeeh… Kuatkan iman lo, Azlan. Ini ujian. Sekarang jujurlah, apa yang udah lo lakukan bersama Alexa di dalam lift yang gelap?” Arul menekankan kalimatnya dengan tatapan penuh selidik.
Azlan malas mendebat hal tidak penting itu. Begitu tinggi rasa penasaran Arul tentang sosok Alexa sampai-sampai sejak tadi dia tak henti membahas hal itu.
“Kalau memang lo sempat merasakan sesuatu yang selama ini belum pernah lo rasakan melalui Alexa, lebih baik lo cepat-cepat menikah. Biar nggak penasaran. Godaan wanita itu dahsyat loh, bisa meruntuhkan iman. Lengah dikit, jadi deh.” Arul menaikkan alis semakin membuat Azlan geram.
“Cukup. Jangan membahas hal ini lagi.”
“Gue tau lo laki-laki sehat dan normal, sama kayak gue, yang nggak mungkin bisa kuat sama godaan wanita secantik Alexa. Jadi… gimana rasanya bercinta singkat?”
__ADS_1
“Ya ampun, Arul.”
“Hari ini, semua orang di kantor pada heboh ngomongin lo.”
Begitulah jika bekerja di lingkungan padat karyawan. Gosip bertebaran dimana-mana. Bahkan saat Azlan baru bekerja beberapa hari di sana, sudah muncul gossip tentang dia dan Amira. Bagaimana tidak. Amira dengan terang-terangan mengaku kalau dia mengagumi Azlan. Namun gosip tentang amira segera lenyap karena sampai detik ini, sikap Azlan terhadap Amira tetap dingin dan tidak ada tanda-tanda Azlan mendekati Amira. Membuktikan kalau dia tidak tertarik pada gadis secantik Amira. Entah gadis yang seperti apa yang Azlan mau. Apakah seperti Alexa? begitu pikir semua orang.
“Perbuatan seorang alim seperti lo itu menambah kesan buruk laki-laki, hingga para gadis pun berkata, semua laki-laki itu sama aja. Ya udahlah, berdoa aja semoga besok-besok lo nggak dihadapkan pada kasus kayak gitu lagi, dari pada khilaf, ya nggak? Kejadian di lift cukup membuktikan kalau lo memang ada hubungan dengan Alexa.” ucap Arul.
Azlan tidak menatap Arul, manik matanya malah tertuju kea rah belakang Arul.
Seketika mukanya memerah, apakah Alexa mendengar ucapannya yang terakhir tadi?
“Siang, nona!” Arul setengah menganggukkan kepala tanda hormat. Kakinya smebari melangkah ke samping untuk member ruang pada Alexa. sial, lututnya malah menabrak kaki kursi.
__ADS_1
Aya ampun, gara-gara melihat Alexa, Arul pun jadi nabrak-nabrak tak tentu arah.
Alexa hanya mengangguk sekilas. “Apa kamu membicarakanku?”
Tatapan Alexa yang menusuk membuat Arul kalang kabut dan salah tingkah. “Eh.. mm… tidak, nona. Hanya menyebut nama nona sedikit saja.” Arul gugup.
Kini, giliran Azlan yang tersenyum simpul melihat Arul kelabakan.
“Lain kali kamu ngomongin aku lagi, kupecat kamu,” tukas Alexa membuat Arul tergagap kaget.
Widih, bosnya itu galak juga. Gampang banget main pecat orang. Nggak tahu orang butuh duit apa ya?
“Azlan, kita pulang.” Alexa keluar.
__ADS_1
Azlan bangkit berdiri mengikuti Alexa. ia sempat melempar senyum ke arah Arul sebelum ia benar-benar menghilang dari pandangan Arul.
***