
Kikan yang langkahnya terhadang pun berhenti dan menyilangkan tangan di dada dengan gaya rileks.
“Kaukah yang melakukannya?” tanya Azlan dengan sorot mata tajam.
“Ya.”
“Apa maksudmu?”
“Ingin membuatmu mengerti bahwa menikah dengan Alexa hanya akan membuat hidupmu dipenuhi kesialan.”
“Cukup, Kikan! Hentikan kekeliruan ini!” gertak Azlan. “Apa kamu nggak sadar perbuatanmu ini mempermalukanku?”
“Enggak. Itu bukan untuk mempermalukanmu, tapi mempermalukan Alexa. Dia memiliki suami yang sudah mencumbui wanita lain, wanita yang seharusnya dinikahi oleh suaminya. Aku menginginkanmu sejak lama, Azlan. Jangan lupakan itu”
“Kamu hanya terobsesi. Jangan berlebihan!”
“Kenyataan aku dan kamu udah hampir berhubungan intim dan semua orang tahu itu, lalu di sini siapa yang salah? Alexalah yang salah, dia merebutmu dariku.”
“Astaga!”
“Setelah ini, Pak Joan tahu siapa pria yang dia jadikan menantu. Dan dia akan sadar kalau kamu nggak pantas menjadi menantunya.” Kikan melewati Azlan dan melenggang pergi.
__ADS_1
Di dalam rumah, pesta menjadi kacau sesaat setelah video diputar. Para tamu saling berbisik, saling sahut. Alexa meninggalkan ruangan pesta dan langsung masuk kamar dengan membanting pintu. Ia kesal sekali atas kejadian barusan. Dan ia yakin ada yang sengaja ingin menghancurkan pestanya.
Pak Joan membubarkan pesta dengan meminta asisten rumah tangganya mematikan semua perangkat yang digunakan untuk memeriahkan pesta, seperti lampu kedap kedip, proyektor dan lain sebagainya. Dengan demikian para tamu undangan pun bergegas meninggalkan rumah itu.
Azlan memasuki rumah melalui pintu samping dan berdiam di ruang makan, menunggu para tamu pulang semuanya. Isris menyambut Azlan di ruangan itu dengan wajah yang tak kalah frustasi.
“Ya ampun Azlan, apa yang kau lo lakuin sama wanita tadi? Videonya panas banget.” Idris geleng-geleng kepala sembari mendekati Azlan yang berdiri menyandar di dinding.
“Itu terlanjur dan semua terjadi di luar kendaliku, di luar keinginanku,” balas Azlan.
“Ya ampun, tapi video itu kenapa bisa diputar di pesta?”
“Wanita itu datang untuk menghancurkan semuanya.”
“Gue bahkan belum pernah berpacaran dan lo bilang dia mantan gue?”
“Ah ya, gue tau lo nggak pernah pacaran. Tapi nasib lo apes banget, disaat nasib baik berpihak ke lo karena nikah sama cewek sekelas Alexa, kejadian ini malah ngancurin semuanya. Trus gimana dengan pandangan nona Alexa? Dia pasti kaget banget ngeliat lo pernah ajep-ajepan sama cewek lain.”
“Dia udah tahu soal ini. dan itu nggak akan jadi maslaah.”
“Lalu gimana sama Tuan Joan?”
__ADS_1
“Itu yang harus gue hadapi dan gue selesaikan. Akan gue temui beliau.” Azlan melangkah meninggalkan Idris dan melenggang menuju ruangan depan. Ruangan itu sudah sepi, tak ada lagi keriuhan, tak ada lagi keramaian di sana. Hanya ada Pak Joan yang berdiri di tengah-tengah ruangan. Pria itu tidak menoleh saat menyadari kedatangan Azlan. Wajahnya tampak sangar.
Azlan mendekati Pak Joan, berdiri di hadapan bos yang sekarang telah menjadi mertuanya itu.
Hening.
“Pak Joan, video tadi terjadi beberapa minggu yang lalu.” Azlan mulai berbicara.
Pak Joan masih diam, tatapannya tidak beralih dari dinding yang tadi dijadikan untuk memantulkan gambar dari proyektor.
“Aku dan Alexa sama-sama tahu dengan kejadian itu. semua itu terjadi di bawah kesadaranku. Kikan menjebakku hingga kahirnya aku terlena dan tanpa sadar melakukan semua itu. Entah apa yang diinginkan wanita itu hingga memutar video itu di hari pernikahanku dan Alexa. Dia mengatakan kalau dia menginginkanku. Aku minta maaf atas kejadian ini.”
“Apa itu bisa mengubah kenyataan?” tegas Pak Joan dengan wajah merah padam.
“Maafku memang nggak akan bisa mengubah kenyataan, nggak akan bisa membuat rasa malu Anda hilang, tapi apa yang Anda lakukan saat Anda berada di posisiku?”
Kening Pak Joan sedikit terlipat.
“Maaf Pak, tapi percayalah aku akan menjaga Alexa dengan baik.”
“Aku kecewa padamu.” Suara Pak Joan mengguntur keras. Ia melenggang pergi meninggalkan Azlan yang terpaku.
__ADS_1
TBC