
Zayn mengernyit ia kembali membawa minuman yang harus nya untuk gadis nya, namun ia tak melihat apapun dan hanya kosong.
Minuman di tangan nya mulai menguap memberikan embun di tempat nya karna perbedaan suhu.
"Dimana dia?" gumam nya yang bingung mencari keberadaan tunangan nya sembari mulai mengambil ponsel nya.
Sementara itu wajah kesal yang terlihat begitu jelas menatap ke arah pria yang menunggu nya tepat di depan pintu kamar kecil nya.
"Kau tau yang kau lakukan sekarang itu ilegal?" tanya Louise mengernyit.
"Aku memang melakukan pekerjaan ilegal," jawab James dengan enteng.
Louise mengernyit namun tentu ia mengira pria itu hanya bercanda, "Apa? Menjual narkoba?" tanya nya dengan menampilkan senyuman kecil di wajah nya.
James mendengar nya dan mengangguk dengan wajah datar seperti tak pernah merasa melakukan kesalahan dalam pekerjaan nya.
"Astaga, berhenti bercanda dan menjauh dari ku." ucap Louise menggeleng melihat nya.
"Tapi memang tidak bercanda dan lagi pula aku tidak berniat menjauhi mu," jawab James ketika mendengar ucapan gadis itu.
Louise membuang napas nya dengan kasar, namun pria tampan itu malah menunjukkan smirk nya.
"Kau tak mau ganti celana mu?" tanya nya yang tengah menganggu gadis di depan nya.
"Di bilang ini cuma air!" sentak Louise dengan kesal namun pria di depan nya hanya tertawa kecil.
Ponsel yang berada dalam genggaman gadis itu bergetar, Louise mengernyit dan melihat sekilas ke arah pria yang langsung berubah dan menatap tajam ke ponsel nya.
"Angkat saja," jawab James singkat dengan senyuman nya ketika suasana wajah nya berubah seketika.
Louise merasa tak nyaman, sama seperti sebelumnya saat melihat pria itu tersenyum namun ia malah semakin takut dan merasakan hawa dingin. Ia pun beranjak menjauh dan pergi namun,
Greb!
"Bicara nya di sini," ucap nya dengan berbisik.
Ia menarik tangan gadis itu dan membuat tubuh ramping itu segera melekat pada nya, memeluk pundak gadis itu dari belakang di tempat yang sunyi dan terlihat.
"Angkat," ucap nya lagi di telinga gadis itu.
Louise diam, ia dapat merasakan aroma mint yang berada di tubuh lelaki yang tengah memeluk nya saat ini, suara nafas yang terdengar di telinga nya dan membuat roma nya meninggi.
"Mau aku yang angk-"
"Halo," Louise tak membiarkan pria itu menyelesaikan kalimat nya, dari pada ponsel nya di rebut begitu saja ia memilih untuk mengangkat nya lebih dulu.
"Kau di mana? Aku sudah kembali,"
__ADS_1
"Toilet, aku ke sana sekarang juga. Tunggu aku." jawab nya singkat dan langsung mematikan ponsel nya.
Namun bahkan setelah panggilan nya usai pria itu tak melepaskan pelukan nya.
"Lepas, atau kau mau dengar aku teriak?" ancam Louise pada pria itu.
James tersenyum dengan smirk nya, ia mengecup lengkung leher gadis itu dari belakang dengan lembut membuat seluruh tubuh gadis itu meremang dan iris hijau yang membulat.
"Seharusnya kau sudah teriak dari tadi kan?" tanya pria itu dengan lirih.
Bibir yang terasa dingin dan lembut serta beberapa janggut yang membuat nya merasa tergelitik ketika bersentuhan membuat gadis itu membeku sejenak.
"A..aku akan teriak sekarang!" jawab Louise yang malah terdengar gugup.
James tersenyum simpul, ia kembali mengecup leher gadis itu lagi dan lagi. Namun senyuman nya perlahan berubah dan ia tatapan nya menjadi tajam ketika melihat bekas yang memerah dan masih belum menghilang ketika rambut halus tersebut menyingkir.
"Kau sudah sejauh mana dengan nya?" suara bariton yang terdengar dingin dan menggertak itu membuat Louise semakin tak nyaman.
"Bukan urusan mu! Lepas atau aku akan benar-benar teriak," ucap Louise yang berusaha membalik tubuh dan melepaskan pegangan serta pelukan yang sekuat baja itu.
Pria itu tak mengatakan apapun kecuali gerakan membuat tubuh gadis itu memutar dan berhadapan ke arah nya.
"Kau! Apa yang ka- Humph!"
Bibir nya terkunci, ia tak tau akan mendapatkan lum*tan yang tiba-tiba datang dengan agresif, bukan ciuman lembut yang biasa di lakukan oleh tunangan nya bukan juga ciuman yang pelan seperti yang ia dapatkan di club' dengan pria yang sama saat ini.
Belitan lidah yang sudah masuk dan menjajah mulut nya membuat nya hampir hembusan nafas, tengkuk nya tertahan oleh tangan yang kekar yang perlahan meremas helaian panjang yang halus berwarna kecoklatan itu sedangkan tangan yang lain nya menahan pinggang ramping itu dengan erat.
Louise memejamkan matanya dengan cemas dan seluruh tubuh nya memberontak berusaha melepaskan diri dari hisapan pria itu.
Ukh!
Ia merasa perih di ciuman yang begitu agresif itu sampai membuat nya kewalahan dan tak bisa bernafas.
Rasa anyir dapat ia rasakan saat ia menelan saliva nya, entahlah. Ia bahkan tak tau saliva siapa yang ia telan saat ini.
James membuka mata nya, bibir nya masih menghisap dan membelit lidah gadis itu dan tangan nya masih meremas rambut halus itu.
Menatap wajah yang memejam dengan takut dan tubuh yang mulai gemetar dalam pelukan nya itu.
In melepaskan nya dengan perlahan. Ciuman berserta tangan yang meremas rambut dan menahan tengkuk gadis itu.
Bibir dengan polesan lipstick yang memudar serta luka seperti gigitan terlihat jelas.
"Aku tidak suka..." ucap nya lirih sembari perlahan mengusap bibir basah gadis itu dengan lembut.
James menatap gadis di depan nya, ia sangat ingin menghapus bekas yang di tinggalkan pria lain di tubuh gadis itu, ia membenci nya sejuta kali dan sangat ingin membunuh nya, namun ia tak bisa melakukan apapun saat ini.
__ADS_1
Louise mengernyit, sudah jelas ia merasa marah namun pria di depan nya malah menatap nya dengan tatapan yang membuat nya bingung.
"Brengsek!" umpat gadis itu segera sembari menepis tangan yang kekar dan besar itu namun bisa begitu lembut menyapu bibir nya.
"Kau mungkin bisa melupakan ku, tapi kau tidak akan bisa menghapus ku, dan..."
Louise tak membalas apapun pada ucapan yang menggantung itu dan tanpa sadar membuat pandangan mata yang terkunci dengan netra pria di depan nya.
Gadis itu membuang wajah nya ke arah yang lain dan berdecak, "Jangan menganggu ku! Aku akan menikah dan aku tidak punya waktu untuk mengurusi orang seperti mu!" sarkas nya dan langsung berbalik pergi.
Kali ini tak ada yang mengalami nya ataupun memegang tangan nya.
"Kau mencintai nya?"
Langkah nya terhenti mendengar pertanyaan pria yang masih berdiri di tempat nya semula, ia menoleh ke belakang menatap pria yang dengan wajah datar dan ekspresi mata yang tak bisa ia baca.
Seperti sedang sedih, menyesal, rindu dan marah secara bersamaan. Terlihat menjadi satu sampai ia tak bisa membaca nya.
Louise kembali berbalik tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia bahkan tak bisa menjawab nya dan kembali berlalu.
...
Sementara itu pria yang menunggu sembari memegang minuman dingin yang segar dan manis itu masih berada di tempat nya.
"Kau menunggu lama?"
Suara gadis yang terdengar dan membuat pria itu menoleh dan menatap ke arah nya, senyuman yang terlihat hangat terlihat dengan jelas.
"Tidak, ini." ucap Zayn sembari memberikan minuman yang ia beli.
Louise mengambil nya pria itu masih tersenyum sebelum mata nya menangkap bibir bawah gadis itu yang terluka.
"Ini kenapa?" tanya nya yang langsung menyentuh bibir gadis itu.
Tak!
Louise tanpa sengaja langsung menepis nya, tentu saja ia merasa menciut dan merasa malu walau tak mengatakan nya.
Tunangan nya menyentuh dan mengoles bibir yang terluka akibat ciuman panas dan agresif dari pria lain.
Zayn tersentak, ia tak tau jika gadis itu akan menepis tangan nya dengan kasar.
"Maaf," ucap nya lirih saat menyadari jika ia menepis tangan tunangan nya dengan kasar.
"Tidak apa-apa, kau baik-baik saja?" tanya Zayn yang kemudian tersenyum dan menatap ke arah gadis itu.
Tatapan nya masih terasa hangat dan cerah, walaupun tak mengatakan mencintai nya setiap saat namun ia dapat merasakan cinta nya.
__ADS_1
"Maaf..." ucap nya lirih yang merasa bersalah dengan tunangannya.
Ia masih belum dapat membalas cinta pria itu, perasaan nya masih datar ia merasakan sayang namun jelas jika itu bukan cinta. Dan pria asing yang tak ia kenal terus datang dan mendekati nya bahkan dengan kontak fisik yang berulang kali.