(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Baik, kita akan cerai


__ADS_3

Dua Minggu kemudian.


JBS Hospital.


Masih belum berubah, suasana yang masih sibuk dan beberapa orang yang ahli di bidang IT tengah berusaha mengamalkan opini publik ke arah yang sebelum nya.


Merancang sesuatu untuk dapat memulihkan, "Kau sudah temui direktur dari BV Farmasi?" tanya Rian pada pria itu.


"Nanti sore, ada apa?" tanya Louis mengernyit.


Rian diam sejenak, "Hubungan mu dengan Clara bagaimana? Sudah membaik?"


"Kenapa paman tanya tentang aku dan Clara?" tanya pria itu semakin heran.


"Jawab saja," ucap Rian yang tak mengatakan apapun.


"Masih sama," jawab nya singkat, "Ada apa?" tanya nya lagi.


"Tidak apa-apa, tapi ku rasa kau juga harus memperhatikan nya jangan terlalu tenggelam dengan hal ini." ucap Rian pada pria yang ia yang ia anggap seperti putra nya sendiri itu.


Louis membuang napas nya, jangan terlalu tenggelam?


Mana mungkin ia bisa santai dan melihat apa yang ada di depan nya hancur dan hilang begitu saja?


Bukan nya tak mau memperhatikan istri nya, namun sang istri yang tak mau ia perhatikan.


Rian sendiri beberapa kali pernah berpapasan dengan wanita itu namun ia juga melihat seseorang di samping nya.


Walaupun mungkin Clara tak pernah memiliki niat buruk namun mungkin saja pria yang sangat pencemburu yang telah menjadi suami nya itu salah paham.


......................


Kediaman Rai.


Pukul 10.34 pm


Pria itu mengernyit, ia yang biasa nya memang pulang larut kini sampai lebih dulu di kediaman nya.


"Dia belum pulang? Sudah malam?" gumam nya yang langsung menelpon supir sang istri.


Ia memang memberi kebebasan namun ia tak tau jika wanita itu akan sebebas itu untuk pulang larut tanpa memberitahu sepatah kata pun padanya.


Belum sempat panggilan nya terjawab, sang istri sudah kembali dan masuk ke ruangan nya.


"Dari mana?" tanya Louis mendekat pada istri nya.


Tak ada jawaban, hanya lirikan mata yang terlihat ketus lah yang ia dapatkan.


"Clara!" pria itu mencekal tangan kecil wanita itu.


"Bukan urusan mu!" jawaban yang ketus terdengar, entah sejak kapan sikap nya semakin berubah.


Wanita itu hanya merasa lelah dengan memohon setiap hari agar ia di ceraikan, namun Louis bahkan tak memiliki pikiran untuk berpisah dengan nya sama sekali.


"Bukan urusan ku? Ya, itu urusan ku! Kau itu istri ku!" ucap Louis yang tak melepaskan genggaman nya sama sekali.


Ia tak berharap hubungan mereka membaik atau sambutan hangat setelah ia benar-benar lelah namun bukan berarti ia suka jika istri nya pergi dan pulang malam tanpa memberitau nya sama sekali.


"Kalau gitu kita cerai, kalau kita cerai kau tidak perlu lagi penasaran kemana aku pergi kan?" tanya Clara pada pria itu.


"Kau ini kenapa sih? Cerai terus! Setiap hari selalu itu!" pria yang bahkan memiliki jam tidur kurang lebih 3 jam sehari untuk mengembalikan JBS grup seperti semula itu tentu nya terkadang memiliki emosi yang sulit di kontrol.


"Karna itu yang aku mau!" jawaban yang terus sama dari waktu ke waktu ketika ia mengetahui segala nya.


Louis membuang napas nya, melepaskan genggaman tangan nya perlahan, "Aku tidak akan menceraikan mu."


"Sampai kapan kau mau terus begini? Memang nya pernikahan kita normal sekarang? Memang nya ada pasangan suami istri yang setiap hari bertengkar karna minta cerai terus?" tanya Clara mengernyit.


"Ada, kita kan? Kau tanya sampai kapan? Sampai aku tidak bernapas," jawab pria itu yang semakin membuat wanita kesal.


Clara diam sejenak, "Terserah mu." ucap nya yang beranjak masuk ke dalam kamar.


......................


Mansion Dachinko


Pagi yang cerah dengan mentari yang begitu terang hingga membuat cahaya putih itu merembes masuk ke dalam kamar gadis cantik itu.


"Kau hanya akan melihat makanan mu?"


Ia tak mengindahkan ucapan tersebut, tak peduli apa yang di katakan pria itu tak seakan tak mendengar nya.


"Louise?" James kembali memanggil, gadis itu bahkan tak mau memakan makanan nya sama sekali dan pagi ini ia datang sendiri untuk melihat apa yang di katakan pelayan nya.


Bukan nya menjawab senyuman kecil yang terlihat getir itu mulai membuat ekspresi di wajah yang pucat itu.


"Louise? Bukan nya dia sudah mati ya? Kau lupa? Kau yang membuat nya seperti itu?" pertanyaan yang menjadi sepenggal kalimat setelah dua Minggu ia terus diam setelah melihat pemakaman putra nya.


"Entahlah, seseorang juga membatah nya." jawab James yang menyindir saudara kembar gadis itu menyangkal habis-habisan berita meninggalnya sang adik.


"Lalu menurut mu dia bisa di katakan hidup sekarang?" tanya gadis itu yang seperti membicarakan diri nya sebagai orang lain.


"Hm, karna dia ada di depan ku sekarang." jawab pria itu tak berkedip menatap gadis di depan nya.


"Kau tau harapan nya saat melihat mu?" senyuman tipis terpancar di wajah cantik nan pucat itu.


James tak menjawab, ia menatap iris gadis itu karna itu adalah jawaban yang hanya bisa di berikan gadis di depan nya.


"Kalau tidak mau melepaskan ku lebih baik bunuh saja aku," sambung gadis itu dan senyuman kecil itu pun langsung hilang dalam sekejap memperlihatkan sorot mata yang tajam.

__ADS_1


Kini pria itu menunjukkan smirk nya, ia bangun dari duduk nya dan mendekat ke arah gadis itu.


"Aku senang melihat mu bicara setelah dua Minggu, padahal ku pikir kau tidak bisa lagi bicara." ucap nya sembari menyentuh bahu gadis yang masih duduk di kursi nya.


Tak ada balasan, gadis itu hanya diam tak menjawab apapun.


"Elouise Steinfeld Rai memang sudah mati, aku berharap seluruh dunia tau kalau dia sudah mati jadi Elouise yang duduk dengan ku saat ini hanya hidup untuk ku, di depan mata ku..." bisik nya mendekat ke telinga gadis itu.


"Jadi sekarang dia bisa tau kan? Kalau harapan nya tidak akan terwujud?" sambung nya dengan senyuman simpul di telinga gadis itu.


Cup,


Pria itu mencium pipi yang terasa dingin itu, ia kembali menegakkan punggung nya dan tak lagi membungkuk, menatap wajah yang kembali menjatuhkan air mata nya walaupun tak bersuara.


"Jangan menangis..." ucap nya lirih sembari mengusap air mata yang jatuh ke pipi gadis itu.


...


Nick memberikan beberapa dokumen yang berisi tentang laporan saudara kembar gadis yang di kurung oleh tuan nya.


"Dia ketahuan?" tanya James pada Nick.


"Belum tuan," jawab Nick singkat


James tak lagi menjawab, ia hanya melihat beberapa opini publik dan harga saham yang tak lagi merosot namun masih belum seimbang.


"Dia cukup pintar, sayang sekali harus menjadi musuh ku..." gumam nya yang melihat saudara kembar gadis itu mampu menghentikan pemerosotan saham lebih jauh lagi padahal ia tengah mengincar nya.


"Tuan? Saya ingin bicara soal nona Louise..." ucap Nick lirih.


"Ada apa?" pria itu meletakkan dokumen itu dan menatap ke arah bawahan nya.


"Pelayan yang merawat nya, bilang jika nona tidak bisa tidur dan makan dengan benar." ucap Nick yang membuang napas nya lirih.


Sejujurnya ia merasa tak tega, walaupun dulu ia pernah tak menyukai gadis itu karna takut mirip dengan mantan kekasih tuan nya namun sekarang ia merasa kasihan.


Sinar yang dulu begitu cerah kini mulai redup, gadis yang dulu selalu membawa keceriaan itu kini seakan hilang tak ada lagi, awan mendung yang kini selalu menyelimuti gadis itu bukan nya mentari lagi.


"Aku juga sudah dengar itu," ucap pria itu dengan wajah nya yang tak memberikan ekspresi apapun.


"Tapi, sekarang seperti nya kau terlalu sering memperhatikan nya? Kau tidak punya pikiran lain tentang dia kan?" tanya James pada bawahan nya itu.


Nick tersentak, ia langsung menunduk, "Maaf karna saya lancang tuan."


James tak mengatakan apapun, ia hanya menggerakkan tangan nya agar pria itu segera keluar dari ruangan kerja nya.


Pria itu melihat ke arah jam tangan yang ia kenakan, sudah menunjukkan pukul satu dini hari, ia membuang napas nya lirih.


James pun mulai bangun dan keluar dari ruangan kerja nya sembari mengambil satu kapsul yang berisi bubuk di dalam nya.


Ia membuat teh dan memasukkan kapsul yang berisi bubuk putih itu.


Suara pintu yang terbuka itu membuat nya menoleh, pria yang tadi pagi datang dengan makanan kini datang lagi dengan teh bersama nya.


"Masuk, jangan berdiri terus di sana. Kau sedang ingin lompat?" tanya nya dengan nada dingin sedingin udara malam yang menerpa wajah cantik gadis itu.


Tak ada jawaban namun gadis itu beranjak masuk tak lagi berdiri di luar balkon kamar nya.


Greb!


Mata hijau itu tersentak, ia tak tau jika pria itu akan menarik tangan nya saat ia melewati nya.


Tubuh nya tentu nya langsung mendorong pria yang menahan pinggang nya itu untuk tetap duduk pangkuan nya.


"Lepas! Brengsek!" ucap nya lirih yang berusaha untuk bangun namun tak bisa.


Selain kondisi nya yang masih belum pulih seutuhnya, tenaga nya pun kalah jauh dengan pria itu.


"Mau ku lepaskan?" tanya pria itu dengan senyuman simpul nya saat melihat gadis itu berusaha memberontak semaksimal mungkin namun tak berhasil.


"Habiskan dulu teh itu," sambung nya sembari menunjuk dengan dagu nya pada secangkir teh di depan nya.


"Apa itu? Racun?" tanya gadis menatap dengan mata yang tak lagi memiliki kepercayaan.


"Apa harus selalu ku ingatkan kalau aku tidak akan membunuh mu?" tanya James sembari membuang mata nya dengan malas.


Senyuman kecil yang tersimpan penuh arti kini terlihat di wajah pria itu, ia merasa menang karna membuat gadis itu tak bisa lari dari nya.


"Kau suka berada di pangkuan ku?" sambung nya dengan seringai di wajah tampan itu.


"Apa?" mata gadis itu langsung mengernyit, datang dari mana kepercayaan diri tak mendasar itu?


"Kau tidak meminum teh nya dan terus duduk di sini." ucap James dengan senyuman simpul yang tak jatuh itu.


Louise langsung membuang wajah nya, tangan yang melingkar di pinggang nya yang perlahan ramping kembali itu seakan tak memiliki niat untuk melepaskan nya kecuali ia melakukan hal yang di inginkan pria itu.


Tangan nya langsung mengambil teh di depan nya dan menghabiskan nya sekaligus.


"Sekarang sudah kan?" tanya Louise setelah menghabiskan teh tersebut.


Tak pahit sama sekali, melainkan memiliki rasa yang sering ia minum, harum dan manis yang pas.


"Anak pintar..." ucap pria itu tersenyum sembari menyentuh dagu gadis itu.


Tak!


Tentu nya penolakan yang di dapatkan nya ketika tangan nya di tepis, namun pria itu seperti tak menunjukkan kemarahan namun hanya terus tersenyum.


"Sekarang kau tidur," ucap nya yang menarik kepala gadis itu ke dada bidang nya.

__ADS_1


Membuat tubuh kecil itu terkukup oleh pangkuan nya.


"Kau bilang kalau aku menghabiskan nya, kau akan melepaskan!" ucap nya yang terus menerus berusaha melepaskan diri nya.


Tak ada jawaban, tenaga pria itu terlalu kuat, bahkan mungkin tubuh nya yang ramping itu bisa remuk jika pria itu memeluk nya dengan menggunakan semua tenaga.


James tak mengatakan apapun, ia terus menahan tubuh Louise di pangkuan nya sembari menepuk punggung gadis itu secara perlahan.


Tak selang berapa lama, tenaga nya mulai melemah, rasa nya ia mengantuk perlahan mata yang terus menerus meminta di pejamkan.


Merasakan tubuh gadis nya yang mulai tak lagi memberontak dan tenang membuat James perlahan melonggarkan pelukan nya dan melihat wajah gadis yang tadi nya terkukup di dalam dada bidang nya.


Wajah cantik itu terlihat begitu tenang ketika tertidur, mata yang lentik, kulit yang pucat serta hidung yang mancung.


"Kalau kau bukan bagian dari mereka, apa sekarang kita tidak perlu seperti ini?" gumam nya sembari mencium rambut halus dan panjang gadis itu.


Ia perlahan bangun dan memindahkan tubuh gadis itu ke tempat tidur, mengusap wajah yang terlelap itu dengan perlahan.


Mata yang terus memperhatikan gadis di depan nya, entah apa yang ia pikirkan namun tak bisa di jelaskan oleh sepatah kata pun.


Tatapan yang semula dingin saat gadis itu melihat nya, menghangat saat gadis itu tak melihat nya.


"Good night dear, have a sweet dream..." bisik nya di telinga gadis itu sebelum ia pergi keluar.


Memberikan obat tidur yang ci campur dengan vitamin adalah salah satu cara terbaik agar gadis itu bisa beristirahat dengan baik.


Ia tak menyentuh tubuh gadis itu karna tau jika saat ini ia tak boleh melakukan hubungan yang dalam dulu karna kondisi yang tak memungkinkan.


......................


3 Minggu kemudian.


Kediaman Rai.


Deg!


Mata pria itu membulat, ia tersentak melihat apa yang ada di depan nya.


Awal nya ia merasa kesal karna sang istri tak kunjung turun untuk sarapan dengan nya, jangankan turun dan sarapan wanita itu bahkan belum keluar sama sekali dari kamar mandi nya.


"Cla? Clara!" ucap nya yang langsung mengambil handuk dan mengangkat tubuh gadis yang terendam di bathup penuh air yang memberikan warna wine di dalam nya.


Lima goresan di tangan wanita itu terlihat begitu jelas, pisau Carter yang tak jauh dari bak membuat pria itu tau alasan dari mana luka itu.


Ia pun langsung menggendong dan membawa sang istri ke rumah sakit segera. Ia tak tau jika wanita itu bisa senekat demikian hanya untuk meminta cerai dari nya.


...


JBS Hospital


Penangan yang tepat waktu membuat nyawa wanita cantik itu terselamatkan.


Louis kehabisan kata-kata, ia pernah membuat wanita itu menggoreskan luka di pergelangan tangan nya dua kali.


Pertama saat ia pertama kali memaksa wanita itu untuk melayani nya ketika mendapatkan obat perangsang, mengambil pengalaman pertama sekertaris nya hanya karna jebakan yang harus nya di tujukan untuk nya.


Sikap tak peduli nya lah yang membuat wanita itu melukai diri nya sendiri karna merasa hidup nya telah di hancurkan dan yang kedua?


Saat wanita itu kini telah menjadi istri nya, ia pun kembali memakai cara yang sama.


Beberapa jam telah berlalu, Louis sama sekali tak bisa fokus dalam pekerjaan nya karna kondisi sang istri saat ini.


"Cla?" ia langsung memanggil nama sang istri begitu melihat wanita itu yang seakan mulai tersadar.


Wajah yang pucat itu memejam kembali, ia menepis pelan tangan pria yang tengah menyentuh nya.


"Kenapa melakukan itu?" tanya Louis yang sadar wanita itu menepis tangan nya.


"Kenapa lagi? Kalau aku mati aku akan bercerai dengan sendiri nya kan?" tanya Clara dengan membuang wajah nya.


"Clara! Apa kau tidak lelah terus mengatakan hal yang sama?!" tanya Louis meninggikan suara nya tanpa sadar.


"Tapi aku mau nya itu! Aku tidak bisa bernapas saat dekat dengan mu! Rasanya seperti benar-benar di neraka!" ucap nya yang juga meninggikan suara nya namun dengan suara yang serak karna menahan tangis nya.


"Neraka? Apa aku membuat mu se-"


"Kau itu neraka ku! Aku tidak..."


"Aku tidak bisa..." sambung nya lirih yang kini mulai menangis.


Louis tak mengatakan apapun selain hanya melihat wanita itu kembali menangis karna meminta cerai dari nya.


"Aku cuma minta cerai saja, aku tidak akan mengambil uang mu sedikit pun..." sambung nya lagi dengan nada memohon.


"Apa kau sangat membenci ku?" tanya pria yang terlihat terkejut itu.


"Hm, aku benar-benar membenci mu." jawab Clara lirih.


"Kau tidak bisa beri aku kesempatan sedikit lagi?" tanya pria itu yang kini mulai terdengar suara yang pelan.


"Tidak..."


Jawaban yang seakan menjadi akhir dari nya, bukan ia yang tak lagi mencintai wanita itu namun melihat Clara yang terbaring terendam dengan air yang penuh darah itu membuat nya teringat dengan mayat yang hancur yang pernah ia lihat sebelum nya.


"Baik, kita akan bercerai..."


"Itu yang kau inginkan, iya kan?" tanya nya lirih menatap ke arah wanita di depan nya.


Ia takut jika wanita yang ia cintai itu akan menjadi seperti adik nya, menjadi mayat tak bernyawa dan hancur.

__ADS_1


Clara tersentak, setelah sekian lama akhirnya pria itu menyetujui yang ia minta, jujur ia merasa lega namun kenapa hati nya terasa sakit?


__ADS_2