(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
It's okey, I'm alright


__ADS_3

Mansion Dachinko.


Gadis itu meminum coklat panas di depan nya sedikit demi sedikit, ia tak tau kenapa sekarang harus selalu mengikuti pria itu bahkan saat ini pun ia tengah duduk di sofa ruangan kerja pemilik mansion mewah tersebut.


Ia melirik sejenak ke arah pria yang masih melihat ke arah laptop nya itu, seminggu terasa tenang bagi nya karna James pergi entah kemana dan baru saja kembali malam sebelum nya.


Gadis itu mulai berdiri, ia merasa bosan karna hanya duduk seperti lukisan cantik yang tengah di pajang.


"Kau mau kemana?" tanya James saat melihat ke arah gadis itu yang beranjak pergi.


Tak ada jawaban gadis itu hanya melewatkan nya, namun.


Greb!


Louise tersentak, tangan nya tercekal dan membuat nya tak bisa melanjutkan langkah nya.


"Aku tanya dengan mu, kau mau kemana?" tanya pria itu mengulang.


Gadis itu meringis, tangan kekar itu terlalu kuat menggenggam tangan nya dengan kuat.


"Kau mau aku duduk dan melihat mu terus?" tanya gadis itu mengernyit dengan wajah yang menahan pegal dan sakit di tangan nya.


Pria itu tak menjawab, alasan ia menyeret gadis itu keluar dari kamar nya karna ingin melihat wajah gadis itu lebih lama, ingin di temani dan ingin bersama.


"Kau mau keluar? Hm?" bukan nya menjawab pertanyaan pria itu malah menanyakan hal lain nya.


James sendiri tau gadis itu kini sudah bisa kembali menerima sentuhan, walaupun Chiko masih memperingatkan jika sudah bisa pun mungkin gadis itu butuh perlakukan yang sangat lembut untuk melakukan nya karna kondisi kesehatan serta tubuh nya yang belum pulih 100 persen.


Louise tak menjawab, ia sendiri tak tau apa yang di inginkan pria itu dari nya. Bahkan ia tak pernah berpikir jika pria itu ingin membuat nya kembali mengandung walaupun hati dan mental nya belum siap sama sekali untuk itu.


Pria itu memajukan langkah nya hingga membuat gadis itu memundur dan tepat berhenti ketika sudah menyentuh dinding.


"Bukan nya kau sudah lama tidak ke sini? Hm?" tanya pria itu mendekat sembari menyentuh pipi halus dan pucat karena tak memakai make up itu.


Tak ada jawaban, hubungan nya memang sangat berbanding terbalik antara yang dulu dan sekarang.


"Aku mau keluar," ucap nya singkat sembari memalingkan wajah nya.


Pria itu tak menjawab, ia menahan satu tangan gadis itu dengan tangan nya yang lain, sementara itu tangan nya yang satu lagi menyentuh pipi dan bibir gadis itu secara berulang walaupun di tepis.


Tangan kekar itu perlahan bergerak ke belakang tengkuk gadis itu setelah menyentuh bibir nya.


Humph!


Satu tarikan yang menahan tengkuk gadis itu agar bibir nya bisa terlahap dengan sempurna oleh pria di depan nya.


Louise tersentak, ia mendorong tubuh pria itu agar melepaskan lum*tan nya namun tak berhasil.


Bukan nya terlepas pria itu malah memasukkan lidah nya dan membelit seluruh isi mulut gadis itu, menahan tubuh ramping itu agar terus melekat pada nya dan membuat nya lebih leluasa untuk mencium bibir yang tak ia makan cukup lama itu.


Ciuman itu mulai terlepas, James pun perlahan menurunkan ciuman nya ke leher jenjang gadis itu, mengesap nya hingga memberikan tanda kemerahan di kulit putih itu.


"James, lepas..." ucap nya lirih karna sembari mendorong pria itu menjauh agar melepaskan nya.


Bukan nya melepaskan pria itu perlahan mengangkat tubuh gadis itu sembari mengunci pintu ruangan kerja nya dan kembali memindahkan nya ke sofa.


Louise tersentak, belum lagi ketika melihat James membuka kemeja nya dengan cepat dan memperlihatkan semua otot bidang nya.


"Ka..kau mau apa?" tanya nya dengan mata yang membulat takut.


Tak ada jawaban sama sekali, pria itu tak mengatakan apapun selain mulai mengukung tubuh gadis itu dan menyatukan kedua tangan nya lalu mengikat nya dengan kemeja yang baru ia lepas tadi.


"James! Aku baru-"


"Kau sudah bisa melakukan nya," potong pria itu sebelum Louise menyelesaikan kalimat nya.


Deg!


Gadis itu tersentak, ia tau apa yang akan terjadi pada nya selanjutnya. Ia mulai merasakan kembali lidah hangat pria itu mencoba masuk ke dalam mulut nya.


Tangan yang perlahan mulai menjelajah di balik pakaian yang ia kenakan.


Sreg!


Karna sulit untuk membuka pakaian gadis itu secara perlahan ia pun menyobek dengan kasar pakaian gadis di depan nya.


"Jangan James..." ucap nya lirih yang menggeleng.


Pria itu menatap ke arah wajah yang menatap nya dengan was-was dan takut, "Kau tidak mau melakukan nya? Kalau begitu bisa memohon..." ucap pria itu tersenyum simpul sembari menyentuh pipi gadis di depan nya.


Ekspresi gadis itu berubah, ia tak pernah sekalipun memohon pada siapapun. Bahkan ketika nyawa nya di ujung tanduk pun ia tak akan pernah memohon pada seseorang.


"Tidak? Kau tidak akan melakukan nya kan?" tanya pria dengan secarik smirk di wajah nya dan mendekat ke telinga gadis itu.


Ia tau gadis itu tak akan pernah memohon ataupun bersujud pada siapapun.


"Ini tidak akan sakit, aku juga akan melakukan nya dengan cepat..." bisik pria itu sekali lagi.


Gadis itu menggeleng, ia memberontak dan berusaha melepaskan diri nya, namun tangan pria itu sudah menyebar ke seluruh tubuh nya, menyentuh apa yang selalu ia tutupi.


Sapuan ciuman hangat pun mulai menyebar, melucuti semua yang tertinggal di tubuh gadis cantik itu.


Ukh!


Gadis itu meringis, walaupun tubuh nya sudah cukup panas untuk mampu menerima sesuatu yang akan masuk namun tetap saja ia tak menginginkan sama sekali.


"Sakit?" tanya pria itu sembari berhenti sejenak menatap wajah yang basah karna ciuman dan air mata gadis itu sendiri.


Tak ada jawaban, tentu nya gadis itu enggan menjawab pria yang menyentuh nya tanpa izin.


Ia pun tak lagi bertanya dan melanjutkan apa yang ia mulai dengan gerakan yang lembut dan teratur, ia pun berusaha membuat tubuh gadis itu ikut menikmati nya walaupun sangat sulit untuk menaikkan hasrat gadis itu.

__ADS_1


Ugh!


James memangut bibir gadis itu sesaat ketika ia memuntahkan seluruh vanila panas itu pada gadis di kungkungan nya.


Perlahan ia pun bangun, melepaskan kemeja yang ia gunakan untuk mengikat tangan gadis di depan nya.


Napas yang tak teratur, wajah yang berkeringat dan rambut panjang yang terlihat basah dan berantakan kini serta tubuh polos yang penuh dengan tanda kemerahan menjadi penampilan gadis itu saat ini.


Plak!


Saat semua tenaga nya sudah terkumpul kembali, tangan dengan jemari lentik itu langsung memukul wajah pria di depan nya.


Tak ada satu patah pun yang ia keluarkan, hanya tatapan yang seakan menjadi kata-kata.


Iris hijau yang terlihat di kelilingi oleh kaca berair itu menatap dengan tatapan yang terlihat begitu marah dengan mata yang sayu.


Pria itu seakan tak merasakan perih apapun di pipi nya, ia kembali melihat ke arah gadis itu dan menangkap tangan yang tadi memukul wajah nya.


Cup,


Satu kecupan melayang di telapak tangan halus dan lembut gadis itu, mengecup nya secara perlahan.


"Kenapa menatap ku seperti itu? Dulu kita juga melakukan nya di sini kan? Di sana juga," ucap nya sembari menunjuk meja kerja nya dengan dagu.


Gadis itu membuang wajah nya, ia tak lagi bisa mengambil pakaian yang sobek milik nya dan membuat nya memakai kemeja berwarna biru tadi yang di gunakan untuk mengikat tangan nya.


Sedangkan pria itu tak mengatakan apapun, namun ia juga mulai berpakaian kembali walaupun tak bisa memakai kemeja nya karna sedang digunakan oleh gadis cantik nya itu.


"Kau mau langsung pergi? Kau istirahat du-"


"Lepas!" gadis itu menepis dengan kuat hingga membentur sisi meja pria itu.


Prang!


Salah satu benda di meja itu terjatuh bersamaan dengan kotak perhiasan berwarna hitam keemasan.


Gadis itu diam, ia melihat ke arah kotak perhiasan kecil itu dan mengambil nya tanpa sadar.


Cincin yang berwana putih dengan bentuk kelopak abstrak dengan berlian putih juga yang terlihat elegan di dalam nya.


"Apa yang kau lihat?" ucap James yang langsung mengambil nya dengan cepat dan menutup nya.


Ia dulu membeli cincin itu untuk melamar gadis di depan nya sebelum tau semua kebenaran nya, dan cincin itu kini sudah di temukan oleh pemilik sebenarnya.


Louise diam, mau di lihat bagaimana pun itu terlhat seperti cincin untuk melamar wanita atau untuk di berikan pada seorang wanita.


"Kalian berencana menikah?" tanya nya lirih dengan suara bergetar pada pria itu.


"Kau tidak punya hak untuk tanya seperti itu pada ku kan?" jawaban yang langsung membuat dada gadis itu berdenyut.


"Kau pasti sangat menyukai nya kan?" tanya gadis itu sembari menatap pria di depan nya dan melirik sekilas ke arah kotak cincin itu.


"Kau mau kembali ke kamar?" tanya pria itu yang mengalihkan pembicaraan, ia membiarkan gadis itu salah paham karna tak ingin mengatakan untuk siapa cincin itu sebenarnya.


"Aku mau tanya, kalau kau sangat menyukai wanita itu kenapa kau melakukan itu dengan ku tadi? Hm?" ucap Louise dengan bibir yang gemetar.


Ia tau pria itu tak mencintai nya dan mencintai wanita lain, tapi kenapa hati nya masih terasa sakit?


Kenapa ia selalu merasakan perih padahal ia sudah tau?


Kenapa masih berharap pada pria yang sudah jelas-jelas menyakiti nya? Seperti orang bodoh yang menunggu salju turun di Hawai?


"Aku tidak punya alasan untuk tidak melakukan nya dengan mu," jawab pria itu singkat.


"Punya! Karna aku bukan milik mu!" sanggah gadis itu dengan cepat.


James tersenyum kecil mendengar nya, ia mendekat dan menyentuh dagu gadis itu, "Kau bukan milik ku? Katakan, bagaimana kau bukan milik ku saat ini? Padahal aku punya hidup mu dan tubuh mu secara bersamaan kan? Kau bahkan tidak bisa memberikan hati mu untuk orang lain," bisik nya.


Gadis itu tersentak, hati nya semakin sakit. Lebih sakit karna ia masih belum bisa menghilangkan semua rasa yang ia miliki walaupun perasaan nya hanya di jadikan seperti mainan.


......................


Kediaman Rai.


Wanita cantik itu menatap ke arah kertas di depan nya, surat perceraian yang sudah di tandatangi dan juga surat yang berisi kompensasi nya.


"Ini apa? Kau kan hanya perlu menceraikan ku," ucap nya yang menanyakan salah satu surat di depan nya.


"Kompensasi, lagi pula kau tidak mungkin tidak membawa apapun kan? Apa tunjangan nya kurang?" Louis yang menatap wanita yang akan segera menjadi mantan istri nya.


Ia sudah membawa pengacara untuk menyelesaikan perceraian nya.


"Ini terlalu banyak, kompensasi perceraian saja sudah cukup tidak perlu tunjangan setiap bulan..." jawab nya lirih.


"Tunjangan nya akan berhenti kalau kau menikah lagi, kau bisa gunakan uang itu untuk keperluan mu atau mungkin untuk melakukan yang kau sukai." ucap nya pada Clara.


"Kau tidak memberikan ku ini agar bisa mengikuti ku kan?" tanya Clara lirih dengan nada curiga.


"Kalau kau khawatir Michael yang akan mengurus nya, jadi kau tidak perlu bertemu dengan ku." jawab Louis mengatakan nama sekertaris baru nya.


Ia merasa curiga dengan sekretaris Verdi maka dari itu ia mulai merekrut sekertaris baru, benar-benar baru karna pria itu lulusan baru yang masih belum berpengalaman dan juga anak yang di biayai di panti asuhan yang di sokong oleh JBS grup.


Walaupun ia masih belum memecat sekretaris Verdi karna masih ingin mengetahui sesuatu yang lain.


Clara tak mengatakan apapun lagi, ia perlahan menandatangi surat perceraian di depan nya dan tinggal menunggu proses penyelesaian nya.


Louis diam melihat wanita itu, "Cla? Aku..."


"Apa aku bisa memeluk mu sekali saja?" ucap nya pada wanita itu.


"Hm," anggukan kecil mengiyakan permintaan dari pria yang akan segera menjadi mantan suami nya.

__ADS_1


Greb!


Pria itu mendekat dan mulai mendekap tubuh wanita itu, ia memeluk nya dengan erat dan perlahan melepaskan nya, "Aku harap kau bisa bahagia..." ucap nya dengan senyuman kecil namun mata yang mengatakan masih tak ingin melepaskan wanita di depan nya.


Tak ada balasan dari wanita itu, ia perlahan memundur dan melepaskan tangan pria di depan nya.


"Presdir? Apa tunjangan nya tidak terlalu..." ucap Michael yang tau kondisi JBS saat ini.


"Tidak, lagi pula JBS akan bangun kembali, tenang saja kau tidak bekerja untuk orang yang salah." ucap Louis dengan senyuman kecil dan mata yang terlihat pedih.


"Sekarang aku benar-benar sendiri..." gumam nya lirih.


......................


Dua Minggu kemudian.


Mansion Dachinko.


Gadis itu menutup diri nya dengan selimut yang tebal, sekarang pria itu akan datang pada nya seminggu 4 atau sekitar 5 kali untuk menyentuh nya, apa lagi jika bukan untuk menanam saham di tubuh nya.


Louise mencegah tangan pria itu agar tidak keluar dari kamar nya, "Kau tidur di sini." ucap nya lirih dengan wajah pucat dan mata yang terlihat marah sekaligus terluka.


"Di sini?" tanya James dengan bingung.


Ia memang selalu melakukan hal itu lalu keluar dari kamar Louise setelah melakukan nya dan kini gadis itu mencegah nya?


"Kalau kau selalu keluar setelah melakukan itu pada ku, aku jadi seperti pel*cur..." ucap nya lirih dengan suara tertahan sembari meremas dengan kuat selimut nya.


"Aku bukan tempat buangan n*fsu mu, jadi jangan membuat ku seperti wanita murahan!" ucap nya pada pria itu.


Setidak nya setelah menggunakan tubuh nya, pria tak keluar dari kamar nya begitu saja seperti telah puas bermain dengan wanita penghibur dan pergi ketika keinginan nya sudah tercapai.


James tak mengatakan apapun, ia pikir gadis itu akan semakin membenci nya jika harus tidur lagi di ranjang yang sama tanpa tau yang ia lakukan malah semakin melukai hati gadis itu.


Greb!


Gadis itu tersentak, James tiba-tiba masuk ke dalam selimut nya dan langsung memeluk tubuh nya dengan cepat.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya nya yang langsung memberontak.


"Bukan nya kau yang minta agar aku tidur di sini?" tanya pria itu sembari semakin melilit tubuh gadis itu dalam pelukan nya.


"Tapi aku tidak minta kau memeluk ku!" ucap gadis itu yang serba salah.


Ia hanya meminta pria itu untuk tetap bermalam di kamar nya tapi bukan berarti memeluk nya sekali lagi.


"Sstt, jangan memancing ku lagi. Bukan nya kau tidak mau di perlakukan seperti wanita murahan kan?" bisik pria itu yang seketika membuat tubuh gadis itu tersentak.


James tak merasakan penolakan gadis itu lagi, namun ia merasakan buliran dingin di dada bidang nya yang penuh otot.


Suara isakan kecil di balik dekapan nya, yang membuat nya tau apa yang terjadi. Ia hanya berharap agar gadis itu cepat membawa hasil.


Pemberian vitamin dan obat penyubur yang di berikan bersamaan suntikan untuk penyakit gadis itu membuat nya mendapatkan secara teratur.


...


Satu Minggu kemudian.


"Priksa dengan itu," ucap James sembari memberikan tes kehamilan pada gadis di depan nya.


Gadis itu tersentak, ia masih belum siap untuk hamil lagi namun ia sendiri juga tak bisa melawan apalagi mencegah saat pria itu terus menyentuh nya dan memberi nya benih kehidupan.


"Ini belum ada sebulan jadi kena-"


"Coba saja, atau mau ku panggil Chiko?" tanya James sekali lagi.


Gadis itu pun mengambil nya dan memeriksa nya, mata nya membulat sempurna. Ia baru saja kehilangan anak nya dan kini?


Tangan nya langsung beranjak membuka kran air dan mencuci tes kehamilan nya agar mengubah menjadi satu garis lagi.


"Ini..." ucap nya sembari memberikan stick cek kehamilan nya itu.


James mengernyit, ia memang baru menyentuh gadis itu di bulan ini dan seharusnya dari perhitungan masa subur nya bisa di mulai sejak sekarang.


Namun ia melihat ke arah gadis yang sekaan terlihat gugup dan tangan yang sedikit gemetar membuat nya dan tersenyum simpul.


"Louise? Kau hamil kan?" bisik nya mendekat.


Deg!


Gadis itu tersentak, tubuh nya membeku begitu mendengar nya.


"Apa ini yang kau inginkan? Padahal aku..." ucap nya lirih yang tak tertahankan, baru saja ia kehilangan putra nya dan kini harus mengandung kembali.


"Kali ini jaga anak itu baik-baik, aku tidak akan membiarkan mu berulah lagi." ucap James tersenyum pada gadis itu.


"Padahal kau akan menikah dengan wanita itu tapi kenapa membuat ku! Lalu..." ucap nya dengan mata berair.


"Itu bukan urusan mu, yang perlu kau pikirkan adalah menjaga anak ku dengan baik di sini? Hm?" ucap nya sembari mengusap perut yang masih rata itu.


Ia pun perlahan keluar dari kamar tersebut, "Aku akan minta Chiko mengecek keadaan mu nanti." ucap nya sebelum pergi.


Bruk!


Gadis itu terjatuh lemas ke lantai, ia tak tau kalau pria itu sampai setega itu membuat nya kembali hamil tanpa menanyakan apa ia sanggup dan siap atau tidak bahkan setelah menunjukkan mayat bayi pertama nya.


Gadis itu tertawa menangis, namun tangisan itu mulai berubah menjadi senyuman, senyuman kecil yang perlahan mulai berubah menjadi tawa.


Terlalu banyak air mata yang ia keluarkan, dan terlalu banyak tangisan yang sudah ia habiskan.


"Tidak apa-apa..."

__ADS_1


"Aku akan baik-baik saja..." gumam nya stelah tawa dan tangis nya yang bercampur menjadi satu.


Mata nya terlihat tak lagi memancarkan sinar, seperti wanita gila yang terlihat kehilangan akal nya dalam sekejap


__ADS_2