(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Menyebut nama nya


__ADS_3

Kediaman Rai


Louise tersentak saat ia kini sudah melihat ke arah cermin.


Ia dapat melihat semua bekas ciuman yang tertinggal di leher nya, "Tadi dia melihat ini?" gumam nya yang terkejut.


Namun walau begitu pun, tunangan nya itu tak mengatakan apapun selain meminta nya untuk tetap bersama nya.


"Hah..." Louise membuang napas nya, kini i semakin merasa bersalah pada tunangan nya itu.


Ia seperti kehilangan kata-kata dan tak tau harus bagaimana menebus kesalahan nya karna ia seperti mengkhianati pria yang sudah menjadi sahabat nya dari kecil.


......................


Mansion Dachinko


Mata coklat yang bulat mulai bangun, ia menatap ke arah kamar nya yang sudah kosong tak ada jejak sang ibu lagi.


Dan benar saja ia merasa tubuh nya lebih ringan karna sang ibu sudah datang dan memberikan nya sihir.


Kaki nya melangkah dan tentu kali ini ia mencari sang ayah.


"Daddy?"


Suara yang kecil nan menggemaskan itu berusaha berkeliling mencari sang ayah.


"Nona? Anda mau kemana?" tanya salah satu pengasuh yang melihat nona muda nya berlarian padahal baru saja kembali sehat.


"Mau Daddy, Daddy mana?" tanya nya dengan mata yang bulat itu.


Pengasuh tersebut pun langsung menggendong bayi berusia tiga tahun itu dan menatap dengan senyuman yang lembut.


"Tuan masih ada urusan, nona mau main bersama saya?" tanya nya pada gadis kecil itu.


Bianca tampak lesu, "Mau nya sama Daddy, Daddy kenapa sibuk terus? Daddy ga sayang Bian lagi?" tanya nya dengan polos karna ingat sang ayah pernah pergi untuk waktu yang lama.


Pengasuh tersebut pun diam sejenak dan merasa ibu melihat wajah imut yang tampak sedih itu walau terkadang gadis kecil itu juga memiliki kenakalan yang luar biasa.


"Kata siapa Daddy tidak sayang Bian?"


Suara yang begitu di kenali membuat mata bulat itu langsung menoleh seketika.


"Daddy!" ucap nya yang langsung meminta turun dan berlari ke arah sang ayah.


"Bian sudah tidak sakit lagi?" tanya nya pada putri kecil nya.


Semua luka yang berada di tubuh nya tertutup dengan pakaian yang bersih dan rapi sedangkan luka di wajah nya masih dapat di tutup dengan plester karna bukan luka yang memerlukan jahitan.


"Wayah Daddy kenapa?" tanya Bianca pada sang ayah yang bahkan belum menjawab pertanyaan yang tadi di lontarkan untuk nya.


"Daddy semalam main tembak-tembakan," ucap nya pada putri kecil kesayangan nya itu.


"Wah..." mata bulat itu tampak semakin membesar saat ia tertarik dengan apa yang di katakan sang ayah.


"Daddy kenapa ga ajak Bian? Bian kan juga mau Piuw! Piuw!" ucap nya yang terlihat bersemangat.


"Kan Bian lagi sakit, jadi Daddy main sendiri." ucap nya yang mulai bisa mengikuti gaya bahasa putri nya.


"Tapi kan sekalang udah sembuh! Bian ikut nanti malam!" ucap nya dengan semangat.


"Tapi nanti malam Daddy udah ga main lagi," ucap James pada putri kecil nya.


Wajah imut nan menggemaskan itu tampak terlihat sendu.


James tersenyum tipis dan kemudian menggendong tubuh mungil putri cantik nya.


"Jadi Bian mau main sama Daddy?" tanya nya yang kembali membuat mata coklat itu bersemangat.


Bianca langsung menoleh dan mengangguk, ia punya banyak hal yang bisa di mainkan.


Dari mulai boneka sampai memasak untuk di mainkan bersama sang ayah.


"Kalau begitu, kita sarapan dulu." ucap James pada putri kecil nya.


Bianca mengangguk pada ucapan sang ayah, "Suapi," perintah nya dari mulut kecil yang berwarna merah muda itu.


James tersenyum namun tentu ia akan menuruti perintah putri kecil kesayangan nya itu.


......................

__ADS_1


Apart Sky Blue


Zayn terdiam, hari ini tak banyak melakukan apapun setelah kembali dari kediaman tunangan nya.


Pria itu berdiri, ia beranjak ke nakas nya dan membuka nya.


Sesuatu yang mirip dengan cairan bening di dalam botol kecil. Hadiah dari teman nya yang berada di Tallahassee, Florida.


Ia diam sejenak, ia tau apa kegunaan dari cairan yang bening di dalam botol itu karna memang teman nya memberikan nya sebagai hadiah pernikahan untuk malam pertama nya agar lebih panas.


Tangan nya menyimpan di dalam saku nya, ia pun mulai mengetik nomor yang memiliki banyak emoticon love di ujung nama nya.


"Kita harus melihat rumah bulan madu kita, kau tidak lupa kan?" tanya pria itu pada tunangan nya.


"Ya, aku akan bersiap. Kita pergi jam berapa?"


"Jam tiga sore, aku akan jemput jam dua sore nanti." ucap Zayn pada tunangan nya itu.


......................


Skip


Murren, Switzerland


Vila


Udara yang begitu sejuk dengan angin dingin yang masih begitu bersih. Aroma rumput yang basah saat hujan sudah selesai mengguyur nya.


"Untung saja hujan nya turun saat kita sudah take off," ucap Louise yang melihat ke arah luar dari jendela kamar nya yang terbuka.


Zayn tersenyum, ia membuatkan coklat panas untuk di minum oleh tunangan nya terkasih nya.


Ia melirik sejenak ke arah gadis yang tampak memeluk diri nya sendiri saat angin sejuk itu menembus pakaian yang di kenakan. Pria itu kembali melihat ke arah minuman berwarna coklat dengan asap yang mengepul itu.


Tidak apa-apa kan? Lagi pula kami juga akan menikah...


Tangan nya beranjak mengambil sesuatu dari saku nya dan mulai menuangkan cairan bening yang ia dapat dari teman nya saat ia melakukan perjalanan bisnis.


Gadis yang selalu menolak untuk kembali melakukan kegiatan panas itu bersama nya namun ia terus menerus di provokasi.


Takut, gelisah, dan terluka bercampur di dalam hati nya namun ia masih menyimpan nya, sesuatu yang mungkin bisa meledak karena terlalu banyak menahan.


"Ini," ucap nya yang memberikan secangkir coklat panas itu sedangkan ia sendiri meminum kopi latte.


Louise menerima nya dengan senyuman karna ia tau pasti tunangan nya itu tak akan memberikan nya sejati yang berbahaya.


"Maaf..." ucap nya lirih.


Zayn menoleh, gadis itu meminta maaf tanpa mengatakan apa kesalahan nya.


"Untuk?" tanya nya pada gadis itu.


"Semua nya, maafkan aku..." ucap Louise lirih pada pria itu.


Zayn diam sejenak, ia tak mengatakan apapun lagi dan mulai tersenyum seperti biasa nya.


"Kau kan tidak melakukan apapun, jangan meminta maaf seperti itu." ucap nya yang bersikap seperti tak mengetahui apapun.


Louise tak mengatakan apapun, ia mulai meminum coklat panas yang di berikan oleh calon suami nya itu.


Jantung pria itu berpacu lebih cepat saat ia melihat gadis itu meminum coklat panas yang ia berikan.


...


Uhh...


Jendela vila yang berada di dinding perbukitan itu terbuka membiarkan hawa dingin untuk masuk.


Namun gadis yang berada di atas ranjang itu tampak merasa kepanasan.


Pandangan nya terlihat samar, tubuh nya bergejolak menginginkan sesuatu. Suara erotis mulai keluar dari bibir nya dengan halus.


Jantung nya berdebar lebih cepat, kesadaran akal nya menurun dan hanya memusatkan di satu titik yaitu menginginkan rangsangan yang lebih kuat.


Humph!


Bibir yang terpaut pada nya tentu langsung di sambut dengan antusias.


Hisapan yang begitu bergairah dan tangan yang bergerak dengan sendiri nya untuk membuka pakaian pria yang berada di atas tubuh nya karna ingin segera merasakan kulit hangat yang menyatu pada nya.

__ADS_1


"Aku..."


"Aku mau itu..."


Gumam gadis itu lirih saat kesadaran di kepala nya mulai hilang dan tak lagi bisa berpikir dengan jernih.


"Bisakah kau menyentuh ku?"


Pinta nya dengan suara yang bahkan tak bisa keluar dan hanya des*han halus yang terdengar di bibir yang berucap itu.


Ia begitu merasa panas dan sedikit sentuhan saja mampu membuat nya menggila.


Pria itu diam sejenak, namun ia kembali menghujani tunangan nya dengan ciuman dan tentu gadis itu pun membalas nya.


Setiap sentuhan yang datang tubuh sempurna itu langsung merespon, suara yang membangkitkan hasrat dan gelora dalam diri nya.


Satu persatu sentuhan yang lembut dan kini sudah terdengar suara napas berat yang beradu satu sama lain.


Ranjang yang berderit dan leng*han panjang bahkan terkadang jeritan kecil yang mengairahkan semakin terdengar.


Angin malam itu sama sekali tak memberikan pengaruh apapun karna kedua nya kini tampak berkeringat.


"Ungh!"


Gadis itu kembali mel*nguh, ia mencakar lengan pria yang berhenti sejenak itu membiarkan nya keluar untuk sekian kali nya.


Permainan kembali berlanjut, entah sampai kapan akan berakhir dan sampai kapan pria itu ingin berhenti.


"Hmm..."


Suara yang panjang dan tertahan itu keluar dengan sesuatu yang dalam tertanam memasukkan bibit nya.


Pria itu terjatuh di samping gadis yang tampak sayu dan berkeringat itu.


Ia mengusap wajah nya dengan lembut dan menyingkirkan rambut yang menganggu di wajah cantik yang sudah lemas kehabisan tenaga itu.


"James..."


Deg!


Pria itu tersentak, jantung nya terasa ingin berhenti saat mendengar suara halus yang keluar dari bibir tunangan nya setelah mereka melakukan sesuatu yang begitu panas itu.


"James..."


Suara yang kembali terdengar, tubuh nya bertidak dengan tidak keinginan dari otak nya, dan saat kedua nya tak jalan bersamaan akibat dari pengaruh cairan yang di berikan pada nya membuat gadis itu juga bertindak sesuai dengan sesuatu yang ingin selalu ia sembunyikan.


Zayn membatu, pria itu kehabisan semua kata-kata nya.


Gadis itu beranjak mendekat, memeluk tubuh bidang yang masih terlihat basah akan keringat itu.


"Ka..kau..."


"Membayangkan dia?"


Ucap nya lirih yang kali ini benar-benar meras terluka dan begitu hancur.


Sedangkan gadis yang kelelahan itu mulai tertidur dalam sekejap.


Mata yang jernih itu tampak mengkilap semakin sempurna dengan bendungan yang tertahan oleh kelopak nya.


Tangan nya tak mendorong atau pun bersikap kasar, ia mengusap rambut gadis itu dengan halus dan menepuk nya.


Apa aku tidak ada di hati mu sedikit pun?


Aku akan lakukan apapun untuk mu...


Apapun asalkan kau tetap bersama ku...


Aku ingin melihat mu terus tersenyum dan tertawa...


Tapi...


Apa sekarang aku masih menginginkan itu?


Apa yang ku inginkan? Kau atau senyuman mu?


Aku bahkan tidak pernah memilih mu sebagai seseorang yang ku sukai, tapi kenapa aku sangat mencintai mu?


Kau benar-benar akan bahagia dengan ku?

__ADS_1


Atau itu hanya ilusi ku saja?


__ADS_2