(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Mommy sakit?


__ADS_3

Mansion Dachinko


Tangan halus wanita itu mengusap dan mengelus kepala putri nya, ia membacakan cerita yang di sukai oleh anak kecil itu dan penuh gambar yang bisa membuat mata coklat dan bulat itu bersinar.


"Putli nya kenapa di tinggal di menala? Kan kasihan Myy?" tanya nya yang kini menoleh dan mengajukan pertanyaan.


"Kan dia di culik sama penyihir," jawab Louise sembari menatap ke arah wajah menggemaskan itu sekilas.


Ia tak mengatakan apapun atau memarahi putri nya atas sikap nya tadi siang yang datang dan langsung memukuli perut nya.


Namun tentu ia sudah memberi tau agar putri kecil nya itu tak lagi mengulangi perbuatan nya.


"Mommy?" panggil nya lirih sesaat setelah dongeng itu di tutup.


"Iya? Bian masih belum mau tidur?" tanya nya yang memeluk tubuh mungil itu.


"Adik bayi nya di ilagin ga bisa Myy? Kata nya kalo nanti adik bayi nya uda lahil Mommy ga mau bacain celita lagi, kata nya kalo jadi kakak halus ngalah..." ucap nya yang kali ini tak menangis seperti siang tadi.


"Siapa yang bilang? Temen Bian lagi?" tanya nya sembari mendekap tubuh mungil itu.


Satu anggukan terlihat di dalam pelukan nya, Louise menarik napas nya dan mengusap punggung mungil itu.


"Kalau nanti adik bayi nya lahir, Mommy sama Daddy tetep bacain Bian cerita, tetep sayang Bian..." ucap nya pada putri kecil nya.


Gadis kecil itu tak menjawab namun bibir mungil nya mengerucut, ia mendengar jika teman-teman nya yang lain dulu nya juga di bilang begitu.


Namun setelah sang adik lahir teman-teman nya bahkan sudah menjadi jarang di gendong.


"Hali ini Bian tidul sama Mommy boleh?" tanya nya pada sang ibu dengan tatapan berbinar di mata coklat yang bulat itu.


"Iya, Mommy tidur sama Bian ya malam ini..." ucap nya mengecup dahi putri nya.


"Benelan sama Bian! Jangan nanti malam pindah ke tempat Daddy!" ucap nya sekali lagi karna sang ibu sering mengatakan akan menemani nya namun ketika ia terbangun di malam hari ibu nya sudah pindah kamar.


"Iya! Cerewet banget sih ini mulut nya," ucap Louise yang gemas dan mencubit bibir mungil itu.


"Huh! Mommy sih!" ucap nya yang kesal namun malah memeluk wanita itu dengan erat.


Louise tersenyum tipis, memang putri nya sedikit nakal namun ia juga bukan tipe anak-anak yang menyebalkan.


......................


Cafe


"Kembar?" Wanita itu mengulang apa yang ia dengar barusan.


Anggukan dan senyuman tipis menjadi jawaban.


"Lalu mereka perempuan atau laki-laki? Atau sepasang?" tanya Clara dengan tatapan yang bersemangat walaupun tentu rasa iri nya masih ada.


"Belum tau, jenis nya belum terlihat di USG mungkin kalau usia nya sudah 4 atau 5 bulan baru bisa terlihat jelas." jawab Louise yang memang ia juga belum tau gender calon bayi bayinya.


"Bianca di mana? Dia tidak ikut?" tanya nya yang sebelum nya juga menunggu keponakan nya yang cerewet dan lucu itu.


"Dia sekolah," jawab Louise dengan senyuman tipis.


"Hubungan kalian sekarang gimana? Louis ga ada buat masalah kan?" tanyanya yang pada wanita itu dan tentu nya ia selalu mengkhawatirkan sang kakak.


Clara menggeleng, memang ia jarang bertengkar kecuali ia sendiri yang memulainya.


Rasa tidak percaya diri dan tertekan akibat masalah keinginannya yang tidak akan pernah terwujud.


"Nanti kalau bayi-bayi nya lahir kau akan akan tetap bekerja?" tanya nya pada wanita itu.


Ia sendiri memang bekerja sebagai ibu rumah tangga karna sudah memiliki suami yang kaya dan tak punya aset bisnis keluarga dari orang tua nya tak seperti adik ipar nya itu yang masih termasuk dalam golongan keluarga konglomerat.


"Entah lah, James sudah bilang pada ku untuk berhenti bekerja dan dia yang akan gantikan peran ku tapi kau tau sendiri kan? Mereka masih sering bertengkar." ucapnya yang merasa kakak dan suami nya tak akan cocok bekerja sama.


"Benar sih, tapi aku harap kau sering di rumah." ucap Clara dengan tawa tipis.


Jika wanita itu berada di rumah ia akan bisa sering bermain ke sana untuk melihat bayi bayi yang baru lahir itu.


Dan memang tak ada yang melarang nya jika kapan pun ia ingin ke rumah adik iparnya itu, tapi yang manjadi masalah adalah ia merasa terintimidasi dengan suami adik ipar.


"Kau kan bisa ke sana kapan saja," ucap Louise pada kakak ipar nya yang sedang memakan cake yang manis itu.


"Sebenarnya aku sedikit takut dengan suami mu..." ucap Clara yang setengah berbisik pada wanita itu.


"Hm? Kenapa?" tanya nya yang mengernyit.


"Rasa nya seperti melihat kakak mu dulu waktu dia belum suka aku, merinding..." ucap nya lirih.


"Ohh..." Louise menangguk kecil, mungkin karna ia sudah terbiasa dengan ayah dan kakak yang punya tatapan dan wajah yang mengintimidasi sehingga ia dulu tak merasa takut atau merinding saat baru pertama kali melihat pria yang menjadi suami nya itu.


......................


JBS Hospital


Louis membuang napas nya, memang sekarang perselisihan berkurang namun tentu saja ia belum sepenuh nya akrab dengan ipar nya itu dan mungkin masih bisa di katakan perang dingin.


"Apa yang mau kau bicarakan?" tanya yang membuka suara.


"Kalau nanti kandungan Louise sudah berusia 5 bulan aku mau kau menyuruh nya untuk tidak bekerja, mungkin sampai anak kami berusia 2 atau 3 tahun?" tanya nya yang langsung mengatakan pada kakak istri nya karna ia tau wanita nya sangat keras kepala.


"Kau mau mengambil aset nya?" tanya Louis mengernyit karna memang ia selalu curiga dengan pria itu.


"Tidak, tapi aku memang berencana menggantikan pekerjaan nya." jawab James singkat.


Ia berpikir jika nanti wanita nya mau kembali ke posisi nya semula ia tetap bisa memiliki nya.


"Lalu kenapa kau mau gantikan posisi dia?" tanya Louis yang semakin tak percaya.


"Hah..." suara tarikan napas terdengar dari pria itu.


"Kenapa kalian sangat keras kepala..." gumam nya lirih sembari menyentuh dahi nya.


"Apa? Kau bilang apa?" tanya Louis yang tak bisa mendengar suara halus itu.


"Baik aku akan bilang ini dulu, pertama Louise hamil anak kembar dan yang kedua kau tau sendiri kondisi kesehatan nya lalu yang ketiga aku akan buat perjanjian notaris kalau aku tidak akan ambil sedikit pun saham dia di sini kecuali menggantikan posisi nya sementara." ucap nya yang mengatakan lebih dulu.

__ADS_1


"Kembar? Kenapa kau tidak bilang dari tadi," ucap Louis dengan mata hijau yang tampak membuat untuk beberapa saat.


"Kau tidak tanya," ucap James sembari meminum teh nya.


"Memang nya aku harus jadi wartawan?" tanya Louis berdecak.


"Baik, akan ku pikirkan tapi aku tetap akan lakukan perjanjian notaris kalau kau yang mengantikan pekerjaan anak itu." ucap nya yang terkadang masih bicara seakan adik nya masih kecil.


"Ya," jawab James yang tentu sadar jika jika pria itu tak mungkin mudah mempercayai nya ketika ia pernah menyebabkan krisis untuk rumah sakit sekaligus perusahaan berbasis kesehatan itu.


......................


2 Bulan kemudian.


JBS Hospital


Kali ini agar gadis kecil itu tak merasa di abaikan, ia selalu di libatkan di segala urusan yang melibatkan calon adik-adik nya.


Walaupun wajah nya masih kesal dan ia yang masih terlihat enggan karna terkadang ia merasa orang tua nya sangat mengantikan adik baru yang akan mengantikan posisi nya.


"Jelek banget kayak kodok adik nya," celetuk gadis kecil itu ketika melihat gambaran USG yang menampilkan gambaran dua bayi di dalam perut itu.


"Bian..." Louise memanggil putri nya lirih yang memang belum bisa menjaga cara bicara nya.


Dokter yang masih berada di sana pun tersenyum, "Seperti nya sekarang akan ada anak laki-laki? Tadi sekilas yang satu lagi juga seperti anak laki-laki, tapi sekarang dia menutupi dengan kaki nya." ucap nya yang melihat ke arah salah satu bayi yang bergerak.


"Kedua nya laki-laki?" tanya Louise pada sang dokter.


"Seperti nya iya, tapi satu lagi terlihat menutupi jadi tidak terlalu jelas." ucap nya yang tadi hanya melihat sekilas.


James tersenyum, mungkin saja kali ini ia mendapatkan dua anak laki-laki adalah bonus satu dari anak pertama nya yang telah tiada.


"Kok laki-laki sih? Tukal tambah aja ga bisa? Bian ga suka adik laki-laki! Nakal!" ucap mulut kecil itu yang protes.


"Hush! Mau di tukar tambah di mana Bian," ucap Louise yang menimpali ucapan putri nya yang entah dari mana datang nya kosa kata itu.


"Di jual online Myy, nanti Bian yang posting Daddy yang jual." jawab nya enteng pada sang ibu.


"Bianca," ucap James yang kali ini bersuara pada putri nya.


"Kan! Mommy Daddy ga sayang Bian lagi!" ucap nya yang kesal karna selalu takut jika tempat nya di ambil dan di gantikan.


James menarik napas nya, tentu ia tak mau putri nya tiba-tiba mengamuk di ruang pemeriksaan kandungan itu.


"Kalau adik nya perempuan Bian mau?" tanya James yang tentu hal itu tidak akan terjadi saat ini karna kandungan istri nya berisi dua anak laki-laki.


"Engga! Kalo laki-laki mau Bian jual kalo pelempuan mau Bian lempal ke ke kolam kali ga Bian cincang sekalian!" ucap nya yang dengan lancar mengatakan kalimat yang harus nya tak di ketahui anak umur 5 tahun.


Dokter yang berada di sana terdiam sejenak, dan kemudian tertawa canggung. "Se.. seperti nya nona Bianca memiliki imajinasi yang begitu baik.." ucap nya yang bingung karna baru pertama kali menghadapi anak kecil dengan wajah polos namun pikiran yang tak sama dengan wajah nya.


Mata hijau itu melirik ke arah suami nya, tentu ia merasa kata seperti itu di dapat oleh pria yang mengasuh putri nya sejak kecil.


"Bian? Kita cincang-cincang kelinci saja..." ucap nya yang langsung menggendong tubuh mungil putri nya dan membawa nya keluar.


"Kenapa ga boleh adik bayi nya? Adik bayi Bian kok kayak kodok?" tanya nya yang tentu melihat penampakan yang berbeda dari USG dengan yang akan keluar nanti.


"Hush! Jangan begitu! Dulu Bian juga begitu," ucap James sembari menggendong putri nya.


"Eh?" James terdiam beberapa saat, semakin tumbuh besar putri cantik nya semakin kritis dalam mencerna sesuatu atau menanyakan sesuatu.


"Ya, mungkin begitu..." ucap nya yang juga akan merasa sulit menjelaskan nya.


"Belalti dulu Bian jelek dong..." ucap nya lirih yang tampak mengerucutkan bibir nya yang tampak sedih karna berpikir ia juga dulu nya adalah kodok yang bertransformasi.


"Tidak, Bian dari dulu anak Daddy yang paling cantik." ucap nya yang mengusap punggung putri nya dengan lembut.


Kini Louise pun mulai memberhentikan pekerjaan nya setelah kakak dan suami nya menyuruh nya untuk beristirahat dan juga dokter yang memantau kesehatan diri nya dan juga bayi nya pun menyarankan hal yang sama.


......................


3 Bulan kemudian


Mansion Dachinko.


Perut yang dulunya ramping kini sudah membulat sempurna dan besar.


Beberapa guratan dari perut yang melebar dengan besar itu terlihat, rasa yang lebih berat ia rasakan setiap harinya.


Perasaan yang lebih mudah lelah, sulit untuk tidur dan lagi kaki yang terkadang bengkak. Belum lagi menemani putri nya yang aktif itu selama bermain membuatnya semakin sering kelelahan.


Dan tentu selama 8 bulan terkahir pun tak mungkin suami nya tak pernah menyentuh nya sama sekali, dan hal itu juga membuatnya sering lelah.


Tapi kelelahan yang ia rasakan tak begitu ia benci, ikatan yang ia rasakan untuk kehamilan ketiga nya lebih kuat dari pada kehamilan keduanya.


Walaupun ia sebelum nya tak ingin memiliki anak namun setidaknya hubungan yang ia lakukan atas dasar suka sama suka tanpa ada nya keterpaksaan apalagi tekanan batin.


"Bian? Mommy masuk ya? Kita main di dalam ada mau?" tanya Louise yang sudah kelelahan mengikuti putri nya yang terus menerus menarik tangan nya.


"Kan kita balu main Myy?" tanya Bianca yang masih ingin bermain dengan ibu nya lebih lama.


"Mommy pegel nak, adik nya juga kayak nya pegel, lihat ini gerak terus kan?" ucap Louise yang menunjukkan tendangan bayi nya.


"Mommy nih! Pasti selalu kalna adik maka nya Mommy ga mau temenin Bian main! Belum lahil aja udah buat susah!" ucap nya yang tampak marah melihat sang ibu.


Louise menarik napas nya, padahal sudah hampir 9 bulan namun putri nya masih belum menyukai adik nya.


"Iya, Mommy temenin lagi. Coba mana lihat yang bian masak." ucap nya yang saat ini tengah bermain masak-masak dan menghias makanan nya dengan bunga-bunga di taman sang ayah.


Rasa marah itu mereda lagi dan kemudian tersenyum senang, ia suka ketika ibu nya berhenti bekerja dan menemani serta menyambut nya pulang sekolah.


Namun yang menjadi masalah semenjak perut sang ibu semakin membesar ibu nya semakin sering kelelahan dan tampak kesulitan.


"Mommy? Mommy?" panggil nya pada sang ibu yang tampak lelah dan ingin istirahat.


"Iya? Kenapa Bian?" tanya Louise yang melihat ke arah putri cantik nya.


"Adik nya buat Mommy susah ya? Mommy jadi sakit kalna adik nya ya?" tanya nya pada sang ibu karna sebagai anak kecil yang memiliki kemampuan menyerap dan melihat sekitar nya lebih peka membuat nya ikut merasakan.


Namun yang menjadi masalah kepintaran nya memiliki komponen yang berbeda saat sudah tercampur dengan watak nya yang sudah di terbentuk oleh pola asuhan sang ayah.

__ADS_1


"Engga, Mommy ga sakit kok..." ucap nya sembari mencubit pipi putri nya.


"Ga sakit kok Mommy seling bilang 'Aduh! Aduh!' "ucap nya yang memang terkadang mendengar ibu nya yang meringis akibat sulit bergerak dengan perut yang lebih besar dua kali lipat dan harus di tanggung dengan fisik yang lebih lemah dari wanita biasa.


"Kapan? Udah, sekarang Mommy mau lihat karangan bunga Bian..." ucap nya yang mengalihkan pembicaraan dan kembali ke permainan putri nya.


Bianca tak mengatakan apapun lagi, ia melanjutkan kembali pemainan nya.


....


Dua hari kemudian.


Prang!


Gelas yang terjatuh itu membuat suara ganduh dan kaki kecil itu langsung mendekat ke sumber suata karna ia tak jauh dari suara itu.


"Mommy?" gumam nya lirih melihat ke arah wajah sang ibu yang berbeda serta gelas yang jatuh namun sudah ada pelayan yang membersihkan nya.


"Kenapa mereka kontraksi lagi? Kan masih ada 4 Minggu lagi..." gumam Louise yang sekarang sudah mulai mengalami kontraksi.


"Apa aku harus cek lagi dengan James nanti..." gumam nya lirih sembari mengusap perut nya yang terasa mulas dan sakit lagi.


Ia pun berbalik ke arah kamar nya dan ingin kembali beristirahat.


Sedangkan mata bulat yang coklat itu menatap ibu nya yang sekarang sering kesulitan karna adik bayi nya yang belum lahir itu.


"Adik bayi nya nakal! Buat Mommy sakit! Buat Mommy ga mau main sama Bian juga!" ucap nya yang berpikir dengan kepala kecil nya apa lagi dengan asupan cerita teman-teman nya.


Walaupun ia memiliki kepintaran yang melebihi anak lain nya namun tetap saja ia tetaplah anak kecil yang masih berusia 5 tahun dan mungkin masih beranjak 6 tahun.


Langkah kaki mungil itu berjalan ke kamar kedua orang tua nya, saat ini sang ayah pun sedang tak ada di rumah karna pekerjaan.


"Mommy?"


Ia membuka pintu perlahan, melihat ke arah ibu nya yang kini tampak tertidur miring karena perut yang besar itu.


"Mommy tidul?" ucap nya yang melihat ke arah wajah cantik dari wanita yang mirip dengan nya itu.


Gadis kecil itu tak beranjak sedikit pun, ia menunggu dan memperhatikan ibu nya sampai bangun lalu ingin mengajak nya bermain.


"Mommy ga sakit kan?" tanya nya lirih yang berbicara sembari menatap ke arah ibu yang sangat ia sayangi itu.


Gerakan kecil terlihat dari perut yang tampak bergerak itu.


"Uhh..."


Louise bersuara dalam tidur nya saat ia merasakan gerakan di perut nya yang membuat nya tak nyaman namun ia masih belum terbangun karena mengantuk.


"Sstt..."


"Mommy lagi tidul! Jangan ganggu dulu!" ucap nya yang berbicara di perut besar itu ketika melihat ibu nya yang bersuara.


Tak ada jawaban dan tentu gerakan dari tendangan kaki mungil yang aktif itu karna merupakan bayi yang sehat di dalam kandungan tak berhenti.


"Ih! Kok nakal sih?!" ucap nya yang kesal karna adik nya tak mendengarkan nya.


"Diem!" ucap nya sekali lagi namun tentu tendangan yang membuat perut besar itu tampak tertarik belum berhenti juga.


Wajah mungil yang menggemaskan itu tampak marah, bagi nya adik nya adalah makhluk nakal yang membuat ibu nya sakit dan kesulitan serta mengambil waktu main nya bersama sang ibu.


"Adik bayinya pukul ini aja bial diem, eh! Bial mati sekalian aja deh!" ucapnya mendengus kesal sembari membawa miniatur dengan bentuk teratai keramik yang tampak cantik karna memang fungsinya sebagai hiasan.


Ia membawa benda yang cukup berat itu namun masih sanggup ia bawa di tangannya.


Satu ayunan dan ancang-ancang kuat mulai ia lakukan lalu,


Bugh!


Louise tersentak, ia terbangun seketika saat merasakan ada sesuatu yang keras memukul perut nya.


"Ukh! Bi.. Bian..." ucap nya yang baru bangun tidur dan terkejut.


Bianca tak mengatakan apapun, sama seperti ketika ia memukuli perut ibu nya dulu kini ia melakukan hal sama namun beda nya ia memukul dengan sekuat tenaga nya menggunakan hiasan keramik teratai itu.


"Bian! Berhenti nak!" ucap Louise yang merasakan sakit yang luar biasa karna benturan di perut nya yang sudah membesar.


Ia berusaha mencegah nya namun putri nya yang punya stamina itu bisa menghindari nya dan terus berusaha memukul perut nya.


"Adik nya nakal Myy! Bian ga suka adik bayi nya!" ucap nya yang terus memukul ke arah perut ibu nya.


Bruk!


Louise terjatuh tepat di samping ranjang nya, perut yang terasa begitu sakit, kaki yang kali ini tak bisa bergerak atau berlari serta tenaga yang seperti hilang.


Ia merasakan sesuatu yang mengalir dari ujung paha nya, sesuatu yang basah dan terasa amis.


"Bian..."


"Udah nak, sakit..." ucap nya meringis dan berusaha mencegah tangan putri nya.


"Akh!" teriak nya yang terkejut ketika melihat pakaian longgar nya kini memberikan corak lain.


Lantai marmer yang berwarna putih itu kini memiliki genangan darah.


Bianca melihat nya namun ia tak merasa takut karna ia sudah biasa melihat darah sejak kecil, "Yeey! Adik bayi nya mati!" ucap nya yang melompat dengan senang.


"Bi..Bian..."


"Bian..."


Tangan wanita itu meraih putrinya yang kesenangan, buliran bening menetes di mata nya saat ia merasakan kontraksi yang begitu sakit.


"Hum? Mommy? Mommy kenapa?" tanya Bianca yang kali ini baru melihat ke arah sang ibu.


Tubuh wanita itu bergetar, wajah nya pucat pasi dan keringat dingin mulai turun di wajah nya.


"Ukh..." lidah nya terasa Kelu membuat nya tak bisa mengatakan apapun dengan jelas kecuali suara ringisan.


"Mommy kenapa?"

__ADS_1


"Mommy sakit? Adik bayinya masih nakal? Mau Bian pukul lagi adik bayi nya?" tanya dengan tatapan yang polos dan merasa khawatir dengan keadaan sang ibu.


"Mommy! Mommy!" panggil nya yang mulai panik pada ibu nya yang hanya meringis kesakitan.


__ADS_2