(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Mau di gendong


__ADS_3

Kediaman Rai


Louis terdiam melihat ke arah anak kecil yang baru berhenti menangis pukul empat dini hari dan itu pun karna kelelahan dan tanpa sadar tertidur dengan sendiri nya.


Mata hijau itu terlihat memiliki kantung mata, tak ada satu pun yang dapat membuat keponakan kecil nya diam.


Sedangkan ibu dari gadis kecil itu memilih pergi ke kamar lain yang lebih jauh agar suara tangisan nya tak terdengar dan tidur.


"Astaga, dia memang anak nya..." gumam nya lirih saat mengingat masa kecil bersama adik nya dan melihat keponakan nya.


Klek


Gagang pintu itu bergerak dan mulai terbuka, gadis yang berdiri di antara ruangan itu menatap ke arah nya dan ke arah anak kecil yang sudah tertidur itu.


"Kau tidak tidur?" tanya Louise melihat kondisi sang kakak.


"Kau sendiri?" jawab Louis dan beranjak keluar dari ruangan tersebut agar tak membangunkan Bianca lagi dan mendengar tangisan nya yang bagai petir.


Louise diam tak menjawab namun ia mengikuti langkah kaki sang kakak.


"Kenapa bawa dia ke sini?" tanya nya dengan penasaran.


Bukankah cukup aneh jika pria yang tidak menyukai anak kecil namun malah membawa anak kecil yang merepotkan masuk ke dalam rumah nya.


"Karna melihat dia aku jadi teringat kau saat masih kecil jadi aku berniat mengadopsi nya, aku kakak yang baik hati kan?" jawab nya dengan senyuman yang tak bisa di percaya.


"Kalau hanya mirip dengan ku bukan nya kau akan makin kesal?" tanya Louise mengernyit.


"Maksud nya?" ucap Louis yang terlihat sangat mengantuk tersebut.


"Kau kan selalu bilang kalau aku menyebalkan waktu kecil," jawab gadis itu dengan wajah malas.


"Kapan?" tanya nya pura-pura lupa.


Ia menginginkan keponakan cantik nya namun ia tak ingin adik nya kembali mengingat pria yang membuat nya hamil dan melukai nya.


"Katakan alasan sebenarnya," tanya Louise lagi sembari menekan pertanyaan nya.


Louis diam tak ingin mengatakan apapun selain naik ke atas tempat tidur nya. Berbeda jika ia bergadang karna pekerjaan ataupun bergadang karna olahraga malam dengan wanita nya, namun bergadang karna menjaga anak kecil benar-benar menguras energi nya.


"Jangan berisik, aku mau tidur." ucap nya sembari mengibaskan tangan nya seperti sedang mengusir sang adik.


......................


Mansion Dachinko


James tersentak, iris coklat nya langsung terbuka dan terbangun seketika.


Ia masih duduk di atas kursi kerja nya, cahaya mentari sudah masuk dan membuat wajah nya terkena sinar yang cerah tersebut.


"Tidak ada kabar?" gumam nya lirih.


"Apa dia meninggalkan nya?" sambung nya yang gelisah karna takut tiba-tiba gadis nya berpikir pendek dan meninggalkan putri nya begitu saja.


Ia pun beranjak mengambil ponsel nya dan segera menelpon ibu dari putri nya.


"Halo?" jawaban yang terdengar dari suara wanita yang terdengar di balik nya.


"Di mana Bianca?" tanya James seketika pada gadis itu.


"Dia? Kakak ku bawa dia," jawab Louise singkat, "Kau ambil kembali anak mu, tadi malam terus nangis." sambung nya dan menutup telpon.


James mengernyit, ia menarik ponsel nya dan melihat sambungan telpon yang telah terputus.


"Ck! Sial!" gumam nya sembari meletakkan ponsel nya dengan kasar.


......................


Skip


JBS Hospital


Panggilan dari ruangan tunggu untuk mengatakan ada yang ingin menemui nya membuat pria itu mengangkat.


"Siapa yang mau menemui ku?" tanya nya mengernyit sembari membalik kertas yang berisi angka tersebut.


"Dia tidak mengatakan nama nya, tapi dia meminta saya menyampaikan kalimat ini, Cepat turun atau aku akan menemui adik mu saja seperti itu," ucap staf wanita tersebut dengan lirih.


Louis berhenti membalik dokumen nya dah menyuruh staf yang menyampaikan pesan tersebut untuk keluar.


"Dia benar-benar datang?" gumam nya yang mulai beranjak turun.

__ADS_1


Benci?


Sudah pasti ia sangat membenci pria yang membuat adik kesayangan nya terluka.


...


Hening tak ada pembicaraan apapun, dua cangkir kopi yang memiliki air yang tenang karna tak di minum sama sekali.


"Di mana putri ku," James membuka pembicaraan pertama kali.


Tak ada ucapan maaf ataupun basa-basi dengan pria di depan nya.


"Rasa nya aku sangat ingin membunuh mu," jawab Louis lirih saat melihat wajah pria di depan nya yang membuat nya geram sampai tekanan darah nya seakan ingin naik.


"Kau sudah menembak ku waktu itu," jawab James datar seperti tak tergertak sama sekali.


"Dan kau membunuh adik ku," balas Louis dengan tajam.


"Aku tidak membunuh nya karna dia tidak mati dan masih hidup sekarang," balas pria itu dengan wajah datar tanpa ekspresi dan tentu nya semakin membuat Louis geram.


"Tapi dia hampir mati," ucap Louis yang kali ini membuat pria di depan nya tak membalas ucapan nya.


James diam, ia memilih tak mengatakan apapun dan kembali ke topik utama, "Dimana putri ku?"


"Lalu di mana yang lain nya? Seharusnya ada dua kan?" tanya Louis yang tak menjawab dan bertanya keberadaan anak pertama adik nya.


"Jawab aku setelah itu akan ku beri tau," jawab James singkat.


"Menurut mu aku akan memberikan nya pada mu? Dia punya darah yang sama dengan keluarga ku dan aku tidak berniat memberikan nya pada orang lain." jawab Louis pada ayah dari keponakan nya itu.


"Dia bukan anak mu," balas pria itu singkat.


"Dia anak adik ku jadi sama saja kalau dia anak ku, jadi katakan di mana yang lain nya." ucap Louis lagi.


"Sudah tidak ada," jawab pria itu dengan wajah datar dan tatapan yang turun melihat ke arah lain saat membicarakan putra pertama nya.


Louis mengernyit, ia masih tak bisa mencerna ucapan singkat itu.


"Dia meninggal?" tanya nya memastikan.


James diam sesat sebelum menjawab nya, "Ya."


Deg!


"Kau membuat nya hamil lagi setelah kehilangan anak pertama nya? Kau memperlakukan dia seperti apa dulu?" tanya pria itu dengan hati yang memanas.


James diam ia tak mengatakan apapun lagi, tak ada kalimat pembelaan dan ia juga tak ingin meminta maaf pada pria di depan nya.


"Kau mungkin bergerak di atas hukum dan juga kau mungkin bisa memiliki hukum tapi kau juga pasti tau kalau aku tidak memiliki hukum dan aturan yang ku miliki hanyalah bertahan hidup," ucap nya yang memberi sirat ancaman di perkataan nya.


"Apa itu ancaman?" tanya nya menatap ke arah pria yang ada di depan nya.


"Aku tau kau membenci ku tapi aku bisa melakukan apapun dengan sesuatu yang tidak memakai hukum." balas James sembari menatap lurus pria di depan nya.


"Tentu saja yang kau miliki hanya pekerjaan ilegal kan? Dan kau berharap aku memberikan keponakan ku untuk orang seperti mu?" tanya nya sembari menggertakkan gigi nya.


"Karna itu kau pasti tau kalau aku bisa mengambil paksa putri ku lagi kan? Menurut mu kalau kita seperti ini siapa yang akan terluka?" ucapan yang selalu memiliki arti yang tersirat di dalam nya.


"Terluka? Kalau kau pikir dia akan terluka kau tidak akan seperti itu pada nya," ucap Louis yang merasa jengah mendengar pria itu membicarakan adik nya.


"Karna itu aku berhutang maaf dan pengampunan dari nya," jawab James dengan wajah yang tak memiliki ekspresi apapun itu.


"Walaupun dia akan memaafkan mu aku tidak akan membiarkan mu dekat dengan nya lagi," ucap nya dengan geram menatap wajah datar di depan nya itu.


"Aku memberikan bendera putih pada mu," ucap James pada pria di depan nya.


Walaupun ia tak meminta maaf secara langsung namun saja ucapan itu sudah mengatakan jika ia sudah kalah dan mengajukan perdamaian.


Louis tak mengatakan apapun namun terlihat dari raut wajah yang sudah jelas tak menginginkan apapun dari pria di depan nya.


Permintaan maaf, kompensasi, pengampunan dan sebagainya, yang ia inginkan hanya pria itu tak lagi muncul di hadapan nya ataupun adik nya lagi.


"Ku harap pembicaraan ini berhasil," James yang beranjak bangun dari tempat duduk nya.


"Jangan terlalu terobsesi pada anak adik mu, miliki anak mu sendiri jika ingin menjadikan nya pewaris atau sebagainya." sambung nya yang tau saudara kembar gadis nya itu ingin mengambil putri nya untuk menjadi bagian dari pewaris dari perusahan besar itu.


"Kau sudah tau kalau dia melupakan mu, kan? Menurut mu kalau dia ingat dia akan mau melihat mu lagi?" tanya Louis tanpa melihat wajah pria di depan nya.


"Entahlah, tidak ada yang tau masa depan kan? Dan aku akan mengambil putri ku malam ini, kau tau kan aku bisa melalukan apapun terutama yang bertentangan dengan aturan." ucap nya sekali lagi.


James tau jika dirinya dan pria yang baru saja berbicara dengannya sangat berbeda, ia yang melakukan semua pekerjaan dan mendapatkan uang dari hasil yang kotor dan bertentangan dengan aturan berbeda dengan pria yang melakukan hal yang kotor hanya untuk membersihkan kotoran yang melekat pada milik nya.

__ADS_1


......................


Kediaman Rai


MIAW!!!


"Hihi!"


Suara kucing yang terdengar kuat itu bersatu dengan tawa gadis kecil yang memegang pisau dapur di tangan nya.


Bulu putih yang lebat itu terlihat kusut dengan warna cerah yang berbeda menyelimuti nya.


Para pelayan dan pengasuh yang harus nya menjaga nya telah ia berikan permintaan yang sulit sehingga berpencar meninggalkan nya untuk memenuhi permintaan nya.


Deg!


Louise tersentak ia mendengar suara kucing peliharaan nya dengan kuat dan tentu bergegas mencari sumber suara.


"Akh!" ia terkejut setengah mati melihat apa yang ada di depan nya.


Gadis kecil yang masih berumur tiga tahun itu mengikat kucing peliharaan nya memotong ekor nya dengan pisau nya setelah itu tertawa dengan polos.


"Mommy?" mata coklat yang masih bengkak karna menangis semalaman itu dengan wajah polos dan senyuman cerah terlihat.


Saat ia bangun ia masih mencari sang ayah namun dengan adanya interaksi dari para pelayan yang berusaha membujuk nya serta sesuatu yang membuat nya tertarik tentu nya membuat ia lupa sejenak dengan kesedihan nya yang merindukan sang ayah.


Klang!


Louise langsung mendekat, mengambil pisau di tangan mungil itu dan membuang nya.


Ia juga mengambil kucing putih nya yang di ikat dan memiliki ekor yang pendek itu karna di potong.


"Kenapa di ambil? Bian kan mau potong telinga nya?" tanya nya dengan wajah yang polos dan melihat ke arah sang ibu.


"Gila! Kau seperti mons-"


"Mommy?"


Makian gadis itu terpotong saat putri kecil nya memanggil nya, mata coklat yang tampak polos melihat ke arah nya.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya Louise yang memilih untuk tidak melanjutkan makian nya.


Bianca tersentak, nada tinggi sang ibu membuat nya terkejut karna ayah nya tak pernah menaikkan suara pada nya.


"Miaw nya nakal jadi Bian malahin bial gak nakal lagi..." jawab nya lirih pada sang ibu.


"Kau yang nakal! Kau anak nakal!" ucap Louise yang merasa begitu marah melihat gadis kecil di depan nya.


Siapa yang mengira jika anak sekecil itu memiliki pikiran yang begitu keji?


"Bi..Bian gak nakal..."


"Ku..kucing nya yang na..kal..."


"Hiks..."


Jujur saja ia begitu terkejut mendengar suara keras dari amarah orang lain, ia yang tak pernah di marahi senakal apa yang ia lakukan.


Louise memundur, bahkan jika gadis kecil itu memang benar anak nya ia tak ingin mengakui nya, siapa yang di ikuti dari sifat kejam itu?


"Myy? Mommy..." gadis kecil itu tersentak melihat sang ibu yang berbalik pergi dari nya.


Ia mengikuti langkah cepat sang ibu namun tertinggal karna terjatuh akibat tali sepatu nya yang terlepas dan terinjak saat ia berlari.


"Aduh!"


"Hiks..."


Hanya tangisan lirih yang terdengar, ia tak tau kenapa sang ibu begitu marah pada nya bahkan sampai menaikkan suara nya.


Bianca bahkan tak pernah berpikir jika yang ia lakukan adalah hal yang salah, karna jika memang yang ia lakukan adalah kesalahan pasti sang ayah sudah memarahi nya.


Namun sang ayah tak pernah memarahi nya untuk apapun yang ia lakukan.


"Mommy..."


"Bian jatuh, huhu..."


"Bian mau di gendong kayak miaw juga, hiks..." tangis nya lirih melihat sang ibu.


Tangan dan pakaian nya masih meninggalkan noda darah dari ekor kucing cantik peliharaan ibu nya yang baru saja ia potong.

__ADS_1


__ADS_2