(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Tamu tak di undang


__ADS_3

Mansion Dachinko


Gadis itu tak bisa tidur sama sekali, ia tak bisa mendengar pembicaraan ibu nya namun ia bisa melihat mata pria itu yang tampak berbeda saat melihat ke arah ibu nya.


"Ish! Tadi mereka bicara tentang apa sih? Kan penasaran!" keluh Bianca yang merasa begitu kesal.


Namun ia tak bisa berbuat apapun, mau mengadu pada sang ayah tapi ayah nya juga tidak suka dia punya hubungan dengan seseorang yang ia panggil 'Paman'


...


Ekor mata wanita itu melirik ke arah pria yang terlihat mengerjakan sesuatu di belakang nya dari balik cermin.


"James?" panggil nya lirih saat menyisir rambut nya.


Pria itu tak menjawab namun ia langsung menoleh dan menatap ke arah seseorang yang memanggil nya.


"Kau mau Arnold pindah karna Zayn sudah kembali kan?" tanya Louise yang terang-terangan.


James langsung tersentak, ia mendekat seketika dan langsung berdiri di samping wanita yang duduk di depan meja rias nya.


"Kau bertemu dengan nya?" tanya pria itu yang penuh dengan rasa penasaran.


Louise memberikan satu anggukan, ia menatap dengan mata hijau nya yang masih tampak bulat.


"Lalu? Apa yang kalian lakukan?" tanya James dengan mata yang risau.


"Hum? Dia masih tampan?" jawab Louise yang memikirkan pertemuan nya tadi siang.


"Apa?" James mengernyit, pertanyaan dengan jawaban nya sama sekali tak sinkron.


"Tidak ada, dia bilang dia mau kembali berteman seperti dulu saja. Dia bilang lupakan yang sudah terjadi." jawab Louise yang kali ini bicara tanpa candaan.


"Apa yang bisa di lupakan? Mana ada mantan yang bisa jadi teman!" ucap James yang tentu tak setuju.


"Tapi sebelum jadi mantan dia kan memang teman ku," sanggah wanita itu sembari melihat sang suami.


"Dia pernah jadi teman mu atau tidak tapi kalian pernah punya hubungan," jawab James yang tentu masih kukuh dengan pendirian nya.


"Lalu menurut mu aku harus apa?" tanya Louise yang menghela napas nya.


"Jangan dekat dengan nya lagi, jangan berhubungan lagi, jangan bicara atau melihat dia lagi. Mudah kan?" jawab James yang mengatakan semua kalimat pencegahan.


Louise diam sejenak, ia menganggukkan kepala nya akan ucapan sang suami dan kemudian menyisir rambut nya lagi.


"Ga mau tuh," jawab nya dengan enteng.


"Apa? Aku suami mu, kau harus menurut pada ku." ucap James yang mendengar jawaban sang istri.


"Aku punya hak untuk memilih, di rumah ini tidak ada budaya patriarki. Lagi pula aku juga ga selingkuh tuh." jawab Louise sekali lagi dengan santai.


"Louise?" panggil James yang menatap ke arah wanita yang tampak dengan santai menyisir rambut nya.


"Ya? Honey?" jawab Louise dengan suara lembut nya.


"Itu tidak akan ada pengaruh," ucap James yang tak ingin panggilan sayang itu mengalihkan pembicaraan nya.


Louise menghentikan sisiran nya dan meletakkan sisir itu di atas meja. Ia berdiri dan menatap ke arah sang suami.


"Lagi pula tidak mungkin kami juga bisa berteman seperti dulu lagi dan kalau aku yang menjauhi nya bukan nya aku terlalu jahat?" tanya nya yang mendekat dan memeluk pinggang yang kokoh walaupun pria itu sudah hampir memasuki usia setengah abad.


"Aku suka wanita jahat," jawab James singkat.


Louise diam sejenak sebelum membalas ucapan suami nya, "Kenapa kau seperti itu? Apa yang kau takutkan? Lagi pula aku juga sudah terlalu tua untuk itu,"


"Kau? Kau masih berumur 43 tahun, wajah mu juga masih belum berubah dan lagi,"

__ADS_1


Greb!


Wanita itu tersentak, ia menoleh ke belakang menatap ke arah di mana tangan itu berlabuh saat meremas sesuatu.


"Semua nya masih terlihat baik! Kau tidak berubah sama sekali!" ucap James yang tentu merasa istri nya adalah wanita yang paling sempurna.


"Tapi Mama ku meninggal di usia 47 tahun karna sakit, dan penyakit kami juga hampir mirip tapi dia paling bermasalah di fungsi organ dan batang otak dan aku punya masalah di sistem imun dan jantung." jawab Louise dengan wajah datar.


"Apa?" James mengernyit, melihat wanita itu dengan santai berbicara tentang kematian.


"Memang nya kalau orang tua mu meninggal di usia tertentu kau harus mengikuti nya? Tidak kan? Ibu mu ya Ibu mu, kau ya kau! Kalian kan berbeda!" jawab James yang tentu tak ingin mendengar perkataan seperti itu.


Louise tertawa kecil, "Tapi kan aku juga penyakitan," jawab nya dengan tawa yang tanpa beban.


Memang saat berdamai dengan diri sendiri, ia tak akan merasa tidak adil lagi untuk keterbukaan fisik nya.


"Louise!" suara pria itu meninggi dengan wajah yang mengeras mendengar nya.


"Ya, Honey?" jawab wanita itu dengan senyuman walau sang suami tampak sangat tak menyukai perkataan nya.


Wanita itu menarik napas nya, ia berjinjit dan meraih pundak pria itu.


Cup!


"Jangan marah seperti itu, nanti aku ga mau lagi loh pakai yang di dalam situ." bisik nya setelah mengecup bibir sang suami dan menunjuk ke bagian lemari yang berisi semua pakaian seksi untuk tempur di malam hari.


James diam, ia sedikit tenang namun tentu saja ia masih tak suka wanita di depan nya bicara tentang kematian.


"James? Aku itu mengenal Zayn cukup lama dan ku pikir aku juga sangat mengenal nya. Apa pun yang ada di pikiran mu tentang dia saat ini, itu tidak benar." ucap nya yang berbicara dengan lembut pada suami nya sembari mengusap dada bidang pria itu.


"Kau tidak bertemu dengan nya selama 12 tahun atau mungkin 13 tahun, bagaimana kalau dia berubah? 12 tahun bukan waktu yang singkat." ucap James yang tentu juga tak salah.


Louise memberikan senyuman tipis, "Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang berteman dengan nya? Kau kan bisa minta maaf lebih dulu."


"Aku? Kenapa aku yang minta maaf pada nya?" tanya James yang tentu tak menerima nya.


James tak bisa menyanggah kali ini, ia memilih menarik tangan wanita nya dan menarik tubuh itu untuk tidur di atas ranjang.


"Sudah malam, tidur." ucap singkat yang menutup tubuh sang istri dengan selimut tebal.


......................


Satu Minggu kemudian.


Zayn menghela napas nya, ia mendorong keranjang belanja sembari mendengar ocehan di sepanjang ia berjalan di mall tersebut.


"Kau mau makan gurita?" tanya Zayn saat berhenti di rak bagian daging dan ikan.


Bianca berhenti mengoceh sejenak, "Mau!" jawab nya singkat pada pria itu.


Zayn tak mengatakan apapun lagi "Potong dengan berat 2 pound, buang bagian kepala nya." ucap nya yang memesan pada seseorang yang menjaga meja yang memiliki ikan hidup itu.


Bianca mendekat ke arah pria yang berdiri dengan masih memegang troli belanja itu.


"Ih! Kita jadi kayak pengantin baru..." ucap Bianca dengan centil sembari merengkuh lengan pria itu.


"Tapi aku seperti punya anak baru, dan mengurus anak usia lima tahun..." Zayn membalas ucapan gadis remaja itu.


Bianca tentu mendengar nya, ia hanya mendengus kesal dan mengerucut namun juga tidak melepaskan rangkulan tangan nya sama sekali.


Setelah memesan, Zayn pun kembali berkeliling untuk mencari apa yang ia butuhkan selama di apart nya.


Beberapa rak buah-buahan terlihat dan tentu ada beberapa buah yang di jadikan tester.


"Daddy!" panggil nya tiba-tiba dengan suara manja yang membuat pria itu tersentak.

__ADS_1


"A.. apa yang kau panggil tadi?" tanya Zayn yang terkejut mendengar nya.


"Bianca mau makan ini," ucap nya dengan suara manja yang menunjuk ke arah stroberi yang di jual dan juga beberapa tester yang di jaga oleh pegawai mall


"Silahkan coba," ucap pria itu yang menyodorkan stoberi yang sudah ia potong karna memang ukuran buah itu yang besar.


"Manis," gumam Bianca saat ia suka rasa yang sedikit masam dan dominan manis itu.


"Anda tidak ingin mencoba nya satu pound dulu? Putri anda seperti nya suka," ucap pria itu yang bertanya pada Zayn.


"She's not my daughter," ucap Zayn singkat sembari melihat buah yang lain nya.


"But She called you daddy?" tanya pegawai mall itu yang bingung.


"Ya, he's not my really Daddy." sambung Bianca dengan santai sembari mencoba buah lain nya dan tanpa permisi ia ikut memasukkan buah yang ia inginkan ke dalam troli pria itu.


"But I wanna call him Daddy!" sambung nya dengan senyuman dan lirikan centil pada pria di samping nya.


"Oh? Ya? Okey..." ucap pegawai itu yang baru menyadari nya.


Zayn hanya menghela napas nya, gadis remaja itu memang sedikit nakal atau mungkin memang nakal?


"Daddy? Open your mouth," ucap Bianca yang memasukan satu potong buah stroberi ke dalam mulut pria itu.


Zayn menurut saja, dan kemudian beranjak lagi mendorong troli nya.


"Hehe, aku anak yang manis kan?" tanya Bianca yang mengejar pria yang berjalan lagi sembari mendorong troli nya.


"Kau anak yang nakal, seharunya aku menjewer mu lebih kuat." jawab Zayn lirih saat mendengar pertanyaan gadis itu.


......................


Apart Sky Blue


Gadis itu tak ingin pulang, entah bagaimana ia mengintip sandi pintu apart itu hingga membuat nya semakin seperti siput yang berhibernasi karna tak beranjak walau sudah di usir secara halus.


"Ini sudah malam, aku yang antar? Atau aku telpon ayah mu lagi." ucap Zayn yang melihat gadis itu dengan santai bermain ponsel di atas sofa nya.


"Sayang Paman! Luv Luv!" ucap Bianca yang menoleh saat ia di usir secara halus lagi.


"Astaga anak ini!" ucap Zayn yang mencubit pipi gadis itu karna kesal ketika ia seperti bicara dengan tembok yang tak akan mendengar nya.


"Aduh! Aduh! Ih Paman jahat! Nangis aku nih! Aduh!" ucap Bianca yang meringis saat pipi lembut nya itu di tarik.


Ting!


Ting!


Ting!


Suara bel terdengar, Zayn melepaskan cubitan nya dan beranjak membuka pintu nya.


Klek!


Ia terdiam sejenak, menatap ke arah wanita yang terlihat bingung dan takut salah tempat namun begitu melihat nya mulai sedikit tenang.


"Edna?" Zayn bergumam lirih melihat mantan kekasih nya yang datang setelah meminta putus dari nya lebih dulu.


Ia memang menjalin hubungan dengan wanita selama beberapa tahun terakhir di New York sebelum pulang dan kekasih nya itu sudah meminta putus lebih dulu karna menyerah saat tak bisa mendapatkan cinta nya.


Greb!


Langkah pria itu memundur sejenak, saat wanita itu tiba-tiba datang dan memeluk nya.


"Ku pikir keputusan ku salah, aku sangat mencintai mu. Tidak apa-apa kalau kau tidak mencintai ku juga, kita hanya perlu kembali seperti dulu lagi." ucap wanita itu yang berada di dalam pelukan nya.

__ADS_1


Zayn masih terdiam tak mengatakan apapun, sedangkan mata bulat yang coklat itu mengintip dari jauh dan berdecak dengan wajah jengkel.


"Minta di botakin itu kepala nya, awas aja nanti waktu pulang aku Jambak sampai rontok!"


__ADS_2