(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Es Krim


__ADS_3

Mata coklat bersinar itu menatap dan berkedip mendengar ucapan sang kakak, gadis kecil yang cantik itu bahkan tak tau jika ia sedang di marahi.


"Ih, suala kakak besal banget, sakit tau dengel nya." ucap nya dengan polos tanpa merasa sakit hati atau marah.


Arnold membuang wajah nya yang mengkerut melihat sang adik yang masih menatap nya. Mata nya kembali melihat ke arah buku-buku di depan nya.


"Jadi kakak gak mau main sama Bian?" tanya nya lagi mengulang.


"Kakak mau belajar Bian," jawab Al ketus pada adik nya.


Memang gadis kecil itu tak melakukan kesalahan apapun dan memang tak ada yang salah namun ia merasa kesal.


Bianca masih menunggu dan berdiri di tempat yang sama, namun karna melihat sang kakak tak ada mengajak nya bicara lagi ataupun menanggapi nya, ia pun berbalik dengan sendiri nya dan keluar.


Arnold menarik napas nya, ia merasa bersalah membentak adik nya yang mungil dan menggemaskan itu, namun ia juga merasa kesal karna merasa iri dengan kasih sayang penuh yang di dapatkan gadis mungil itu.


...


Lima Hari kemudian.


"Daddy? Kita kapan ketemu Mommy lagi? Kan bial cepet abis pelmainan nya? Bial ganti main yang balu lagi?" tanya pada sang ayah dengan merengek.


"Iya, nanti." jawab James pada putri kecil nya yang cantik itu.


Pria itu berkata demikian karna gadis nya tak keluar dari kediaman nya sama sekali, walaupun ia bisa datang ke rumah gadis itu sendiri secara langsung namun ia tau jika akan terdapat masalah yang cukup besar.


Dan mata bulat coklat yang kini melihat nya dengan penuh harap itu tak ingin ia kecewakan.


Ada perasaan yang berbeda saat sudah benar-benar memiliki keturunan sendiri, rasa cinta dan sayang yang tak sama seperti menyukai orang lain atau saat bersama dengan kedua orang tua nya.


"Daddy? Daddy kok diem? Nanti telus? Nanti nya kapan Dad?" tanya nya mengulang pada sang ayah.


"Bianca kenapa mau ketemu Mommy terus? Kan Mommy lagi main permainan yang Bianca gak suka?" tanya nya sembari membawa putri nya yang masih sangat mungil itu dalam gendongan nya.


Bianca menatap dengan mata bulat nya, ia yang bahkan tak mengerti tentang penolakan membuat nya terus berharap pada sesuatu yang mungkin tidak menginginkan nya.


"Kalna Bian mau di twinkle twinkle Dad sama Mommy..." ucap nya dengan ambigu.


"Twinkle twinkle? Apa itu?" tanya James mengernyit yang kadang masih tak mengerti dengan bahasa dan maksud putri nya.


"Ih! Daddy masa gak tau?" tanya Bianca dengan mengernyitkan dahi nya melihat sang ayah.


James tersenyum, namun masih senyuman yang begitu tipis saat ia melihat wajah yang sangat menggemaskan itu terlihat kesal.


Lagi-lagi pipi bulat yang putih itu menjadi sasaran cium sang ayah yang menatap nya dengan gemas.


"Iya, nanti kita ketemu Mommy yah?" ucap nya setelah mencium pipi putri nya.


"Iya! Tapi sekalang Bian mau makan es klim! Es klim yang waktu itu!" ucap nya pada sang ayah.


"Iya, nanti Daddy bawa kesana." ucap nya pada putri kecil nya.


"Sekalang Dad, bukan nanti..." jawab Bianca pada sang ayah, "Kan kak Al mau sekolah, bial sekalian antel kak Al sekolah."


James diam sejenak, namun putri kecil mulai semakin merengek dalam gendongan nya.


"Daddy..." panggil nya yang merengek dan memberontak di gendongan sang ayah agar keinginan nya segera di turuti.


...


Arnold terlihat senang, tak pernah sang ayah langsung mengantar nya ke sekolah namun kali ini pria itu mengantar nya sendiri.


Kemudi yang di pegang sang ayah, ia yang duduk di samping dan gadis kecil yang menggemaskan itu tengah bermain di bangku belakang yang penuh dengan mainan boneka itu.


Setelah mobil berwarna hitam itu terparkir tepat di depan sekolah, Bianca pun menoleh. Ia meletakkan boneka nya dan menatap ke luar jendela.


"Cepet Dad, bial makan es klim." ucap nya pada sang ayah sebelum kakak nya turun.


"Es krim? Daddy mau makan es krim?" tanya Arnold menatap ke arah James.


"Iya, Bian mau es krim." jawab James dengan singkat sembari melihat ke arah putri nya.


"Al juga mau..." gumam anak lelaki itu lirih.


James melirik ke arah Arnold yang terlihat lesu dengan menunduk, "Kau kan sekolah? Nanti ku bawakan es krim yang sama saat kembali." ucap nya melihat raut lesu anak lelaki di depan nya.


"Beli nya gak bisa nanti aja? Waktu Al udah pulang?" tanya nya yang ingin ikut makan bersama.


"Gak bisa! Bian kan mau sekalang bukan nanti!" selak Bianca segera.


Gadis kecil yang masih berumur tiga tahun dan selalu di manjakan itu tentu saja masih selalu berpikiran dengan apa yang ia inginkan tanpa melihat sekitar, umur yang masih tak mengerti apapun.


Al mengernyit dan langsung menatap ke arah gadis kecil itu, sedangkan James hanya menarik napas nya dengan panjang.


"Nanti ku bawakan es krim yang kau suka, lagi pula kau juga sekolah kan?" ucap nya pada putra angkat nya itu.


Bagi nya akan sama saja, jika putri nya mendapat es krim dan ia juga memberikan es krim yang sama dengan putra angkat.


Bukankah hal itu sudah cukup adil?


Al diam tak mengetakan apapun, bukan es krim yang ia mau, namun ia juga mau perhatian yang sama.


Tapi apa yang bisa ia harapkan dari pria yang sangat tidak peka itu?

__ADS_1


Jangan kan perasaan rapuh nya, perasaan sendiri saja sang ayah juga tidak peka sampai sadar setelah kehilangan.


"Iya Dad..." jawab nya lirih dan mulai keluar dari mobil.


James menutup kaca mobil nya setelah Arnold memasuki lingkungan sekolah nya dan tak terlihat lagi.


...


Bianca tampak berbinar melihat gambar satu cup es krim yang tersusun cantik dengan banyak toping di atas nya.


Dan tentu nya es krim itu lah yang di pesan oleh nya.


"Mommy Bian juga suka stroberi," ucap nya pada putri nya yang yang tak sabar menunggu es krim nya.


"Mommy juga suka es klim stlobeli?" tanya nya dengan penasaran sembari melihat sang ayah.


"Hm," pria itu menjawab singkat.


"Kalau gitu Bian mau makan es klim sama Mommy aja, suluh mommy ke sini Dad." ucap nya pada sang ayah.


"Nanti es nya bisa meleleh kalau Bian nunggu Mommy lagi." ucap pria itu pada putri nya.


"Bian mau makan es klim sama Mommy!" ucap nya keras kepala.


Alasan ia ingin memiliki ibu adalah tertarik dengan tontonan yang menjadi makanan harian nya, cerita kartun terlihat menyenangkan membuat nya juga ingin seperti itu.


James menatap ke arah putri nya yang tetap menginginkan ibu nya. Kalau tidak ia turuti sekarang pasti gadis kecil itu akan mulai merengek dan menangis lalu menimbulkan kekacauan dan jika ia bawa pulang dengan paksa akan tidak timbul kekacauan maka putri kecil nya akan semakin menangis merengek.


Ia mungkin bisa membuat wanita yang ia cintai menangis namun tidak untuk putri kecil nya yang tak boleh sedih.


"Iya, Daddy telpon Mommy yah?" ucap nya pada putri kecil nya.


Bianca mengangguk dengan semangat dan menatap sang ayah, namun pria itu memilih untuk meninggalkan putri nya sebentar agar ia bisa berbicara.


......................


Kediaman Rai.


Louise tak keluar rumah sama sekali, hal yang terjadi cukup menganggu nya dan ia juga merasa was-was dengan pria yang ia temui terakhir kali.


Ponsel nya berdering menampilkan nomor tak di kenal sedang memanggil nya, tangan nya pun beranjak dan mulai menjawab.


Ia tak mengatakan lebih dulu karna ia tak mengenal nomor tersebut.


"Ku kira kau tidak akan jawab tadi,"


"Ini siapa?" tanya nya yang mulai membalas suara di telpon nya.


"James, kau tau kan?"


"Akan ku tutup," sambung nya yang ingin segera mengakhiri panggilan nya.


"Kalau kau tutup telpon nya aku akan beri tau tentang kau yang sudah memiliki anak,"


Mata hijau itu membulat seketika mendengar nya, walaupun memiliki anak tanpa pernikahan adalah hal yang sering terjadi namun akan berbeda dari nya.


Ia yang dalam beberapa bulan lagi akan menikah, terlebih dengan reaksi sang kakak dan juga orang tua dari calon suami apalagi jika ikut di bandingkan dengan nama serta reputasi nya sekalian.


"Silahkan, lagi pula dua juga bukan anak ku!" jawab nya yang walaupun terkejut namun tak takut karna merasa ia memang tak pernah punya anak, jangankan anak ia sendiri bahkan tak pernah merasa tidur dengan pria lain sebelumnya.


"Kalau dia anak mu? Kalau kau memang sangat percaya dia bukan anak mu kenapa tidak lakukan tes saja?"


"Bisa saja kau palsukan tes nya kan?" tanya nya menuduh.


"Lakukan di rumah sakit mu, kau mau tes di manapun juga tidak akan masalah."


"Apa yang kau inginkan? Uang? Kau mau memeras?" tuduh nya langsung, jika memang demikian ia juga akan melakukan Bandung dengan pengacara.


"Bukan,"


"Lalu?" tanya Louise bingung.


"Datang ke cafe xx jalan xx sekarang hanya itu,"


"Kau penipu kan?" tuduh nya lagi.


"Penipu apa? Terserah kau mau berpikir apa tapi yang ku katakan tadi juga bukan bualan."


Setelah mengatakan demikian panggilan telpon tersebut terputus. Louise berdecak dengan kesal.


...


Cafe


Mata coklat bulat itu tampak bersinar, es krim yang datang tepat waktu itu terlihat berada di meja tengah.


Walaupun ia merasa kesal namun entah bagaimana jadinya ia malah duduk di depan anak perempuan yang cantik dan menggemaskan itu.


"Yeeyy! Mommy datang!" ucap Bianca dengan riang.


Louise diam, ia menatap tanpa memberikan ekspresi nya, jujur ia merasa terganggu dan tak nyaman berada di antara kedua orang yang bagi nya asing.


Gadis kecil yang terlihat senang melihat ke arah nya dan pria yang terlihat seperti selalu merindukan nya.

__ADS_1


Namun ia tetap tak mengingat apapun hingga membuat juga tak merasakan apapun.


Ikatan batin seorang ibu? Bahkan mungkin jika mengingat semua kejadian memilukan itu akan membuat gadis itu menyayangi putri nya.


Anak yang bahkan tidak pernah ia inginkan dan hadir saat ia bahkan belum selesai berkabung atas sepeninggalan putra pertama nya, tak sampai di situ ia bahkan memiliki nya karna paksaan dari seseorang yang seperti 'mewajibkan' nya untuk hamil.


Dan alasan anak itu dulu bertahan di perut nya dengan semua kegilaan yang ia tahan hanya karna kesepakatan yang seperti tanggung jawab. Ia bahkan tak sempat mencintai anak kedua nya sama seperti anak pertama nya yang sudah tiada.


"Mommy?" panggil Bianca melihat ke arah sang ibu.


"Kata Daddy Mommy suka stlobeli, jadi Bian mau makan nya sama Mommy," sambung nya tersenyum cerah.


Netra hijau itu melihat ke arah cup besar berisi es krim dan kemudian ke arah pria yang duduk di depan nya.


"Kau minta aku datang cuma untuk ini?" tanya nya dengan ketus pada pria di depan nya tanpa menggubris perkataan gadis kecil itu.


"Kau juga suka es krim?" tanya James sembari mengendikkan bahu nya.


Louise tak mengatakan apapun, ia pun mulai berdiri walaupun baru saja sampai.


"Aku ada urusan, kalian makan saja dulu." ucap nya yang ingin beranjak.


Greb!


James lambung menangkap tangan nya untuk mencegah gadis itu pergi. Dan Louise pun berusaha menepis nya seketika.


"Daddy?" panggil Bianca yang bingung melihat orang-orang dewasa di depan.


James pun memilih melepaskan tangan gadis itu karna tak mau membuat putri nya melihat hal yang seharusnya tak di lihat.


"Mommy mau kemana?" tanya nya menatap sang ibu.


Louise memejam mendengar panggilan yang tak ia sukai itu, "Ada urusan," jawab nya singkat.


"Ulusan apa? Nanti ke sini lagi?" tanya Bianca


"Ya," jawaban singkat dan terlihat menghindar kemudian langsung pergi sebelum pria itu mencegah nya lagi.


James tak mengatakan apapun namun ia tau gadis itu tak berniat kembali lagi.


"Bian makan es krim nya duluan yah?" ucap nya membuka suara setelah gadis itu pergi.


Tangan nya ingin menyentuh sendok dan menyuapi putri nya namun tangan mungil itu langsung menepis nya.


"Nanti! Sama Mommy!" jawab nya seketika.


Gadis kecil itu terlihat bersenandung lagi kartun yang sering ia tonton sembari mengayunkan kaki nya yang belum menyentuh dasar lantai karna masih pendek itu.


Satu menit...


Lima menit...


Dua jam...


Es krim cantik itu mulai mencair, tak lagi memiliki bentuk dan gadis kecil itu mulai tampak lesu menunggu sang ibu.


"Bian makan es krim nya dulu yah? Daddy pesankan yang baru?" tanya James pada putri nya yang tampak lesu.


"Gak mau..." jawab Bianca lirih.


"Mau makan cake dulu?" tanya James lagi.


"Gak mau..." jawab nya yang menggeleng.


"Mau minum susu nya lagi?" tawar pria itu mengulang.


"Gak mau..." hanya dua kata yang menjadi jawaban dan pria itu pun tak lagi menanyai putri nya.


"Kita pulang yah?" tanya James yang sudah tau jika ibu putri kecil nya tak akan datang lagi.


"Mau nunggu Mommy!" kali ini ucapan gadis kecil itu bertambah satu kata.


James tak mengatakan apapun lagi, ia kembali diam dan membiarkan putri kecil nya menunggu kembali dari pada menangis saat di bawa pulang.


5 Jam kemudian.


Siang yang cerah itu mulai berubah menjadi senja yang akan segara malam.


"Bian..." panggil nya pada putri kecil nya yang menyandarkan kepala nya di meja namun membelakangi nya.


"Mommy gak balik lagi?" tanya nya nya lirih dengan suara serak dan tertahan namun tak menunjukkan wajah nya pada sang ayah.


"Mommy kan sibuk..." jawab pria itu pada putri nya dan berusaha menarik tubuh mungil itu pada nya.


"Tapi tadi Mommy bilang mau ke sini lagi..." sambung nya dengan suara yang semakin serak.


"Bian nangis?" tanya nya dan mulai mendekap tubuh mungil putri nya.


"Kita kan lagi main kejar tangkap sama Mommy? Jadi Mommy tidak kembali lagi itu juga termasuk dalam permainan," ucap nya yang menghibur putri nya dengan kebohongan yang ia buat.


"Bian gak mau main kejal tangkap lagi..." ucap nya yang mulai menangis pada sang ayah.


Terlalu lama mengunggu membuat nya lelah dan tentu untuk beberapa hal perasaan

__ADS_1


yang masih halus itu juga ikut terluka saat harapan kecil yang ia tunggu tak datang.


__ADS_2