(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Lamaran


__ADS_3

Kediaman Rai


Makan malam telah usai, dan setelah makanan nya habis Louis langsung mengusir pria yang awal nya ia undang ke kediaman nya.


Tatapan mata nya yang memiliki iris yang sama dengan saudari nya itu menatap tajam.


"Kak? Aku..." ucap Louise yang tersenyum gugup melihat tatapan maut sang kakak yang bagaikan laser ingin menghunus nya.


"Kak? Kau panggil aku begitu hanya kalau membuat kesalahan saja," ucap Louis yang menatap mata sang adik yang tengah menghindar itu.


"Kesalahan aku ga buat kesalahan apapun kok!" ucap Louise yang langsung menggeleng.


"Kalau begitu jelaskan yang tadi dia bicarakan," ucap Louis pada adik nya.


"Oh? Tadi itu di- Ack!" potong gadis itu yang langsung memegang dada nya seperti merasa sakit.


Louis tak tergerak, ia hanya tetap menatap dari tempat ia duduk.


"Jangan pura-pura sakit kalau di tanya, jawab." ucap nya yang terlihat sudah berulang kali terkena acting yang sama.


"Ukh!"


Tak ada jawaban, suara gadis itu hanya meringis dan menunduk menahan sakit bahkan setelah beberapa saat ia menunggu jawaban adik nya.


"Louise?" Louis mulai memanggil nama saudari nya, ia mengernyit dan mendekat.


"Sakit? Kau tidak pura-pura?" tanya nya yang langsung mendekap tubuh saudari nya.


Tak ada jawaban, hanya suara ringisan yang terdengar dan ekor mata yang melirik ke arah sang kakak dengan cepat.


"Aku akan panggil dr. Sisca lagi," ucap nya yang mulai memapah tubuh adik nya.


"Ti..tidak perlu! A.. aku- Ukh!"


"Cu.. cuma butuh obat, ka.. karna tadi aku lu.. lupa suntik o.. obat nya..." ucap nya pada sang kakak.


"Jadwal obat mu hari ini? Kenapa kau bisa lupa?" tanya Louis yang melihat jalan yang lambat dari saudari nya dan beranjak menggendong nya ke kamar.


Ia lupa dengan rasa kesal dan amarah nya saat melihat adik satu-satu nya merasa sakit.


Louise duduk di pinggir ranjang, ia membuka mata nya lagi dan melihat sang kakak yang beranjak mengambil obat nya yang di suntikan tiap satu bulan sekali


Padahal baru semalam dapat obat, tapi sudah lah...


"Sini tangan nya," ucap pria itu yang tentu tau mana obat yang di pakai dan cara menyuntikkan nya ke dalam tubuh adik nya karna ia sudah sering melihat nya dan kadang melakukan nya sejak kecil.


Louise mengernyit sejenak saat obat injeksi itu masuk ke dalam aliran darah nya.


Memang seharusnya tak lagi merasa sakit, namun semenjak obat baru yang di berikan untuk nya selama ia berada dalam kurungan James membuat nya harus mengulang kembali formula obat nya yang biasa dan memberikan kesan rasa ngilu serta dingin untuk beberapa saat.


"Kita bisa bicara lagi nanti kan?" ucap nya dengan suara yang melemah.


Louis membuang napas nya, "Iya, kau istirahat saja." ucap nya yang menaikkan selimut adik nya dan keluar dari kamar itu.


Louise menangguk, ia melihat sang kakak yang keluar dari kamar nya sampai pintu nya kembali tertutup.


"Astaga! Aku jadi di suntik dua kali," ucap nya yang tak lagi bersuara lemah dan memegang tangan nya yang memiliki bekas jarum itu.

__ADS_1


Gadis itu berdecak, ia mengambil ponsel nya dan langsung menyerang pria yang menyebabkan kekacauan sampai ia harus pura-pura sakit untuk menghindar berbicara pada sang kakak.


......................


Mansion Dachinko


Pria itu tersenyum membaca semua chat yang berisi rasa kesal pada diri nya dengan kata umpatan yang membuat nya membayangkan wajah cantik yang tengah marah itu.


"Daddy?"


Suara yang kecil dan menggemaskan itu membuat nya tersentak.


"Bian belum tidur?" tanya nya yang langsung mengangkat tubuh mungil putri nya.


"Daddy balu pulang? Besok Bian di suluh bawa belalang..." ucap nya yang mengusap mata nya saat ia terbangun dan teringat dengan perintah guru nya.


"Belalang? Malam seperti ini? Kenapa baru bilang sekarang Bian?" tanya James yang menggeleng pada putri nya yang mungil itu.


"Bian lupa Daddy, belalang nya 10 ya..." ucap gadis kecil itu yang kembali tertidur dalam gendongan sang ayah.


James menarik napas nya, entah pelajaran apa yang akan di berikan untuk anak TK sampai di suruh membawa belalang.


...


"Ya? Belalang?" Nick memiringkan kepala nya saat mendengar salah satu nama serangga berwarna hijau itu.


"Iya, cari dan temukan untuk di bawa nya besok dan jumlah nya 10," ucap James sembari menepuk punggung putri nya yang tertidur dalam gendongan nya itu.


"Di jam 10 malam?" tanya Nick yang mengernyit.


"Ya, cari sekarang dan kau bisa membawa beberapa penjaga untuk membantu. Di hutan belakang mungkin banyak." jawab James pada bawahan nya itu.


"Baik," jawab Nick yang mungkin tak akan tidur malam ini untuk mencari tugas sekolah nona muda nya.


......................


Bugh!


Pria itu hanya menunduk saat tangan kecil itu melayang dan memukuli tubuh kekar nya.


"Aduh!"


Gadis itu meringis, padahal ia yang memukul namun ia yang merasa sakit, sedangkan pria yang ia pukuli malah terlihat baik-baik saja.


"Sakit? Mana tangan nya?" ucap nya yang beranjak mengambil tangan gadis itu dan meniup nya.


"Kenapa kau bilang begitu sama Louis? Dia pasti tau kau bohong! Aku saja masih datang bulan sekarang!" ucap Louise yang masih begitu kesal.


"Katakan saja kau hamil, nanti tinggal buat sedikit kecelakaan dan bilang kacang polong nya sudah naik ke langit." ucap pria itu yang memberikan saran dengan senyuman dan wajah yang tenang.


Bugh!


Satu pukulan kembali melayang di lengan yang penuh otot bisep itu.


"Kalau nanti waktu aku hamil beneran terus keguguran gimana?" tanya nya yang kesal dengan saran pria itu.


"Kalau begitu setelah datang bulan mu selesai mau di buat saja? Biar tidak berbohong?" tanya pria itu yang malah semakin berseri saat mengatakan nya.

__ADS_1


"Tapi aku belum mau punya anak lagi," jawab Louise mengernyit dan memang tampak ia masih tak ingin kembali mengandung atau pun memiliki bayi baru.


"Berarti kalau buat nya mau kan?" tanya pria itu dengan senyuman yang tampak cerah.


"James?" panggil gadis itu sembari menarik napas nya melihat senyuman di wajah yang tampak senang itu.


"Iya, kau masih trauma dengan waktu itu?" tanya nya yang tau alasan gadis itu tak ingin memiliki anak lagi untuk saat ini.


"Itu salah satu alasan nya dan juga kalau aku punya anak lagi Bianca kan kasihan." ucap nya lirih.


"Bianca?" tanya James mengernyit.


"Iya, dia kan juga masih kecil pasti dia mau orang tua nya cuma sayang sama dia kan? Lagi pula aku juga belum ganti waktu sama dia kan? Aku mengabaikan anak itu dulu." ucap nya dengan senyuman tipis.


Tentu saja ia berpikir jika akan berbeda dengan anak kembar yang lahir bersamaan, bahkan anak kembar pun tak mungkin terlepas dari kecemburuan sesama saudara.


Apalagi anak kecil yang kehilangan ibu nya dan saat bertemu kembali serta mulai dekat sang ibu memiliki anak lain nya dan kemungkinan besar rasa sayang nya akan di bagi untuk saudara nya.


"Benar juga..." ucap James lirih yang mengingat putri cantik nya.


"Jadi kau bisa perkirakan waktu sampai kau siap lagi?" tanya nya yang menoleh ke arah gadis itu.


"Mungkin kalau Bianca sudah berumur 7 atau 8 tahun? Tunggu, kenapa kau tanya itu?" Louise mengernyit dan melihat ke arah pria yang bertanya pada nya.


"Aku kan perlu tau kapan aku boleh membuat mu hamil lagi," ucap nya yang mendekat pada gadis itu.


"Dan kita bisa lanjutkan ini kan? Sedikit pura-pura ku rasa tidak akan masalah," sambung nya sekali lagi.


"Memang nya aku sudah bilang akan setuju menikah dengan mu?" tanya Louise pada pria yang hanya tersenyum dengan wajah yang tenang itu.


Humph!


Tak ada jawaban sama sekali untuk pertanyaan yang baru terdengar itu, selain pengutan di bibir yang terasa lembut dan manis serta harum coklat vanila dari lipstick yang di gunakan.


"Lalu kau mau aku menikahi wanita lain?" suara bariton yang terdengar penuh bas itu terdengar sayup di telinga nya.


"Ti..tidak..." jawab Louise lirih sembari memalingkan wajah nya tak melihat ke arah pria yang menatap nya dari dekat itu.


"Kalau begitu lamaran ku di terima kan?" tanya yang tersenyum sembari menggenggam tangan yang sudah terpasang cincin cantik di jari manis itu.


"Eh? Kapan kau?" tanya Louise yang tersentak dan menyadari jika di tangan nya sudah memiliki cincin di jemari manis tangan kiri nya.


James tak menjawab, kali ini ia beranjak mencium dahi gadis yang kebingungan itu.


"Aku akan katakan ulang," ucap nya dengan suara yang lebih rendah dan lebih lembut dari biasa nya.


"Mau menikah dengan ku?" tanya nya yang mengulang lamaran nya setalah memberikan cincin.


Louise membuang tatapan mata nya, telapak tangan yang hangat dan besar itu menggenggam nya.


"La.. lagi pula cincin nya sudah di pa.. pasang kan?" jawab nya yang terlihat gugup.


Pria itu tersenyum, walaupun bukan jawaban 'Ya' namun jawaban itu adalah kata ganti dari satu kata yang ingin ia dengar.


James memeluk tubuh yang lebih pendek sedikit dari nya walau gadis itu termasuk dalam katagori memiliki tubuh yang tinggi.


Aroma harum dari tubuh gadis itu membuat nya semakin merasakan sesuatu yang menggelitik di hati nya.

__ADS_1


Lamaran yang tertunda selama beberapa tahun sampai akhirnya nya ia ucapkan lagi sekarang.


__ADS_2